Seorang teman berjalan sambil dirangkul guru. Wajahnya tersenyum dan kami tidak merasa ada yang aneh. Belakangan, kami mendapatkan kabarnya dengan akurat: si teman menjadi salah satu siswa yang tidak lulus Ujian Nasional (UN) tahun itu.

Sekolah geger. Tidak ada satu orang pun dari kami menduga ia bakal gagal memenuhi nilai minimal yang disyaratkan. Beruntung, ada kesempatan mengulang UN kala itu. Bersama dua orang siswa lain, teman kami akhirnya lulus dengan gemilang.

Kini, UN bakal tinggal kenangan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengeluarkan kebijakan baru bernama Merdeka Belajar. Salah satu poin yang ditawarkan adalah digantikannya UN dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter, yang berarti bahwa UN terakhir bakal digelar di tahun 2020. Di masa depan, UN tak bakal muncul lagi, seperti sebagaimana seharusnya mantan-mantan kekasih kita yang brengsek itu.

Sebagai lulusan SMA beberapa tahun lalu yang mengalami jatuh bangun menghadapi UN, saya jadi tersentuh untuk menuliskan surat perpisahan untuk UN yang “keramat” itu. Begitu-begitu, UN punya history-nya sendiri di hati kita (hah, kita???) masing-masing.

Perjalanan Panjang UN

Bagi orang tua kamu-kamu yang jauh lebih tua bertahun-tahun dari saya, mungkin familiar dengan hal ini: UN lahir sejak tahun 1950 dengan nama yang lebih puitis dan berkesan “semangat juang”, yaitu Ujian Penghabisan. Bisa jadi, nama ini menjadi cikal bakal istilah “titik darah penghabisan” karena ngerjainnya pun grogi setengah mati.

Masuk ke tahun 1965, ujian ini berubah nama jadi Ujian Negara. Bisa jadi, yang mengilhami perubahan nama ini adalah karena ujian ini tidak lagi sebenar-benarnya Ujian Penghabisan. Soalnya, mereka-mereka yang tidak lulus tetap bakal menerima ijazah dan melanjutkan ke sekolah atau perguruan tinggi swasta.

Nama berikutnya berganti menjadi Ujian Sekolah sejak tahun 1972. Artinya, mutu soal bergantung pada mutu sekolah. Pemerintah pusat hanya bertugas menerbitkan pedoman penilaian umum. Kalau kita berhasil survive dari soal-soal jahanam ini, kita bakal dinyatakan Tamat, bukan Lulus. Udah kayak sinetron yang episodenya habis, kan?

Masa-masa UN bernama Ebtanas (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) dimulai pada tahun 1980 sampai 2002. “Hadiah” dari tantangan Ebtanas adalah STTB, alias Surat Tanda Tamat Belajar. Sekilas, namanya terdengar keren. Rasa-rasanya, ia adalah dampak dari menjamurnya singkatan dan akronim pada masa-masa itu, seperti halnya P-4, Repelita, NKK/BKK, hingga SD Inpres.

Di tahun berikutnya, nama ujian akhir ini disebut UAN, alias Ujian Akhir Nasional. Ada tiga mata pelajaran yang diujikan, yaitu matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Untuk bisa lulus sekolah, nilai yang dihasilkan siswa tidak boleh lebih rendah dari 3,0 (tahun 2003) atau 4,0 (tahun 2004), dengan rata-rata UAN dan UAS (Ujian Akhir Sekolah—bukan nama ustadz!) minimal 6,0.

Berikutnya, huruf A dari UAN menghilang dengan mulusnya, persis kayak kamu kalau lagi ghosting. Nama ujian ini berubah jadi UN (Ujian Nasional) dan berperan untuk menentukan kelulusan—setidaknya sampai tahun 2015, di mana UN akhirnya bukan menjadi faktor penentu kelulusan.

Terima Kasih, UN (dan Kenangannya)

UN, meski sempat menjadi momok, justru menjadi peluang bisnis bagi ratusan orang. Menjelang UN, beberapa orang datang dari berbagai bimbel ke sekolah untuk mempromosikan program belajar terbarunya—kebanyakan menjanjikan jaminan uang kembali kalau siswa tidak lulus UN. Ada juga setumpuk buku belajar menghadapi UN yang dijual di toko buku. Ibu saya membelikannya tiga sekaligus untuk saya.

Edan, memang. Tapi mengingat kami semua ingin saya lulus, hal-hal ini jadi wajar.

Saya jadi paham kenapa ada beberapa orang memilih untuk putus dengan pacarnya dengan alasan “ingin fokus ujian”. Ya gimana lagi: pusing banget, kan, mikirin hitungan matematika sambil menebak-nebak kenapa pacar kita tiba-tiba diam seribu bahasa, tapi pasang status nyindir-nyindir melulu di media sosial???

Belajar di bimbel dan belajar overwork itu pun sekarang bakal jadi nggak relate lagi. Dengar-dengar, pengganti UN ini akan diadakan di pertengahan jenjang, misalnya di kelas 4 SD, 8 SMP, dan 11 SMA. Artinya, keseruan dan kengerian menjelang akhir-akhir masa belajar tiap jenjang jadi tak lagi terasa. Sebagai kakak kelas, anak-anak sekolah di tahun 2021 nanti bisa lebih rileks dan selow nyiapin prom atau pesta perpisahan tanpa kepikiran remidial ujian akhir. Mantap.

UN, terima kasih sudah pernah ada. Kamu menyebalkan, tapi berkat kamu, saya jadi tahu bahwa materi pelajaran selama tiga tahun itu bisa saya lahap dalam waktu yang cukup ngebut kalau memang segitu terpaksanya.