Tidak ada pisuhan yang lahir dari kemunafikan. Misuh adalah kejujuran yang paling dalam. Tentu, bagi Arek Suroboyo, Malang, dan sekitarnya. Tapi, tidak berarti sama dengan masyarakat di Jawa bagian lain. Konon, cara bertutur Arekan seringkali disalah pahami menjadi suatu hal yang tidak sopan. Zonder tata krama.

Tapi, apakah benar bahwa misuh itu tidak sopan? Tentu tidak mudah menilai misuh-misuh dalam kacamata hitam putih, baik dan buruk. Khususnya, dalam menyoal tata krama orang Jawa. Sebab, tiap daerah punya takaran makiannya masing-masing. Misal, di Wonosobo kita mengenal kata “Sikak”, di Jogja penuh dengan “Pabu” kata walikan untuk “Asu”, “Dagadu” kata walikan untuk “Matamu”, hingga “Bajingan”.

Kata terakhir itu sebetulnya diambil dari sebutan bagi pengemudi cikar, atau kereta sapi. Di Jawa Barat, kata “henceut”, “anying”, “blegug” menjadi makanan sehari-hari para pemuda setempat.

Namun, jika kita mempersempit ruang lingkup antara Jawa Timur dan Jawa Tengah plus Yogyakarta, maka akan terjadi beberapa distorsi. Karena, selain berbeda makian, cara bicara yang jauh berbeda juga berpengaruh.

Masyarakat Jawa Timur kerap diidentikkan dengan sikap blaka sutha atau bicara apa adanya, alias babahno gak ngoros sing penting lhosss. Sedangkan, di beberapa daerah di Jateng dan Jogja, masih ada batasan pembicaraan secara tidak langsung melalui tata krama berbicara.

Itu sebabnya, tidak jarang kalimat makian terhadap kawan yang juga kerap memaki kita bisa berakhir sakit hati.

Konon, pembedaan tata krama berbicara ini mendarah daging sejak beranjaknya kekuasaan Jawa dari era Majapahit menuju era Mataram yang berada lebih ke barat dari pusat kerajaan Majapahit di masa lalu. Kemudian, bekas kerajaan Majapahit pun menjadi bagian yang jauh dari pusat kerajaan Jawa selanjutnya.

Ibarat kata, “cedhak watu, adoh ratu”―dekat dengan batu, jauh dari ratu. Maksudnya, jauh dari nikmatnya kekuasaan dan lebih dekat pada kerasnya realita, yaitu kerja.

Masyarakat yang jauh dari kekuasaan politik, pada umumnya masa bodoh dan lebih memilih menjalani kehidupannya dengan fokus bekerja. Itulah yang kelak menjadi pembeda antara masyarakat di beberapa daerah di Jawa Timur dengan masyarakat di Jawa Tengah dan Jogja.

Di Jawa Timur sendiri, ada pembagian kawasan berdasarkan dialek kebahasaan. Di kawasan Plat AE dan AG, serta sebagian S, sering disebut dengan daerah Mataraman. Yaitu, daerah yang masih dekat dengan kekuasaan dan tata bicara Mataram. Sebab, daerah-daerah tersebut dekat dengan Surakarta sebagai salah satu pusat Mataram Islam di masa lampau.

Daerah ini meliputi Ngawi hingga Kediri. Di mana, penyebutan orang kedua menggunakan kata “kowe” menjadi wajar. Dan tentu, arek-arek nang daerah iku paham tingkatan berbahasa Jawa dari Krama Inggil hingga Ngoko.

Gak koyok arek Malang-Suroboyo sing ambek bapake nyeluk “sampean”, lek gak “pean”. Smh deh.

Seperti halnya Jawa Tengah, pisuhan “asu” dianggap sudah paling kasar di daerah ini. Dan penyebutan “endhas” serta “sirah” harus benar-benar diperhatikan. Jangan sampai terbalik, berbahaya. Ndhas’e pindang ambek sirah’e mumet iku adoh bedane lho yo.

Tidak banyak ungkapan makian yang ada di daerah ini, sebab tentu masyarakatnya nampak lebih sopan dalam bertutur kata. Mungkin ungkapan seperti, “Kowe asu!” atau “Raimu!” sudah paling pol jadi makian sehari-hari, terutama dari para pengendara motor tak berklakson yang sudah siap dengan makian 666 desibel kepada para sopir bus Sumber dan Mira.

Daerah selanjutnya adalah daerah Arekan. Daerah yang mendominasi perbendaharan kata makian di Jawa Timur. Dan bisa dipastikan, para pemuda di daerah ini gemar menonton acara Pojok Kampung di JTV.

Kosakata macam “hohohihe” dan “bronpit” menjadi primadona di kawasan yang umumnya dilewati kendaraan Plat L, N, dan sebagian S. Terkhusus untuk Plat N daerah Malang Raya, ada bahasa Arekan yang dimodifikasi menjadi bahasa Kiwalan, atau walikan.

Tapi, tentu tidak ada kata makian yang bisa dibalik. Sebab, “jancok” tetaplah “jancok” sampai raga menjemput maut.

Tingkatan “jancok” sendiri cukup berbeda. Mengingat umpatan “asu” terhitung masuk kelas noob di kawasan ini, maka beberapa varian “jancok” seringkali hanya dibedakan dengan perubahan huruf atau penurunan tekanan suara.

Di tingkat rendah atau halus, biasa terdengar umpatan “jangkrik” dan “jancik”. Ungkapan imut ini umum dilakukan oleh mbak-mbak yang sedang digebet mas-mas. Sungkan karena hendak memaki lebih keras, nanti cintanya luntur.

Jadi ngomongnya, “Eh jancik, masa aku mbok tinggalin sendiri di Taman Bungkul?! Ntik lek aku disikat arek punk yo’opo? Emange kamu mau a tak tinggal pigi mbek arek punk?”

Pisuhan level UwU ini umumnya tersemat pada lamis-lamisnya pasangan muda Surabaya yang sedang mencari kepastian hati. Mengubah huruf “o” menjadi “i” adalah cara menurunkan kadar kasar dalam umpatan itu.

Di tingkat menengah, “jancok”, “dancok”, atau “diamput” menempati posisi terbanyak. Gak patek’en apa arti dari kata makian itu, sebab ngapain juga kita susah-susah mencari etimologi kata “jancok” kalau perlunya cukup mengutarakan dengan segenap sambatan jiwa raga?

Ungkapan tingkat menengah ini digunakan untuk berbagai kesempatan dan relasi. Mulai dari panggilan persahabatan, seperti, “He, cok mreneo talah, delok’en iki meme anyar uasu gaweane DNK!

Atau bisa dipakai sebagai kata penyesalan seperti, ”Oalah, diamput! Wes tak rewangi ngutang coki-coki nang warunge Pak Supri, tibake kon malah lungo ambek sing ngekeki Cadbury!

Dan tentu, dalam kondisi sial seperti saat musim hujan, di atas motor, basah kuyup, dan tersambar air kubangan, ”O montor dancok, gak iso alon ta yo’opo?! Wes eroh onok sepeda alon-alon, sek disiram ae!

Pisuhan kelas menengah inilah yang paling sering kita dengar di gelanggang ganas 5:15,
di Ahmad Yani yang beringas.

Nah, pada tingkat hell atau chaos, ada pisuhan seperti “mbokneancok” atau sekadar “jancok jaran” atau umpatan bersifat genealogis seperti “jancokan kon sak anak-putumu”. Level umpatan ini umumnya didapati pada pertikaian kelas berat di kampung-kampung Surabaya atau Malang.

Terjadi antara ibu-ibu yang bertengkar akibat ayamnya masuk rumah tetangga, atau anaknya tak sengaja dihukum seseorang yang kacanya pecah tersambar bola. Atau, seorang istri pada suaminya yang kedapatan bermalam di Kembang Kuning.

Selain pada lingkup itu, umpatan level hard of hardness ini juga sering terjadi di kawasan Kenjeran, jika ada pelaku curanmor yang hendak lari melalui Jembatan Suramadu tertangkap. Alamat, babak belur dan telinga panas sebab khotbah singkat berisi makian-makian yang cukup membuat kotoran telinga enggan kembali lagi.

Menariknya, orang-orang Surabaya punya kreativitas tanpa batas urusan menciptakan pisuhan. Kadang malah menggabungkan diksi dari kategori nama hewan, organ tubuh, dengan kata sifat yang dekat dengan makna negatif.

Misal, “untumu garing”, “udelmu bolong”, “ndasmu mlethek”, “telek lintung”, dan sebagainya. Bahkan, istilah “makmu kiper” atau “makmu kemping” pun eksis. Level penggunaannya juga cukup beragam, bisa diucapkan sambil ketawa-ketawa, atau sambil jengkel karena melihat tim favorit kalah di pertandingan.

Selanjutnya, mari beralih ke kawasan dengan dialek lain, yaitu campuran Jawa dan Madura. Blasteran Plat M ini umumnya terdapat di kawasan Plat P atau Besuki dengan beberapa plat N yang berada di timur Malang. Kecuali Banyuwangi bagian Osing.

Di daerah-daerah ini umumnya kita tidak bisa membedakan mana orang yang sedang berbicara biasa dan sedang mengumpat. Pertama, Anda bisa saja tidak paham bahasanya dan kedua, telinga Anda tidak begitu cepat menangkap kata-kata dengan jelas.

Berbeda dengan konsep tingkatan bahasa di Surabaya dan Malang yang kadang peduli setan dengan Krama Inggil, di Madura kasta bahasa juga berlaku. Tentunya, diikuti pula dengan tata krama berbicara.

Hal ini mungkin saja tidak terlepas dari budaya pesantren yang memang banyak di Madura, atau juga sebab keberadaan keraton Sumenep sebagai salah satu titik adat yang penting bagi masyarakat sekitar.

Tidak banyak makian dalam bahasa Madura yang saya tahu, karena hubungan saya dengan rekan-rekan Maduranese hanya sebatas konsumen sate atau pelanggan jasa potong rambut. Umumnya hanya umpatan kasar semacam pokeh na rajek” saja yang umum diketahui.

Mungkin masih banyak kalimat umpatan yang membumi di pelbagai daerah di Jawa Timur. Demikian pula berbagai labelling antara baik buruknya seseorang dilihat dari tata cara bicaranya yang tentu subjektif. Logat, dialek, dan umpatan kedaerahan seperti itu susah sekali untuk dihilangkan dari beberapa orang yang memang tumbuh besar di Jawa Timur.

Tak khayal, beberapa youtuber asing dan artis yang pernah bertumbuh dan besar di Surabaya atau sekitarnya tetap tak kehilangan khas medok dan makian jancok-nya sekalipun sudah tinggal di Jakarta, atau bahkan di luar negeri.

Sapaan seperti “Yo’opo kabare rek?” atau “Wes suwe gak ketemu, sik urip a?” akan tetap mengendap pada lapila lidah mereka yang sudah mencicipi betapa dahsyatnya memori “perpisuhan” di Jawa Timur.

Lantas, salah ta rek misuh iku?

Tanpa memedulikan soal baik buruk atau salah benar, saya kira misuh atau mengumpat adalah cara manusia melampiaskan sense of sambat dan hal-hal negatif pada dirinya dalam saat tertentu. Beberapa orang menggunakan misuh untuk meraih kelegaan atau melepas beban.

Sebagian lain, untuk menunjukkan betapa eratnya persahabatan. Meski, tak jarang pula yang menjadikannya protes dan kemarahan. Seperti sifat benda gas, misuh ada untuk memenuhi ruang. Namun, seperti air, dia juga mengalir, menjadi riak-riak tenang, hingga menjadi jeram yang buas saat menemui patahan di jalur alirannya.

Seperti saat Anda patah hati, lalu misuh-misuh ambek nangis nang jembatan Rolag opo nang danau Unesa Lidah pas bengi-bengi… Tenang, betapapun beratnya hidup, orang Jawa Timur punya “jancok” yang senantiasa ada untuk menggugat ketidakpuasan manusia.

Salah itu relatif, tapi misuh itu pasti.