Sehari setelah saya tiba dari California, teman-teman saya mengajak nongkrong di OTW Foodstreet, sebuah kafe di Makassar. Dinding-dinding kafe itu penuh dengan kutipan-kutipan yang semuanya menggunakan bahasa Inggris. Menunya juga hampir semua berbahasa Inggris.

Saya kok merasa masih seperti di Amerika Serikat… Sempat curiga juga, jangan-jangan cara pesan makanannya harus berbahasa Inggris. Serius. Siapa tahu perkembangan bahasa Inggris sudah sejauh itu setelah kepergian saya selama dua tahun?

Ndilalah, untungnya para pelayan kafe itu masih tetap bisa berbahasa Indonesia, tentu dengan logat Makassar yang kental.

Beberapa hari lalu, saya menginap di sebuah hotel bintang empat di Surabaya. Ketika ke restorannya, saya cuma sekilas melihat menu yang disodorkan pelayan.

“Teh hangat saja.”

“Oh, ‘hot tea’.” Saya tersenyum.

Beberapa tahun belakangan, kafe-kafe tumbuh seperti jamur di kota-kota besar, tak terkecuali di Makassar. Menu-menunya hampir semua berbahasa Inggris, termasuk yang paling familiar, seperti teh susu yang menjadi milk tea. Harganya dua kali lipat lebih mahal dari warung kopi di pinggir jalan dengan menu “teh susu” di papan.

Di restoran dan hotel, menu dengan keterangan “boiled-mixed-vegetable dish with tofu, eggs, and peanut sauce” seharga Rp65.000,- ternyata cuma Rp10.000,- di warung biasa dengan nama “gado-gado”. Tampilan dan isiannya sama plek!

 

Kata Serapan Bahasa Inggris

Sejak tahun 1966, bahasa Inggris mulai gencar masuk ke Indonesia dan perlahan menggeser bahasa Belanda, bahasa yang sering dipakai orang-orang terdidik dan menjadi penanda strata pendidikan.

Sneddon (2003) membandingkan jumlah leksikon yang diambil dari bahasa Inggris. Ia mencatat di tahun 1966 hanya ada 126 kata sifat dan 39 kata kerja. Jumlah ini meroket tajam tahun 1996 dengan 600 kata sifat dan 500 kata kerja yang diserap dari bahasa Inggris.

Tak heran jika kemudian kita sering menemui bahasa campuran atau code-mixing dalam iklan-iklan, baik di media massa maupun elektronik. Sebagaimana saya singgung di awal-awal tulisan ini, penulisan menu atau nama dagang/produk bukan lagi code-mixing tetapi malah bisa jadi sepenuhnya berbahasa Inggris.

Penggunaan code-mixing bahkan full-English tidak dilakukan begitu saja. Para pebisnis atau pelaku usaha, atau katakanlah kaum industrialis (dan kapitalis), akan memanfaatkan segala sumber dan cara untuk mempengaruhi konsumen. Salah satunya adalah pertimbangan bahasa.

Pertimbangan ini, tentu tidak serta merta karena bahasa tersebut digunakan sehari-hari, tetapi justru tidak lepas dari posisi bahasa itu sendiri dan bagaimana mental masyarakat–sebagai target pasar–menyikapi citra bahasa yang dilekatkan.

Kenapa tidak semuanya berbahasa Indonesia saja sebab sudah pasti target pasarnya adalah orang-orang Indonesia yang tentu paham bahasa Indonesia?

Dominasi Code-Mixing

Fenomena menggunakan code-mixing pada iklan-iklan dengan mencampurkan bahasa Inggris dan bahasa lain tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara-negara lain.

Baik negara-negara yang disebut B. Kachru (2005) sebagai Outer Circle (seperti India dan Singapura), maupun Expanding Circle (seperti Thailand dan Indonesia), juga negara-negara Inner Circle (Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan Selandia Baru), biasanya menggunakan bahasa yang sifatnya dominan di negara tersebut.

Sebagai contoh, pada final NBA 2012 yang mempertemukan Miami Heat dan Oklahoma City Thunder, Ford memuat iklan dengan teks berjalan pada layar tivi besar dalam bahasa Spanyol untuk produk terbarunya, New 2013 Escape. Tentu dengan biaya besar.

Mengapa bukan bahasa Inggris saja yang dipakai? Kan NBA adalah salah satu ajang penting dan besar di Amerika Serikat, negara Inner Circle, di mana bahasa Inggris adalah bahasa utama?

Sederhana saja. NBA adalah ajang yang menyedot penonton sangat besar, apalagi saat pertandingan final. Tapi bukan itu alasan utamanya. Anggap saja tidak ada orang lain dari Miami atau Oklahoma yang menonton pertandingan final tersebut, maka tetap saja iklan Ford ini akan menyasar populasi Hispanik.

Sebagai catatan, ada sekitar 20 persen populasi Florida dan 10 persen populasi Oklahoma yang menjadikan bahasa Spanyol sebagai bahasa pertama mereka. Dan angka ini terus saja meningkat.

Meski demikian, studi-studi tentang iklan bilingual alias code-mixing (mencampurkan dua bahasa atau lebih) lebih banyak dilakukan di Expanding Circle.

Bahasa Inggris = Modernitas

Menurut studi-studi yang dilakukan di beberapa negara mencakup Ekuador, Jepang, Meksiko, Rusia, Perancis dan Jerman, penggunaan kosakata bahasa Inggris dalam iklan menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Inggris bertujuan menampilkan citra modern dan kosmopolitan pada sebuah produk atau perusahaan.

Alasan ini juga relevan dengan penggunaan bahasa Inggris dalam iklan-iklan atau nama usaha di Indonesia. Hal tersebut sejalan dengan language attitude (sikap bahasa) orang-orang Indonesia terhadap bahasa Inggris.

Masyarakat kita umumnya menganggap bahasa Inggris sebagai simbol modernitas. Anggapan ini didukung oleh studi yang dilakukan oleh Hassal dkk dari Australia National University dengan mengambil sampel mahasiswa sarjana berusia 18-22 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa mereka memiliki sikap positif.

Bahasa Inggris dianggap keren. Selain untuk mengesankan modernitas, para pelaku industri periklanan juga memilih bahasa Inggris juga untuk menargetkan konsumen yang lebih luas.

Penulisan nama produk atau menu-menu berbahasa Inggris bertujuan menyasar konsumen-konsumen berpendidikan tinggi dan menengah ke atas. Mereka adalah orang-orang yang menerima dan lebih toleran terhadap bahasa Inggris, sehingga bagi mereka penggunaan ini memiliki prestige tersendiri.

Tentu tidak sulit mengesankan bahasa Inggris sebagai simbol gaul dan keren (yang bisa juga diartikan cerdas dan berwawasan) sebab konsumen yang menjadi sasaran juga telah memiliki sikap positif terhadap bahasa Inggris.

Sikap ini tidak terbangun begitu saja. Ia telah terbentuk selama berdekade, lewat media dan tokoh publik sebagai promotor utama, yang akhirnya dikonstruksi dalam masyarakat.

Dekonstruksi Sikap Bahasa

Sebagai seorang pengajar bahasa Inggris yang (kelak) hidup darinya, fenomena ini memang menguntungkan dan bisa saya manfaatkan. Namun, di sisi lain, sebagai seorang alumni jurusan kajian bahasa/linguistik, saya juga melihat bahasa sebagai bagian dari ideologi dan tidak bisa dijadikan satu identitas tunggal.

Dalam beberapa hal, saya setuju dengan Perpres No. 63 Tahun 2019 Tentang Penggunaan Bahasa Indonesia, yang di antaranya mengatur penggunaan bahasa Indonesia pada nama usaha dan produk. Dengan begitu, nama-nama produk yang punya padanan dalam bahasa Indonesia tidak perlu diinggris-inggriskan.

Toh, nama produk itu tidak serta merta lebih bagus hanya karena berbahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Apalagi konstruksi superior-inferior itu sendiri tidak bisa lepas dari sejarah, kekuasaan politik, dan ekonomi Indonesia.

Code-mixing adalah wajar dan tak terhindarkan adanya. Namun, menganggap orang lain atau sebuah hal lebih superior atau lebih inferior hanya karena bahasanya adalah sebuah kekeliruan.