Buat generasi yang merasakan tumbuh remaja di tahun 2000-an, rasanya hampir nggak ada yang nggak ambil bagian dari subkultur “anti-kelihatan-bahagia” alias emo. Cirinya: dress code bernuansa hitam, poni yang disampirkan nutupin sebelah mata, foto dari atas tapi kepala nunduk ke bawah, kadang juga ditambahin eyeliner hitam biar kelihatan semakin desperate dan dark-soul. Widih..

Lho, kok saya tahu sampai sedetail itu? Ya iyalah, wong ini pengalaman pribadi!

Playlist musik anak emo, biasanya didominasi band-band beraliran punk dan pop-punk kayak Green Day, Blink 182, Good Charlotte, Fall Out Boy, dan lain-lain. Tapi, pasti selalu ada dua nama yang nggak pernah alpa dari playlist seluruh insan emo sedunia: Saosin dan My Chemical Romance.

Nah, khusus My Chemical Romance atau MCR, band asal Amerika yang di tahun-tahun awal kemunculannya digawangi Gerard Way, Ray Toro, Frank Iero, Mikey Way, James Dewees, dan Matt Pelisier ini seolah menjadi nabi kaum emo yang tiap sabdanya selalu didengarkan.

Dan, selayaknya nabi, Helena adalah ayat pembuka dari sekian wahyu-wahyu yang kelak disampaikan. Sementara The Black Parade adalah kitab suci yang dicari, dan Ghost of You jadi lagu wajib yang mesti diputar di setiap kesempatan—seperti surat Yasin yang wajib dibaca di tiap selamatan.

Ah, kenangan. Di suatu masa, ketika poni lempar masih dilihat sebagai sebuah gaya yang keren. Suatu masa sebelum Babang Tamvan menyerang dan menjadikan gaya poni lempar yang sebelumnya identik dengan anak emo dan emo-punk, jadi gaya yang kalau dilihat bisa bikin orang emo-sian.

Anyway, balik lagi ke MCR. Setelah sekian tahun vakum dan memutuskan berpisah tahun 2013 lalu, tiba-tiba sebuah kabar mengejutkan datang. Dirilis dari akun Twitter resmi mereka, MCR mengumumkan akan mengadakan konser reuni 20 Desember mendatang di Los Angeles. Wow!

Mengingat betapa berpengaruhnya band ini di masa-masa jayanya dulu, di mana penggemarnya bukan cuma mereka yang mendaku sebagai anak emo atau punk, juga mereka yang nggak ngerti apa itu emo dan apa itu punk tapi suka juga sama musiknya MCR, tentu ini jadi kabar yang sudah lama dinantikan!

Tapi, sebuah pertanyaan kemudian muncul: Apakah konser ini jadi pertanda bahwa MCR akan gabung dan bikin album bareng lagi?

Hm, sayangnya, untuk yang satu itu, saya sendiri cukup ragu. Apalagi, kalau mengingat apa yang pernah dikatakan oleh Gerard, sang vokalis sekaligus frontman ketika diwawancarai oleh BBC Radio 1.

Intinya, Gerard mengatakan bahwa alasan pecahnya MCR tahun 2013 lalu adalah, “Karena semuanya sudah tidak lagi menyenangkan. Kami sudah merasa tidak lagi menyenangkan untuk membuat musik bersama-sama.”

Meskipun, Gerard sendiri juga mengatakan bahwa semua itu terjadi karena, “it was time”, “nobody’s fault”, dan “everyone was pretty upset about the split.”

Oleh karena itu, meskipun MCR bakal menggelar reuni, sebaiknya kita nggak usah berharap terlalu jauh. Apalagi sampai saat ini, bisa dibilang tak ada kabar yang secara eksplisit menyebut bahwa konser reuni MCR akan menjadi jalan untuk kembali bermusik bareng-bareng.

Tetapi, bagaimanapun juga, konser reuni MCR ini masih patut dirayakan, terutama oleh kita-kita, generasi band-band-an.

Bersama dengan dark-soul emo dan jiwa pop-punk yang sudah lama mati suri, sudah waktunya semuanya kembali berdiri dan mengembalikan esensi musik rock dan punk: bebas dari berbagai macam synthesizer dan bunyi-bunyian elektro ala Digital Audio Workstation (DAW).

Maka dari itu, mari kita jadikan reuni MCR ini sebagai tonggak bangkitnya kembali tren band dan musik rock di tengah kemonotonan musik-musik elektro dan indie folk yang sudah nggak lagi jadi indie.

WAHAI KAUM EMO SEDUNIA, BERSATULAH!