Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur memang sudah meninggalkan kita semua. Namun, visi beliau —yang dulu kerap dianggap kontroversial—terhadap bangsa Indonesia justru menunjukkan relevansinya sekarang.

Salah satu buktinya adalah kemampuan beliau weruh sakdurunge winarah alias tahu sebelum kejadian terhadap ancaman benturan antar kelompok beragama. Kini sudah jadi masalah kita hari ini.

Dan salah seorang yang konsisten melanjutkan visi Gus Dur adalah Bu Nyai Shinta Nuriyah Wahid, belahan jiwanya yang telah memberinya empat putri, yakni Alissa Qotrunnada Munawaroh (Lissa), Zannuba Arifah Chafsoh (Yenny), Anita Hayatunnufus (Nita), Inayah Wulandari (Ina).

Tanpa sang suami tercinta yang meninggal sejak 2009 itu, Bu Nyai tetap melanjutkan misi Gus Dur untuk terus menyemai harapan bahwa warga Indonesia bisa hidup damai berdampingan dengan beragam suku, bangsa, agama, dan aliran kepercayaan.

Ketua Darus Salam Centre of Education and Peace Institute KH M. Misbahus Salam mengatakan, tanpa banyak orang tahu, Bu Nyai kelahiran Jombang tersebut sampai saat ini tetap aktif blusukan ke berbagai daerah.

Blusukan Bu Shinta sama sekali tidak ada unsur politik seperti yang kerap terjadi pada blusukan di era kekinian.

Blusukan Bu Shinta membawa misi yang sama dengan Gus Dur: mendorong agar kaum marjinal, minoritas, tetap mendapat perlakuan yang sama. “Ibu itu selalu ingin ketemu kaum dhuafa dan lintas agama,” kata Kiai Misbah yang di hampir semua kunjungan Bu Shinta di Jawa Timur selalu mendampingi beliau.

Kiai Misbah sendiri merupakan pengasuh pondok pesantren di Jember sambil menjadi Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Jember. Darus Salam Centre of Education and Peace Institute yang dia pimpin dan dirikan bergerak dalam bidang deradikalisasi.

Kiai asal Jember itu menuturkan, pada bulan puasa kemarin, Bu Shinta tak kurang-kurangnya berkeliling mengajak sahur bareng kaum dhuafa dan lintas agama. Bahkan, sahur keliling itu sudah dilakukan ibu negara keempat tersebut sejak tahun 2000. “Saya tahu persis karena sejak tahun itu saya sudah mendampingi beliau,” katanya.

Semua wilayah Jawa Timur tak ada yang terlewat dari gerakan sahur keliling yang dia lakukan. Sasaran sahur keliling Bu Shinta khas. Yakni kaum dhuafa, lintas agama, hingga anak-anak jalanan. Bu Shinta tak peduli jika warga yang dia ajak sahur beragama Islam atau tidak. Padahal, bisa jadi mereka tidak berpuasa.

Saat menggelar sahur keliling di Malang, misalnya. Bu Shinta kumpul bersama pengamen sahur bareng. “Bahkan, kalau sahur bersamanya digelar di pondok pesantren pun, dia maunya cuma sama santri dhuafa. Jadi yang hadir memang bukan kelompok tertentu tapi berbagai kelompok,” katanya.

Dan dalam setiap pertemuan dengan kaum marjinal tersebut, Bu Shinta selalu menyampaikan pentingnya kemanusiaan dan perdamaian. Juga semangat toleransi hidup berdampingan meski memiliki banyak perbedaan.

“Juga pesan khusus dari beliau untuk menghindari kelompok-kelompok radikal karena mereka hanya akan membuat Indonesia terpecah-belah,” katanya.

Sama seperti Gus Dur, Bu Nyai juga terus menyambung komunikasi dengan kelompok beragama lainnya. Di Jember, kata Kiai Misbah, beliau adalah tokoh yang mendorong agar para kiai berkunjung ke gereja.

Tentu pergi ke gereja bukan untuk beribadah. Kalo denger kayak gini, radikalis dan wahabis pasti langsung framing dan bilang kalo ini adalah bid’ah dholalah. hadehh!

Tujuan para kiai berkunjung ke gereja adalah untuk saling membangun jembatan komunikasi. “Komunikasi dengan pemuka agama lain bagi kami di Jember, dan daerah-daerah lain kini bukan lagi sesuatu yang tabu, sejak Bu Shinta mendorong kami semua,” katanya.

Malah, kata Kiai Misbah, komunikasi lintas agama menjadi sesuatu yang biasa dilakukan. Di Jember, bahkan Kiai Misbah yang menjadi koordinatornya. “Malah kami ketemuannya rutin setiap bulan,” katanya.

Yang membuat Kiai Misbah kagum, semua aktivitas berat itu dilakukan Bu Shinta meski dalam keadaan lumpuh. Ya, Bu Shinta yang lumpuh membuatnya harus duduk di kursi roda.

Tak hanya itu, semua aktivitas berat itu dilakukan di tengah istiqomahnya beliau berpuasa. Bu Shinta, kata Kiai Misbah, berpuasa setiap hari tanpa putus. “Saya tidak tahu sejak kapan. Yang jelas, pada tahun 2000 saat saya mulai mendampingi beliau itu, Bu Nyai sudah berpuasa setiap hari,” katanya.

Artinya, sudah lebih dari dua dekade Bu Shinta berpuasa.

Tak hanya itu, Bu Shinta juga salat tahajud hampir setiap hari. Kiai Misbah menyaksikan sendiri bagaimana Bu Nyai bangun tengah malam untuk bersujud kepada Allah.

Kiai Misbah mengatakan, salah satu karomah Bu Nyai adalah stamina luar biasanya untuk terus berada dalam perjalanan. Sebab, tidak semua tokoh bisa melakukan itu dan konsisten melakukannya selama hampir dua dekade. Bahkan di tengah kondisi fisik yang terbatas dan ibadah yang menguras fisik seperti puasa dan tahajud.

“Logikanya, orang yang berpuasa fisiknya lemah. Apalagi yang setiap tengah malam bangun untuk sholat. Belum lagi kemana-mana harus di kursi roda karena beliau mengalami lumpuh. Tapi stamina beliau seperti tidak habis-habis. Sama sekali tanpa lelah,” kata Kiai Misbah.

Kiai Misbah selalu teringat Gus Dur ketika mendampingi Bu Shinta. Sebab, Gus Dur dulu juga kerap bersilaturahmi ke banyak orang. Hampir tak ada waktu seharipun Gus Dur berdiam santai di rumah. “Itu sama seperti Gus Dur dulu. Dulu Gus Dur juga sering silaturahmi. Sekarang Gus Dur tidak ada, Bu Nyai yang melanjutkan,” katanya.

Kata Kiai Misbah, salah satu ciri wali adalah sering safar alias bepergian. Tujuannya, menyapa dan membina umat. “Itu kelebihan yang luar biasa. Tidak semua tokoh seperti itu. Banyak tokoh yang hanya mau didatangi. Tak mau mendatangi umat. Tidak seperti Bu Nyai,” katanya.

Bersambung