Dunia memeringati Hari Anti Korupsi pada 9 November ini. Menunjukkan kalau nyatanya korupsi masih jadi momok menakutkan: ancaman serius bagi perdamaian dunia, setelah perang, kelaparan dan penyakit berbahaya.

Korupsi memang sudah terjadi sejak dahulu hingga sekarang—dari zaman mbah moyangmu sampai zaman sekarang di mana teman-temanmu sudah pada banyak yang nyalon jadi anggota dewan.

Untuk mengatasinya, Komisi Pemberantasan Korupsi dibentuk. Tujuannya ya demi membasmi tikus pencuri uang rakyat.

Tapi sebenarnya awak dewe iki sia-sia. Koar-koar anti korupsi terus, bikin lembaga anti korupsi, tapi tanpa sadar awak dewe terus melakukan korupsi. Memang hal kecil, memang sepele, memang agak ngehe, tapi mbok ya diperbaiki.

Bisa jadi, bentuk-bentuk korupsi di bawah ini yang nantinya bisa memicu korupsi level gede.

1. OTW

Time is money, tentu kamu tahu pepatah legendaris tersebut. Sama halnya dengan uang, waktu juga hal berharga. Tidak bisa terulang kembali. Kalau bisa mengulang, saya juga mau mengulang kembali kenangan bersama dia.

Karena tahu perkara waktu adalah sederhana, banyak dari kita terbiasa keliru. Bodo amat, diulur-ulur aja hehe. Bilangnya udah OTW nggak tahunya masih ngendon di kamar.

Ini jelas termasuk korupsi di tingkat paling rendah namun mbencekno.

Apalagi buat kamu yang sudah datang gopoh-gopoh, eh di grup WhatsApp semuanya pada bilang OTW. Lalu semuanya baru datang tiga jam kemudian.

2. Gorengan

Hal ini sering dilakukan sewaktu bocah. Entah karena nggak punya duit atau kekurangan sangu. Nilap gorengan di kantin sudah jadi bagian dari mentalmu. Ambil enam bayar dua, ambil sepuluh bayar satu.

Nah ini tanpa disadari bisa membuatmu keterusan sampai dewasa. Maka dari itu kamu harus menghentikannya.

Pedagang gorengan sedang ramai diserbu pembeli. Ia tentu tak terlalu memikirkan kamu ngambil buanyak, intinya wes pokoknya mbayar. Mereka menaruh prasangka baik.

Sialnya kejahatan cemen ini baru ketahuan setelah gorengan habis dan uang dagangan tak sesuai. Yo sakno se wonge, cuk.

3. Jumatan

Jumatan diakui atau tidak jadi kewajiban yang doyan dihindari laki-laki. Rasanya malas untuk datang duluan. Padahal konon katanya bisa dapat onta.

Jujur memang ngantuk dengerin khotbah. Apalagi Ya Allah, hawane masjid iki uadem. Maka dari itu biasanya kamu sukanya datang muepet, yang penting shalat. Urusan ceramah mah bisa nanti nonton di YouTube.

Bukannya jadi polisi moral sih, hehe. Tapi ‘kan esensi jumatan ada pada saling kumpulnya umat Muslim. Kalau shalat jadi formalitas doang sih ‘kan eman.

4. Kembalian

Biasanya kalau orang tua kita lagi repot pasti nyuruh kita belanja. Nah, ini yang jadi biang kesempatan dalam kesempitan.

Kamu pasti bilang kalau sisanya buat beli mainan atau jajan di sekolah. Ibu-bapak nggak menaruh curiga apalagi kamu memasang muka polos dan tak bersalah.

Nah ini nantinya bisa keterusan. Pas kamu kuliah kamu akan menaikkan sendiri biaya beli bukumu.

Selanjutnya, pemerasan pada orang tua kayaknya lumrah gitu. Mbok ya jujur aja poo. Ngapain sih pakai nilap.

5. Nilai

Pernah ngak kamu ngerjain tugas bareng sama temen. Padahal itu tugas sama-sama tapi hanya segelintir yang rekoso. Orang-orang yang bisanya seperti ini kebanyakan merasa bingung mengerjakan apa atau terlalu malas.

Apalagi di kelompoknya ada anak rajin nan pintar. Sehingga tidak masalah kalau tak ikut campur. Nunut jeneng ae pokoknya. Mereka ujung-ujungnya disuruh memberi modal atau tukang ngumpulin tugas.

Asu. Ini yang dinamakan korupsi nilai.

6. Posesif

Belum jadi pasangan sehidup semati aja kok merasa memiliki? Biasanya pasangan jenis ini adalah orang yang memang tak percaya diri.

Merasa perlu memata-matai yayangnya sepanjang hari. Mengirim pesan sampai yang paling ekstrem menyuruh seseorang memata-matainya. Curiga kalau dia sedang serong dengan orang lain padahal nggak.

Bajingan, cinta ae sampai mbok korupsi!

Kalau kamu belum bisa menjauhi keenam hal tadi, jangan sok-sokan anti korupsi. Benerin diri dulu aja deh!