Di tengah hiruk-pikuk dunia perpolitikan dan linimasa media sosial yang memanas, ada dua kelompok insan yang nampaknya tidak terpengaruh. Dan, nampaknya kedua kelompok ini peduli setan sama ribut-ribut politik. Karena, cinta lebih utama daripada ribut-ribut. Uwuuuuuu…

Saya sendiri tidak tahu, kenapa banyak pandangan stereotip terhadap kisah cinta mbak-mbak kebidanan dengan mas-mas kedinasan. Tapi dengan judul akademis di atas, saya kira, marilah kita bacot ngobrol sambil menikmati stereotip.

“Aku tuh suka lihat mas-mas taruna AAU, seragamnya itu loh, ketat begitu, jadi ingin peluk!”

“Saya itu merasa tenang kalau melihat mbak-mbak perawat, seolah lelahnya fisik saya bisa sejenak dibekukan oleh lemah-lembutnya tangan seorang perawat.”

Kira-kira begitu pandangan umum yang saya dapat. Beberapa teman saya juga ada yang memiliki fetish seperti ini. Fetish seragam kedinasan.

Entah kenapa, seragam kedinasan memang selalu ketat, baik di akademi militer, kepolisian, hingga milik dinas-dinas kementerian.

Beberapa sumber menyebut, hal itu dilakukan untuk memotivasi para taruna-taruni untuk menjaga bentuk tubuh mereka. Dan menurut saya itu relevan, karena setahu saya di Akmil Magelang tidak ada warung burjo atau Warmindo, atau giras. Di asrama pun saya kira makanan para taruna-taruni juga terjaga 4 sehat 5 sempurna.

Tolong jangan dibandingkan dengan sobat-sobat kuliahan sing bendino isuk awan pecel, lawuh gorengan, ngombene Es Joshua, ngutang maneh.

Banyaknya unggahan foto studio yang berisi gambar mbak-mbak kebidanan dan mas-mas berseragam ini juga mempengaruhi passing grade sekolah kebidanan dan tentu sekolah tinggi kedinasan. Namun, tak sering juga banyak yang melakukan penipuan dengan modus itu.

Misalnya, beberapa waktu lalu ada berita bahwa seorang lelaki menipu pasangannya dengan mengaku sebagai tentara, eh tibakno rek iku mek seragam tuku nang embongan.

Bayangkan Slur, hanya bermodal seragam, mbak-mbak kebidanan pun jatuh ke pelukan. Sedangkan Anda-Anda yang kuliah bendino gak lulus-lulus, rumus-rumus sampek ditulis nang tembok, nang pupu, nang lengen, eh ternyata juga tidak mampu menggaet satupun mbak-mbak Akbid atau bonita-bonita Stikes Hang Tuah misalnya.

Padahal kan Rek, perawat iku konon bertangan lembut, berhati bidadari, dan senantiasa meneduhkan di kala hujan badai di hatimu. Tapi sayangnya, seragam Anda hanya almamater universitas yang dicuci kalau mau dipakai KKN saja. Nasib, Slur…

Dari sudut pandang mbak-mbak kebidanan, kiranya mas-mas berseragam sendiri memiliki masa depan yang dianggap lebih jelas. Tentu jika dibandingkan mahasiswa-mahasiswa sing mangan ae ngutang. Ojo’o njajan nang Royal, tuku rondo royal ae nyicil!

Mbak-mbak kebidanan yang penyayang itu, butuh seorang yang tegas, dan memiliki tempaan fisik prima. Sebab, seorang penyayang juga butuh pelindung. Dan, kecil juga kemungkinannya jika pelindung yang dimaksud adalah mahasiswa gondrong, muka jerawatan, punggung panuan plus jerawatan, tangan kekar tapi sebelah kanan saja, dan tentu kaki belang di bagian dengkul, karena celana jenas jebolnya itu.

Dari gambaran ini saja, bisa dipastikan, kalau mbak-mbak kebidanan lebih memilih mas-mas berseragam dengan potongan cepak, tinggi tegap, badan berisi, dan sepatu pantofel mengkilap.

Konon juga, ibu-ibu yang punya anak lelaki, umumnya berharap anaknya mendapat jodoh seorang perawat. Hal ini disebabkan karena mungkin para ibu-ibu menilai profesi perawat ini sudah teruji ketahanan dan kinerjanya dalam merawat orang lain. Jadi, anak lelakinya yang mungkin bandel dan nakal itu perlu diikat dengan cinta seorang perawat.

Di pihak perempuan sendiri, orang tua akan cukup tenang dan senang jika anak gadisnya punya pacar seorang dari sekolah kedinasan. Entah itu militer maupun dinas sipil. Pertama, karena jelas setelah pendidikan akan ada ikatan dinas untuk bekerja, jadi say no to nganggur. Dan hal ini benar adanya, karena saya belum pernah kenal ada mas-mas lulusan Akademi Angkatan Udara yang kemudian nganggur dan malah menjual burung aduan, misalnya.

Kedua, orang tua berpikir bahwa jika calon menantunya adalah abdi negara, maka itu bisa menjadi nilai lebih bagi keluarga mereka di mata tetangga. Nah, untuk bagian ini seringkali terjadi, karena kita hidup ini sebenarnya hanya makani egone tonggo. Jadi, eksistensi sebuah keluarga akan menjadi tegas kalau sudah memenuhi atau membungkam cocote tonggo sing gak iso meneng iku.

Ketiga, orang tua juga akan merasa anak puterinya terjamin, sebab sebagai abdi negara lulusan sekolah kedinasan sudah jelas jaminan pensiunnya. Sudah jelas pula kedudukan anak perempuannya di kalangan abdi negara lain. Sebab, relasi di dalam paguyuban ibu-ibu istri tentara, atau kesatuan lainnya itu cukup intens, sampai ada Persit (Persatuan Istri-istri Tentara), atau di kehakiman ada Dharmayukti Karini. Relasi-relasi itu nantinya dapat menentukan arah ekonomi keluarga dalam percaturan prestis dalam keluarga besar saat kumpul Lebaran.

Keempat, cukup klise tapi ini penting bagi para orang tua. Foto keluarga. Ya benar, foto keluarga yang nampak paling semledot adalah foto yang berisi ayah berjas-berdasi, ibu berkebaya, dan anak beserta suaminya berseragam dinas. Sudah pasti dan bukan lagi cerita basi, ruang tamu Anda bakal bikin gentar para debt collector.

Dari semua rasionalisasi di atas, dapat dilihat bahwa hubungan antara mbak-mbak kebidanan dan mas-mas sekolah kedinasan itu memang cocok. Secara oportunis, mereka diciptakan memang untuk bertemu dan hidup bersama. Sebab, buat apa memilih sekolah kedinasan atau kebidanan tapi berakhir dengan mahasiswa-mahasiswi yang jangankan terikat oleh kerja kedinasan, lha wong lepas dari ikatan dosen pembimbing saja beratnya setengah mati.

Apalagi ditanya masa depan, dana pensiun, asuransi jiwa, makanan sehat, dan hal-hal lain yang cuma jadi delusi arek-arek sing kos nang Keputih. Dekat mal, dekat perumahan elit, tapi makan tetap nasi goreng dug-dug.

Jadi, jika Anda merasa iri mengapa mas-mas kedinasan seringkali bisa dengan mudah mendapatkan mbak-mbak kebidanan, atau sebaliknya, Anda iri karena sejawat Anda yang sekolah kebidanan bisa dapat pacar terjamin dari sekolah kedinasan meski kencannya cuma malam minggu doan, maka sudah sewajarnya Anda berdiri di depan kaca dan bertanya,

”Cooook, lapo biyen aku kuliah Teknik Informatika?! Wes gak dadi Steve Jobs, malah no job ngene, gak duwe duit, gak duwe yang!”

Mau tahu caranya mengubah nasib?

Ambil sekolah S-2 di Unhan, Universitas Pertahanan Indonesia.

Bukannya promosi, tapi layak dicoba, siapa tahu berguna buat masa depan hubungan cinta berbasis seragam yang Anda imani. Ehehehhehe…