Namanya Syahrul Munif. Usianya 39 tahun. Rambutnya tipis di pinggir, agak tebal di tengah. Khas haircut anak kekinian. Sekilas penampilannya sangat milenial. Apalagi dengan baju kotak-kotak dan jam tangan sporty. Tak ada jenggot. Tak ada celana cingkrang.

“Gara-gara penampilan saya juga, banyak ikhwan (saudara dalam satu jaringan) yang meragukan saya. Katanya penampilan saya kurang meyakinkan. Dianggap bukan ikhwan sungguhan karena saya suka pakai jeans,” kata Syahrul yang saya temui di sebuah tempat nongkrong di Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Senin, 19 November lalu.

Ikut menemui Syahrul, psikolog klinis pendamping korban terorisme Sustriana Saragih, peneliti dari Kreasi Prasasti Perdamaian (KPP) Boaz Simanjuntak, mantan narapidana terorisme yang kini jadi penulis buku Arif Budi Setyawan, serta beberapa aktivis dari Fatayat NU dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Timur.

Penampilan Syahrul memang tak seperti profil para pelaku terorisme lainnya. Dari penampilannya itu juga tak banyak orang tahu bahwa baru dua bulan yang lalu dia menghirup udara bebas. Syahrul mendapat pembebasan bersyarat. Terakhir, dia dipenjara di Lapas Khusus Kelas II B di Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Sejak divonis tiga tahun penjara pada 2017, Syahrul memang berpindah-pindah hotel prodeo. Mulai dari Rutan Mako Brimob, Rutan Polda Metro, LP Nusakambangan, hingga jelang pembebasan bersyaratnya keluar, dia dipindah ke Sentul yang merupakan lapas khusus terpidana terorisme.

Lelaki asal Jember ini dinyatakan bersalah karena berangkat ke Syria pada 2014 silam. Di sana, dia mengikuti pelatihan militer. Tak hanya dasar-dasar pertahanan keamanan saja yang dia jalani tapi juga strategi persenjataan pula.

“Saya tutup mata saja bisa merakit AK47,” katanya menyebut jenis senjata laras panjang buatan arsitek persenjataan Rusia itu.

Keterlibatan Syahrul di ISIS fase-fase awal itu memang cukup dalam. Selain berlatih militer, dia juga ikut dalam deklarasi ISIS sebagai negara kekhalifahan dan mewajibkan muslim di seluruh dunia berbaiat kepada ISIS.

Syahrul juga sempat muncul di video yang diunggah di YouTube. Mengajak umat Islam untuk berjihad di Syria. Bahkan video Syahrul itu mengudara lebih dulu dibanding video Abu Jandal, salah seorang panglima ISIS perekrut militan-militan ke Syria, yang saking kontroversialnya sampai diberitakan Majalah Time—sebelum akhirnya dihapus karena melanggar ketentuan konten.

“Yang ada dalam pikiran saya saat itu hanya untuk memperjuangkan Islam,” katanya.

Syahrul Munif (dua dari kanan depan) saat bertemu aktivis antiterorisme di Malang.

Dari Lembaga Dakwah Kampus Masuk ke Lingkar Radikal

Bagaimana Syahrul Munif bisa berangkat ke Syria?

Syahrul mengakui bahwa semangat untuk memperjuangkan Islam begitu menyala dalam dirinya. Saat berkuliah di Fakultas Hukum, Universitas Merdeka (Unmer) Malang, dia bergabung ke lembaga dakwah kampus (LDK) di perguruan tinggi tersebut. Bahkan, dia sempat menjadi orang nomor satu di LDK.

Karena memiliki pengetahuan yang mumpuni soal hukum, semangat perjuangannya itu lantas dia salurkan di Tim Pengacara Muslim (TPM) cabang Malang. Aktivitasnya di TPM membuatnya dekat dengan organisasi Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) yang waktu itu dipimpin Abu Bakar Ba’asyir.

Baasyir waktu itu memang menjadi pucuk pimpinan MMI sebelum akhirnya dia disebut sebagai pimpinan Jamaah Islamiyah (JI) yang terlibat dalam Bom Bali I pada 2002 silam. Meski hingga sekarang, Ba’asyir menampik kalau dia adalah amir JI.

Interaksi dengan MMI membuatnya bergabung dengan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT). Pemikirannya terhadap radikalisme semakin terbentuk karena dia mulai dipengaruhi oleh buku tulisan Imam Samudera, salah seorang pelaku Bom Bali I. Meski begitu, pikiran kritis Syahrul mulai memuncak.

Syahrul meragukan perjuangan ISIS sekaligus mempertanyakan kembali kenapa dia harus meninggalkan Tanah Air. Akhirnya dia memutuskan kembali pulang ke Indonesia meski dengan segala cara.

Syahrul yang berlatar belakang pergerakan mahasiswa mengalami beberapa kali benturan dengan budaya tanzim (organisasi) gerakan radikal yang beraktivitas secara klandestein tapi dengan ketaatan pada struktur yang sangat kuat.

Beberapa kali dia terlibat perdebatan dengan mereka. Sebab, Syahrul sejatinya berbeda konsep dengan mereka. Dia lebih sepakat penegakan syariat Islam harus dilakukan dengan penyadaran kepada masyarakat. Melalui diskusi dan dialog yang sehat.

Namun, setiap kali mengajukan konsep penerapan syariat kepada jaringan tersebut, sebagian besar tidak nyambung karena mereka hanya menginginkan jalan kekerasan.

“Setiap kali saya cerita soal konsep penerapan syariat Islam, mereka hanya ndoweh (melongo),” kata Syahrul.

Terbujuk Misi Jihad dan Kemanusiaan

Aktivitas Syahrul Munif di JAT tidak awet. Dia sempat vakum beberapa lama sebelum akhirnya teman-temannya di jaringan mengontak lagi. “Mereka meminta saya membantu mengumpulkan sumbangan untuk Syria. Waktu itu ISIS belum terbentuk. Itu tahun 2013 dan saya putuskan untuk membantu,” katanya.

Dari situlah Syahrul berkenalan dengan Salim Mubaroq Atamimi alias Abu Jandal. Pejuang ISIS asal Pasuruan yang menjadi panglima ISIS di Syria. Abu Jandal pula adalah sosok yang memobilisasi ratusan WNI untuk terbang ke Syria. Bahkan, dia juga yang mengkondisikan agar orang-orang Indonesia menetap dan tak pulang dari sana.

Syahrul mengumpulkan hasil sumbangan kepada Abu Jandal sebesar Rp 10 juta. Dengan kemampuan persuasinya, Abu Jandal mengajak Syahrul untuk ikut bergabung. Tak sekadar mengumpulkan sumbangan. “Masak cuma ngumpulin sumbangan saja. Kok nggak berangkat sekalian? Kan Syahrul juga tidak ada halangan syar’i,” katanya.

Bujuk rayu Abu Jandal membuat Syahrul kepincut. Apalagi, dia di sana akan langsung terjun di bumi jihad. Ikut membantu pasukan muslim berperang. Selain itu, di sana juga bakal banyak tugas-tugas kemanusiaan menanti.

“Bismillah saya akhirnya putuskan untuk ikut berangkat ke Syria. Waktu itu Saya urus paspor dan kelengkapan bareng Junaidi. Junaidi sekarang sama seperti saya. Sudah bebas juga. Tapi dia masih belum mau NKRI,” katanya.

Proses keberangkat Syahrul tidak rumit. Dari Indonesia, dia terbang ke Malaysia kemudian ke Turki. Dari Turki, dia dan rombongan melanjutkan perjalanan darat ke Syria. Tiba di sana, Syahrul langsung mendapat pelatihan militer.

Dia juga dijamin dengan gaji dan makanan. Hingga pada 1 Ramadhan 1435 Hijriyah atau 29 Juni 2014, ISIS mendeklarasikan diri sebagai negeri kekhalifahan Islam. Syahrul ada di sana.

“Dalam hati saya ragu. Masak deklarasi seperti ini saja langsung bisa membangun negara? Saya ini lulusan hukum. Saya juga belajar sedikit lah soal tata negara,” katanya.

“Tapi pikiran-pikiran seperti itu tidak saya sampaikan ke rekan-rekan. Nanti dikira saya ragu-ragu. Sedangkan masing-masing orang pegang senjata. Bisa-bisa saya ditembak karena dikira intel atau punya tujuan untuk menggembosi,” imbuhnya.

Mulai Muncul Keraguan

Keraguan-keraguan itulah yang semakin hari semakin menebal. Syahrul Munif meragukan perjuangan ISIS sekaligus mempertanyakan kembali kenapa dia harus meninggalkan Tanah Air. Akhirnya dia memutuskan kembali pulang ke Indonesia meski dengan segala cara.

Termasuk hampir berkelahi dengan para pejuang ISIS yang melarangnya pulang. “Saya baru diizinkan pulang setelah bilang mau bawa anak dan istri ke Syria,” katanya.

Syahrul kembali ke Indonesia setelah 6 bulan di Syria. Tapi keraguannya terhadap ISIS semakin memuncak. Apalagi ada fatwa agar pejuang ISIS di manapun berada untuk berjihad dengan segala kekuatan yang dimiliki.

“Katanya, jihadlah meski dengan pisau dapur. Ini apa-apaan,” kata Syahrul. Apalagi begitu pulang dia kembali ke keluarga yang berlatar belakang Nahdlatul Ulama (NU). “Sudahlah, ikut bapak saja (NU),” kata Syahrul menirukan ayahnya. “Belakangan saya mengakui juga, dengan pengalaman di Syria dan aktivitas-aktivitas selama ini, memang NU yang terbaik,” katanya.

Meskipun begitu, Syahrul tak bisa kembali menjalani hidup normal. Pemerintah mengintensifkan penangkapan pada orang-orang yang berafiliasi dengan ISIS. Pada 2017 dia ditangkap Densus 88 di jalanan kampung yang hanya 100 meter dari rumahnya. Dia dijatuhi hukuman penjara selama 3 tahun.

“Ibu saya langsung pingsan. Tapi saya berusaha tegar. Inilah yang harus saya tanggung atas keputusan yang salah dalam hidup. Allah hendak memberi saya pelajaran,” katanya.