Kemarin pagi, banyak masyarakat yang dikejutkan dengan peristiwa istri tersangka teroris yang meledakkan diri bersama anaknya. Banyak yang mengecam. Juga banyak yang bertanya-tanya, logika apa yang digunakan sehingga orang mau melakukan bom bunuh diri.

Bom bunuh diri adalah sebuah cara dari sekian banyak metode yang dilakukan dalam perang yang berlangsung asimetris. Biasanya, menjadi senjata kaum yang lebih lemah dalam jumlah, persenjataan, dan penguasaan alat perang.

Bom bunuh diri tidak hanya monopoli di Timur Tengah saja saja, tetapi juga banyak kelompok lain yang menggunakannya. Salah satu contohnya, pembunuhan PM India Rajiv Gandhi di Tamil Nadu India, pada 21 Mei 1991. Pelakunya adalah Thenmozhi Rajaratnam, seorang perempuan anggota kelompok Macan Tamil, Srilanka.

Banyak faktor yang membuat seseorang melaksanakan aksi bom bunuh diri. Namun, yang paling utama, jika bukan satu-satunya, adalah faktor ideologi (baca: agama). Belakangan ini, yang paling banyak menggunakan metode bom bunuh diri (termasuk melibatkan anak-istri) adalah tanzhim jihadi.

Ashabul Uhdud

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata, di dalam kitab shahihnya, Muslim meriwayatkan kisah ‘ashabul uhdud‘. Dalam kisah itu disebutkan bahwa si anak muda memerintah sang raja untuk membunuh dirinya demi tercapainya maslahat kemenangan Dien.

Karena itulah, empat imam madzhab menyatakan kebolehan seorang muslim yang terjun ke barisan orang-orang kafir, yang menurut perkiraan pasti akan terbunuh oleh mereka. Ini jika di dalam apa yang dilakukannya tersebut ada maslahat bagi kaum muslimin.

Nah, apabila demi maslahat jihad, ada orang yang melakukan suatu operasi di mana ia yakin bahwa dengan melakukan operasi itu akan terbunuh, dengan satu catatan:

Bahwa membunuh diri tentu dirasa lebih berat daripada dibunuh oleh orang lain, Sehingga apapun yang mengakibatkan terbunuhnya orang lain demi tercapainya maslahat Dien dan sirnanya bahaya musuh yang merusak Dien tentunya lebih utama untuk diperbolehkan.

Jika maslahat Dien dan sirnanya bahaya musuh tersebut tidak dapat dicapai kecuali dengan operasi itu. Dari kisah itu, dapat disimpulkan beberapa hal.

Pertama, anak muda dalam kisah itu telah membunuh dirinya sendiri. Yaitu dengan perintahnya dan keinginannya, setelah raja gagal membunuhnya dua kali. Ia memberitahukan bagaimana cara membunuh dirinya.

Ia katakan, “Sungguh, kamu tidak akan dapat membunuhku kecuali jika kamu melakukan apa yang aku perintahkan.”

“Apa itu?” tanya sang raja.

Anak muda itu menjawab, ”Kumpulkan semua orang di suatu tanah lapang, salibkan aku pada sebatang pohon, lalu ambillah sebilah anak panah dari kantungku. Letakkan ia di tengah-tengah busur dan ucapkan, ‘Dengan nama Allah ‘Azza Wa Jalla, Rob (dari) anak muda ini’ lalu panahlah aku. Kamu melakukan itu kamu akan dapat membunuhku.”

Kedua, kasus pembunuhan berasal dari cita untuk memenangkan dakwah dan menegakkan hujjah kepada sekalian manusia supaya mereka masuk kepada Dien Allah ‘Azza Wa Jalla. Maka pembunuhan ini pun termasuk suatu aktivitas pemenangan dakwah.

Ia adalah tujuan yang masyru’ (disyariatkan) dan terpuji demi menangnya Dien. Kasus ini lebih luas dari pada sekedar membuat kekacauan di barisan musuh dalam peperangan.

Ketiga, kejadian ini disebutkan dalam Al-Quran dengan pujian dan dalam rangka meneguhkan pendirian orang-orang yang beriman. Disebutkan pula di sana bahwa orang-orang yang beriman lebih memilih dibunuh daripada menjadi kafir.

Dalam menafsirkan ayat ini, Al Qurthubiy rahimahullah berkata, “Para ulama kita bertutur, ‘Allah ‘Azza Wa Jalla memberitahukan kepada orang-orang yang beriman dari umat ini tentang beratnya penganiayaan yang dilakukan terhadap orang-orang yang bertauhid dari umat sebelum mereka, untuk menghibur mereka.

“Dan Nabi Shallalahu ‘Alaihi Wasallam menceritakan kepada mereka kisah anak muda itu supaya mereka bersabar atas segala apa yang mereka hadapi baik itu berupa siksaan kepedihan dan kesulitan-kesulitan.

“Supaya mereka ber-uswah kepada orang seperti anak muda itu dalam bersabar, keteguhan dan kekukuhannya di dalam berpegang kepada kebenaran, serta pengorbanannya dalam usaha memenangkan  dakwah dan mengajak sekalian manusia untuk masuk ke dalam Dien.

“Sementara umurnya masih sangat belia, namun kesabarannya tiada tara. Juga kepada kesabaran rahib untuk berpegang teguh pada kebenaran meski dia digergaji. Pun demikian dengan sekalian manusia yang manakala mereka beriman kepada Allah ‘Azza Wa Jalla Taala serta keimanan mereka menghujam erat di dalam hati, mereka bersabar meski dilemparkan ke dalam api. Mereka tetap tidak bergeming, tidak murtad.”

Ibnu Al ‘Arabiy berkata, “Hukum ini mansukh (terhapus, tidak terpakai) menurut kami.” Namun demikian ada beberapa ulama yang berpendapat, hukum ini tidak mansukh. Sesungguhnya, kesabaran atas semua itu lebih utama bagi siapa saja yang kuat jiwanya.

Kisah ini kemudian dikuatkan dengan serangkaian hukum yang dilontarkan oleh Ibnu Taimiyyah, yang kemudian menjadi rujukan dasar semua pelaku bom bunuh diri. Pertanyaannya adalah mengapa tidak semua upaya serangan bunuh diri itu berhasil meninggikan kalimatullah? Malah merusak tatanan yang ada, dan justru membuat masyarakat menjadi membenci.

Meski harus diakui pula, bahwa serangan bom bunuh diri adalah favorit dari setiap komandan gerilya di lapangan. Karena dengan bermodalkan satu-dua nyawa saja, bisa merenggut nyawa lawan jauh lebih banyak.

Perlakuan Terhadap Bom Bunuh Diri

Hingga saat ini, aksi bom bunuh diri menjadi perdebatan di kalangan ulama. Syaikh  Yusuf Qordhowi bertanya tentang masalah Amaliyah Istisyhadiyah, “Apakah mereka, para pemuda yang bunuh diri (di Palestina) dalam operasi ini, dikategorikan sebagai para syuhada atau bunuh diri, karena mereka membunuh diri dengan tangan-tangan mereka? Apakah yang mereka perbuat itu termasuk menceburkan diri kepada kehancuran?”

Sang doktor menjawab, “Saya katakan di sini bahwa operasi-operasi ini termasuk sebaik-baik macam jihad fi sabilillah dan salah satu macam teror yang dikaitkan, sebagaimana konteks dalam ayat, ‘Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah dan musuhmu…  (QS. 8:60)’

Dan penamaan operasi ini dengan bunuh diri adalah penamaan yang salah dan menyesatkan. Semacam ini adalah perbuatan membela diri dengan motivasi mencari kesyahidan. Dan semacam ini berbeda sekali dengan bunuh diri, dan seseorang yang melakukan perbuatan ini jauh sekali dengan kesengajaan membunuh diri.

Dikarenakan orang yang bunuh diri (Al Muntahir) itu membunuh dirinya disebabkan gejolak dalam dirinya, sedang seorang yang melakukan operasi ini dikarenakan dorongan Dien-nya dan ummatnya. Al Muntahir adalah orang yang kecewa dengan dirinya dan pemberian Allah, sedangkan mujahid adalah orang yang selalu mengharap bertemu Allah dan rahmatNya.

Al Muntahir, adalah orang yang mengakhiri hidup dengan membunuh dirinya, sedangkan seorang mujahid membunuh musuh-musuh Allah dengan senjata modern. Maka jadilah seorang mujahid bom manusia yang siap meledak di tempat dan di waktu tertentu yang akan menghancurkan musuh-musuh Allah. Yang semua itu dilakukan tiada lain untuk mencari kesyahidan di jalan Allah semata.

Berkata Ibnu Hajar, jumhur ulama telah menyatakan tentang seorang diri yang menyerang musuh yang banyak, jika dia melakukannya dengan keberanian dan mengira bahwa hal itu dapat menggentarkan musuh atau dapat mendukung kaum muslimin atau yang lainnya yang termasuk tujuan-tujuan mulia, maka yang seperti itu adalah kebaikan.

Dan selama tidak ada yang demikian, maka tindakan itu tidak diperbolehkan, apalagi kalau tindakan itu justru akan melemahkan kaum mulimin.

Imam Qurthubi menukil perkataan sebagian ahli ilmu dalam masalah seorang diri yang menyerang musuh yang banyak, “Para ulama berbeda pendapat tentang kenekatan seseorang yang menyerang sekumpulan musuh di dalam peperangan.

Al Qosim bin Mukhoimaroh dan Al Qosim bin Muhammad juga Abdul Malik berkata: ‘Tidak mengapa seorang sendirian menyerang barisan musuh yang banyak apabila dia mempunyai kemampuan, dan tentunya dengan niat ikhlas karena Allah. Apabila ia tidak mempunyai kekuatan dan kemampuan maka yang demikian ini adalah kebinasaan.'”

Demikianlah yang diterangkan dalam firman-Nya, “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya “. (QS. 2:207)

Dan berkata Ibnu Khuwaiz Mindan: ”Adalah seseorang yang menyerang sendirian terhadap ratusan musuh atau sejumlah pasukan ataupun terhadap komplotan pencuri, penjajah, dan khowarij, maka di sana ada dua keadaan: Pertama, apabila ia dapat memperkirakan dengan cara tadi dapat membunuh musuh dan berhasil maka seperti itulah yang baik, begitu juga kalau ia dapat memperkirakan akan mengalahkan musuh atau memberikan pengaruh positif bagi kaum muslimin maka itu boleh-boleh saja…

Jika tidak bisa seperti itu (dengan perkiraan tadi) maka makruh (lebih baik tidak dilakukan), karena tujuan operasi berani mati tadi untuk menghindarkan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi kaum muslimin. Dibolehkannya inghimas (pelaku teror datang ke wilayah ‘musuh’) pada orang-orang kafir dan taarudh (pertentangan) untuk mencari kesyahidan, keduanya boleh tanpa ada kemakruhan di dalamnya.”

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: Sesungguhnya perintah si ghulam atau seorang hamba (dalam hadits) untuk membunuh dirinya adalah dalam rangka kemaslahatan Dien semata, oleh karena itu keempat imam telah membolehkan bagi seorang muslim untuk bunuh diri di barisan tentara kufar meskipun ia sudah memprediksikan bahwa dirinya juga akan dibunuh, asal ditujukan untuk kemaslahatan kaum muslimin.

Jumhur ulama juga membolehkan membunuh sebagian kaum muslimin yang dijadikan tameng hidup kaum musyrikin, demi kepentingan kaum muslimin. Kemudian, Ibnu Taimiyah mengomentari: Umat telah bersepakat jika ada orang kafir yang menjadikan kaum muslimin sebagai perisai hidup mereka, dan jika tidak bisa berhasil kecuali dengan membunuh mereka, maka (sesama muslim) boleh menembaki kaum muslimin dengan target utama orang-orang kafir (di belakangnya).

Dan andaikata tidak membahayakan kaum muslimin pun, boleh menembaki mereka.

Apakah boleh melakukan bom syahid dengan ikat pinggang yang dililiti bom atau yang lainnya? Ishom bin Abdul Muhsin Al Humaidan—yang sekolah di Universitas Al Malik Fahd akademi minyak dan pertambangan dalam majalah Al Mujtama—berkata, “Apakah kamu dapatkan perbedaan antara yang dilakukan sahabat Al Barok Radliyallahu’anhu dengan yang dilakukan pejuang intifada?

“Karena tujuannya itu sama dan metodenya pun juga sama, dan istingkarnya (penolakan) juga sama, dan hasilnya pun juga sama, maka sempurnalah rukun-rukun qiyas (analogi)!”

Pelarangan Bom Bunuh Diri

Ulama yang tidak membolehkan, seperti Majelis Haiah Kibarul Ulama dalam pertemuan khususnya di kota Riyadh pada Rabu (13/3/1424 H), telah membahas peristiwa-peristiwa pengeboman yang terjadi di Riyadh Senin sore (11/3/1424 H) yang mengakibatkan pembunuhan, penghancuran, keresahan dan musibah-musibah yang menimpa mayoritas kaum muslimin dan nonmuslim.

Perlu diketahui bahwa syariat Islam datang untuk menjaga 5 pokok yang amat mendasar serta mengharamkan untuk diterjang, yaitu: agama, jiwa, harta, kehormatan, dan akal.

Tiada perselisihan di antara kaum muslimin tentang haramnya menganiaya jiwa orang yang terjaga dalam agama Islam bagi seorang muslim, sehingga tidak boleh dianiaya dan dibunuh tanpa alasan yang benar. Barang siapa yang melanggarnya, niscaya akan memikul dosa besar.

Allah berfirman dalam surat An Nisa ayat 93 dan Al Maidah ayat 32, yang menunjukkan betapa besarnya (dosa) membunuh jiwa tanpa alasan yang benar. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah, kecuali karena tiga perkara: jiwa dengan jiwa, pezina yang sudah menikah, dan orang yang keluar dari agama Islam, meninggalkan jamaah (HR Muttafaq Alaih).

Disebutkan pula hadits lain yang berkenaan dengan kehormatan seorang muslim. Kemudian dinyatakan bahwa dalil-dalil ini dan masih banyak lainnya lagi menunjukkan betapa besar kehormatan darah seorang muslim. Maka haram membunuhnya dengan sebab apapun kecuali apa yang telah dijelaskan oleh nash-nash syar’i.

Karena itulah maka tidak halal bagi seseorang untuk menganiaya seorang muslim tanpa alasan yang dibenarkan agama. Kemudian disebutkan, kisah Usamah bin Zaid  Radliyallahu ‘anhu (HR Al Bukhari no. 4269, 6872 dan Muslim no. 273-274).

Dalam kancah peperangan, tatkala mereka dapat mengejar musuh dan berkesempatan untuk menyudahinya, laki-laki musyrik itu mengucapkan kalimat tauhid tapi Usamah tetap membunuhnya karena ia menduga bahwa orang musyrik tersebut mengucapkan kalimat itu tidak lain hanya untuk menyelamatkan diri.

Sekalipun kondisi dan alasan tersebut, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak menerima alasan Usamah. Hadits ini menunjukkan secara gamblang tentang kehormatan darah seorang muslim dan betapa besar dosa pelanggarnya.

Jika hal ini jelas, maka sesungguhnya apa yang terjadi di Kota Riyadh, adanya peristiwa pengeboman adalah perkara yang tidak dibenarkan oleh agama Islam dan pengharamannya itu datang dari berbagai sisi.

Perbuatan ini merupakan kedzaliman terhadap kehormatan kaum muslimin dan menimbulkan ketakutan (keresahan) bagi orang yang merasakan aman di dalamnya. Merupakan pembunuhan terhadap jiwa yang terjaga dalam syariat Islam. Membuat kerusakan di muka bumi. Perusakan harta benda yang dilindungi.

Majlis Haiah Kibaril Ulama ketika menjelaskan hukum perkara ini (menganjurkan) agar kaum muslimin menjaga diri, agar tidak terjerumus ke dalam keharaman yang membinasakan dan memperingatkan mereka dari tipu daya syetan, karena ia selalu menyertai seorang hamba sehingga menjerumuskannya dalam kehancuran, bisa dengan cara ghuluw (ekstrem), atau bersikap keras dalam beragama—semoga Allah melindungi kita.

Apa yang dilakukan oleh orang yang menempuh perbuatan ini, yakni bunuh diri dengan bom, maka dia tercakup dalam sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Barangsiapa bunuh diri dengan menggunakan sesuatu di dunia, maka dia akan di-adzab dengannya pada hari Kiamat. (HR Abu Awanah dalam mustakhrajnya dari hadits Tsabit bin Adh Dhahhak Radliyallahu ‘anhu)

Dalam shahih Muslim dari Abu Hurairah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, Barangsiapa bunuh diri dengan memakai sepotong besi, maka ia akan memukuli perutnya dengan besi itu dalam neraka jahanam, kekal abadi di dalamnya.

Barangsiapa bunuh diri dengan minum racun, niscaya dia menghirupnya di neraka jahanam kekal di dalamnya.

Barangsiapa bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari gunung, maka kelak dia akan jatuh ke dalam neraka jahanam kekal di dalamnya.

Kemudian, hendaklah semua mengetahui, bahwa umat Islam pada hari ini menderita (malapetaka) karena penguasaan musuh atas mereka dari berbagai sisi. Sedang musuh-musuh itu bergembira dengan tersedianya sarana yang melegalkan mereka untuk menguasai kaum muslimin, merendahkan (martabat) mereka dan mengeruk kekayaan mereka.

Maka barangsiapa membantu musuh-musuh Islam dalam merealisasikan tujuan mereka dan membuka pelabuhan (pangkalan) bagi mereka untuk menindas kaum muslimin dan negeri Islam, maka berarti dia telah menolong musuh untuk melecehkan kaum muslimin dan menguasai negeri mereka. Ini adalah termasuk dosa yang paling besar.

Syaikh M. Sholih Al Utsaimin juga melarang operasi ini. Beliau berkata, “Orang yang meledakkan diri dengan bom dalam sekelompok musuh sama halnya dengan bunuh diri, dan pelakunya akan kekal di neraka. Sebagaimana telah diterangkan Nabi Shalalahu’alaihi Wassalam dalam haditsnya, orang yang bunuh diri dalam suatu hal akan disiksa di neraka kelak dan ia kekal di sana.

Sungguh mengherankan apa yang dilakukan mereka itu, padahal mereka membaca firman Allah taala.

Apakah mereka sadar tetap melakukan itu? Apakah musuh telah menyerang? Apakah banyak tekanan musuh terhadap mereka, seperti yang terjadi di negeri Yahudi (Israel) sekarang ini?

Tanggapan beragam ini menunjukkan bahwa operasi menceburkan diri ke barisan musuh masih diperselisihkan. Adapun yang agak kuat adalah, aktivitas ini tidak mutlak, namun penuh dengan syarat, sehingga para komandan gerilya di lapangan harus berpikir kembali untuk memakai cara suicide bombing saat ini.

Dan yang tidak boleh dilupakan adalah adanya syarat yang cukup memberatkan, yaitu terciptanya Islam yang harum dengan adanya operasi ini. Mengharumkan sebuah ideologi tidak mesti dengan bermurung, karena Islam menjunjung tinggi keramahan, bukan ditegakkan dengan kemarahan.