[Trigger Warning]: Artikel ini memuat cerita pelecehan seksual yang terjadi dalam lingkungan kerja.

Sampai sekarang, ada satu hal yang membuat saya tidak bisa memaafkan diri sendiri. Itu karena suatu peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar saya, sekitar tahun 2016.

Waktu itu, saya masih bekerja di sebuah perusahaan konstruksi asal Belanda, dan saya berkesempatan memimpin sebuah proyek di bilangan Jakarta Utara.

Proyek itu masif, dan merupakan prototip dari sebuah proses konstruksi termutakhir di Indonesia. Kliennya rewel banget, tapi ya pada akhirnya kami bisa memenangkan tender proyek dengan potensi drama dan konflik yang bisa kejadian kapan aja itu.

Saya satu-satunya pekerja perempuan di lapangan―meskipun kalau pas lagi nggak turun ke situs, ya saya kerja di bilik kantor adem ber-AC kayak kalian yang kalau ngantuk dikit bisa nyolong-nyolong ngebuka situs belanja onlen atau main Zuma.

Sehari-hari, saya mesti bertugas di bawah terik matahari 37°-39°C, memanjat scaffolding dan memeriksa tangki-tangki. Tanggung jawab utama saya adalah memimpin tim safety, berdampingan dengan para tenaga ahli senior. Meskipun ada perbedaan usia yang cukup besar, kami bisa dibilang merupakan tim yang kompak.

Adalah Inov, yang bekerja dalam tim kami sebagai admin. Orangnya periang–rada mbanyol juga–pakai jilbab, dan sekalinya ngomong pasti ketauan kalau asli Betawi.

Dengan begitu banyaknya tekanan dalam tim kami, Inov bisa bekerja dengan baik dan sigap. Karena suaranya mak cempreng bin banter, orang-orang sering menyuruh dia mengecilkan volume tiap dia bicara. Kalau enggak, ya mereka yang ngalah nutupin kuping.

Saya nggak bekerja dengan dia secara langsung, meskipun kami bekerja di kontainer kantor yang sama. Inov, Project Manager, dan saya ada di satu ruangan, sedangkan anggota tim yang lain bekerja di ruangan sebelah. Bisa dibilang, kontainer kerja kami memang yang paling sibuk.

Dengan auranya yang menyenangkan, suara lantang, dan aksen Betawi yang kental―hampir semua laki-laki (kisaran usia 35-60 tahun) yang kerja bareng kami pasti gampang ‘suka’ pada Inov. Dalam artian… ngecengin dia, ngejadiin dia objek guyonan saru, atau apa aja yang bisa dijadikan bahan bercandaan buat Inov. Saya nggak mengalami hal yang sama, ya mungkin karena jabatan dan batasan yang saya buat terhadap mereka.

Ketika itu terjadi, apa reaksi Inov? Dia nggak ambil pusing. Ya seringnya dia balas berteriak atau protes pada orang-orang itu, tapi apa sih daya satu perempuan inferior di hadapan para laki-laki paruh baya yang rame-rame ‘menyerang’ secara verbal?

Ujung-ujungnya, protes Inov itu cuma kayak jejeritan biasa yang nggak ada efeknya, dan batasan antara dia dan bapak-bapak itu tetap longgar.

Dulu tuh saya ke lapangan cuma dua kali dalam seminggu. Dan saya cukup puas dengan fakta bahwa mereka menghargai saya di lapangan. Ya mungkin karena selama ini saya nggak pernah nanggepin guyonan cabul mereka juga.

Melihat cara Inov diperlakukan, saya pernah berpikir, “Gimana ya kalau aku kayak Inov? Gimana kalau aku nggak kerja di sini dengan jabatan ini, sering bertingkah konyol, ceria, dan kelihatan nggak masalah dijadiin bahan guyonan cabul?”

Lalu terjadilah peristiwa itu.

Waktu itu, saya sedang berada di kontainer sebelah bersama Inov. Para kontraktor lainnya ada di meja masing-masing. Saya betulan lupa, apa persisnya yang dilakukan Inov waktu itu, tapi dia membungkuk ke salah satu meja karena si bapak yang duduk di sana mau nunjukin sesuatu. Jadi, posisi Inov agak menungging dan memang pantatnya mengarah ke kami semua, sementara saya berdiri di satu sisi ruangan.

Tahu-tahu, Pak S menepok pantat Inov. Dia melakukan itu di depan mata saya, dan saya sontak menarik napas kaget. Para pekerja yang lain juga melihat kejadian itu, dan sepertinya sama kagetnya dengan saya.

Inov sendiri langsung menoleh dengan tampang syok ke si pelaku. Dia mengatakan sesuatu, tapi suaranya seperti kehilangan daya lantang yang biasanya.

Tanpa rasa bersalah, Pak S berjalan ke arah situs, dan saya langsung menghampiri Inov, “Kamu nggak apa-apa?”

Rautnya menjelaskan semua yang dia rasakan: dipermalukan, marah, syok, kehilangan kata-kata.

Dengan kemarahan memuncak, saya langsung keluar dan mendatangi salah satu anak buah saya. Ada dua orang dalam tim safety yang saya tangani―kelakuan mereka nggak jauh beda, suka menggoda Inov dengan guyonan berbau cabul, tapi paling enggak, saya sebagai atasan mereka bisa ngasih tau untuk tidak melakukan hal itu lagi.

Saya duduk di sebelah Y, “Kamu harus bantuin saya melakukan sesuatu buat Inov. Saya nggak mungkin nyamperin bapak itu terus teriak-teriak di muka dia, karena itu bisa mengacaukan tim kita. Kamu laki, dia juga. Kasih tau bahwa apa yang dia lakuin itu salah dan suruh dia minta maaf ke Inov sekarang juga.”

Tahu apa jawaban Y?

“Nggak bisa… Maaf. Itu bakalan ngerusak teamwork dan dia lebih tua dari saya. Dia pikir yang dia lakuin itu biasa aja, dan saya nggak bisa tiba-tiba ngasih tau bahwa itu salah. Nanti dia nggak mau kerja sama kita (tim safety) lagi di proyek ini dan itu nggak bakal bagus buat kita.”

Saya nggak bisa serta-merta melabrak Pak S, karena memang akan mempengaruhi kerja tim saya. Apalagi, sedari awal, kami dikenal sebagai tim “safety yang nyusahin progress proyek”, sehingga kami butuh waktu berbulan-bulan untuk bisa mendekati dan bekerja sama dengan tim insinyur. Ketika pada akhirnya mereka mau mendengarkan, kami harus ekstra hati-hati.

Saya sadar betul bahwa posisi saya membuat urusan personal jadi semakin sulit dibicarakan. Kalau di antara kalian ada yang pernah kerja di proyek dengan bapak-bapak mesum, pasti paham yang saya maksud.

Jadi, saya cuma bisa mendekati Inov lagi, berusaha menghibur dia, “Kamu nggak apa-apa?”

Jawabnya, “Nggak apa-apa,” sambil tersenyum lagi.

“Kamu mau aku ngelaporin kejadian tadi ke tingkat atasan?”

Dia panik, dan buru-buru menggelengkan kepala, “Enggak, enggak, jangan, please. Nggak usah, nggak apa apa. Beneran.”

“Nggak, aku nggak bisa. Liat apa yang dia lakuin ke kamu. Dia bahkan nggak ngerasa bersalah. Ini pelecehan dan kamu harus berani ngebela diri kamu sendiri, bilang ke dia bahwa itu salah.”

Tapi dia cepat-cepat menguasai diri, dan terus berkata bahwa dia baik-baik saja. Dia bersikeras bahwa urusan ini tidak perlu diperpanjang dan saya tidak diperbolehkan melakukan apapun untuk membelanya.

Dan dia benar, semuanya terlihat seperti biasa saja, seolah tidak pernah ada suatu kejadian apapun. Saya nggak habis pikir, kenapa dia bisa selonggar itu dalam membuat batasan dengan pekerja yang lain? Mereka sudah bisa ngobrol lagi dalam hitungan jam, dan Inov seperti sudah melupakan kejadian yang menimpanya.

Saya bingung, kenapa Inov semudah itu memaafkan bapak-bapak mesum ini? Apakah dia merasa yang diperbuat lelaki ini termasuk normal? Dan demi kelancaran proyek, dia melupakan kejadian ini?

Di sisi lain, saya merasa sangat bersalah karena nggak maju untuk membela dia. Saya merasa nggak cukup kuat untuk melawan mereka.

Andai bisa kembali ke masa lalu, saya nggak akan langsung membombardir Pak S dengan pernyataan bahwa tindakan dia itu salah dan tak bisa diterima, tapi saya akan melaporkan insiden itu ke tingkat atasan supaya perusahaan bisa waspada terhadap risiko yang harus diterima para pekerja perempuan.

Mestinya, saya bisa melakukan sesuatu saat itu, dan juga mengedukasi Inov dengan lebih baik soal batasan dan apa yang harus dia lakukan.

Tapi lagi-lagi, ini Indonesia, di mana kita ‘terbiasa’ mengabaikan perilaku cabul hanya karena “Dia lebih tua”, “Saya takut dipecat kalau melaporkan ini”, “Nggak apa, aku udah biasa dilecehkan”, dan sebagainya.

Kalau tulisan ini ditayangkan, saya akan menunjukkannya kepada salah satu teman yang masih bekerja di perusahaan itu untuk meningkatkan kesadaran atas apa yang sudah terjadi. Kami punya ribuan proyek di seluruh Indonesia, dan umumnya posisi admin selalu diisi oleh perempuan. Jangan sampai ada Inov yang lain.

Pelecehan seksual sama sekali nggak lucu, nggak bisa dibenarkan, dan perusahaan seharusnya melek soal ini.

Maaf ya, Inov, seharusnya saya bisa berusaha lebih keras untuk membela kamu…