Pada 1969 Michael Heizer, yang saat itu masih menjadi seniman muda, membayangkan sebuah konsep karya instalasi. Ide ini ia temukan di gurun Nevada. Ia membayangkan batu raksasa, seberat 12 Ton, yang ditaruh di antara dua penyangga di bawah tanah.

Heizer sedang membayangkan ihwal imaji manusia purba tentang yang Maha. Sebuah batu besar yang tentu saja berat, mengambang, sebagai simbol kekuatan. Masyarakat purba menjadikan batu-batu raksasa, semacam obelisk, sebagai simbol kekuatan, altar, di mana tuhan bersemayam.

Meski Heizer dikenal sebagai seniman yang jarang sekali menjelaskan makna seninya. Tafsir yang populer semacam ini, Heizer berusaha menghadirkan manusia di bawah kekuatan yang besar itu. “Kira-kira bagaimana melihat dari dekat kekuatan yang besar itu, batu raksasa yang bisa menghancurkanmu jika kau berada di bawahnya,” kira-kira semacam itu.

Batu raksasa yang mengambang itu disebut sebagai “Levitated Mass.”

Pada 1969 belum ada mesin yang bisa mewujudkan konsep seni instalasi Heizer. Baru saat teknologi mesin crane sudah berkembang, pada 2012 ia menghadirkan batu raksasa seberat 340 Ton sebagai seni instalasi di Los Angeles. Pendanaan yang dibutuhkan untuk memindahkan dan meletakkan karya itu mencapai 10 juta dolar, yang seluruhnya didanai sponsor swasta.

Jika anda pernah melihat racauan panjang Alt Right cum Penggemar Teori Konspirasi, Paul Joseph Watson, yang mengejek Modern Art, anda pasti pernah melihat Levitated Mass. Paul Joseph Watson mengkritik Modern Art (meski ngaco sebagai kategorisasi) yang direpresentasikan oleh Michael Heizer, Marcel Duchamp, Jackson Pollock dan Piero Manzoni sebagai seni berak.

Paul Joseph Watson benar. Setidaknya Piero Manzoni, seniman gila itu, mengalengkan tahi yang ia anggap sebagai karya seni. Tapi pada banyak kesempatan, seni modern memang punya masalah terhadap bias pemahaman. Ia privilej yang dimiliki kelompok terbatas dan kerap kali menjadi simbol kelas. Hanya orang-orang berduit, punya akses, dan berpendidikan yang bisa memahaminya.

Di Indonesia perbincangan soal seni jadi hangat karena seni instalasi Getah Getih, karya Joko Avianto. Karya yang dibuat dari bambu itu jadi perbincangan bukan karena mutu karya, konsep, atau bagaimana seni itu diproduksi, melainkan karena permasalahan politik yang ada. Karya itu diprotes dengan banyak alasan, misalnya kenapa karya bambu mencapai setengah miliar? Mengapa bentuknya seperti orang bersenggama? Kenapa pakai bambu, bukankah akan rusak nantinya?

Perdebatan semacam ini sah saja, sebagaimana Paul Joseph Watson, meracau dan protes perihal modern art. Meski bagi saya kritik yang ada justru melahirkan paradox. Belum lama ini kelompok warga menyindir gubernur Jakarta karena membiarkan pasukan oranye, orang amatir untuk membuat karya seni terkait Asian Games.

Pasukan oranye ini dianggap tidak sesuai kapasitas, gelaran olahraga tingkat dunia kok visualnya dibuat sembarangan, tidak hanya itu mereka juga tidak dibayar. Lantas saat seorang seniman, dibayar mahal untuk membuat instalasi seni, kembali diprotes. Kenapa membayar Rp 500 juta hanya buat bambu, katanya. Harus diusut!

Benarkah karya yang dibuat itu hanya sekadar bambu? Bagaimana menilai instalasi berdasarkan media karya alih-alih kreatifitas dan tafsirnya? Kenapa Monalisa mahal sekali? Kan cuma kanvas dan cat. Kenapa karya Agus Suwage mahal sekali kan cuma tengkorak dicat warna emas aja? Kenapa lukisan celeng Djoko Pekik mahal? Bukankah cuma gambar babi hutan saja?

“Yasudah sih mas, namanya juga karya seni, boleh dong dikomentarin.”

Tentu saja. Ngga ada yang salah dari komentar: “Instalasi bambu kok kaya orang senggama?”, “Seni kok dari bambu, mana mahal lagi!”, atau “Wah bambu sampai 500 juta? Perlu diusut!”. Komentar-komentar semacam itu adalah hal yang wajar, sewajar perlunya kurator, kritikus seni rupa, ambil bagian menjelaskan tentang seni yang dimaksud.

Misalnya menjelaskan, kenapa karya dari bambu bisa demikian mahal? Kita bisa menjelaskan, karya seni punya nilai dan punya harga. Dua elemen ini kasualitas tergantung tafsir dari penikmat seni itu sendiri. Misalnya menjelaskan bahwa lukisan milik Sudjojono mengawali inisiatif Djiwo Kethok, lukisan-lukisan pada awal kemerdekaan menjadi arsip sejarah, maka sangat wajar apabila dihargai miliaran, meski harga kanvas dan cat yang ada bisa jadi sangat murah.

Seorang kolektor seni rupa bisa saja mengeluarkan uang 300.000 dolar untuk membeli Tahi Artis buatan Piero Manzoni dan publik bisa berkomentar macam-macam. Apakah tahinya istimewa? Kalengnya istimewa? Tentu tidak, ada hal di luar seni yang mungkin perlu dipahami sebagai apresiasi. Misalnya menghargai bahwa makna itu tak bisa dihargai tapi material bisa. Sebuah karya seni dihargai karena konsep, estetika, dan juga bagaimana produknya dihasilkan.

Lalu jika yang dipermasalahkan dari instalasi Getah Getih adalah kekuatan materialnya, ada banyak yang bisa dijelaskan. Misalnya ada beberapa jenis bambu yang bisa bertahan hingga 25 tahun. Jika ia dicampur dengan bahan kimia tertentu, dirawat rutin, dan dijaga dari tangan jahil manusia, bambu itu bisa bertahan hingga 100 tahun. Jadi untuk karya yang punya rentang waktu semacam itu, Rp 500 juta bisa jadi murah dan mahal tergantung dari mana anda melihat.

Di Indonesia upaya membangun kesadaran seni rupa di ruang publik sebenarnya sangat banyak, tapi ya itu bias kelas. Tidak semua orang bisa mampir ke Museum Macan, meski ada alternatif ke Galeri Nasional. Semua orang bisa melihat instalasi KAWS dan Yayoi Kusama, tapi apa ya harus ke Mall Gandaria dulu?

Pun saat karya seni dihadirkan di ruang publik apresiasi yang ada baru sebatas selfie di depan karya. Apakah ini salah? Ya tidak. Wong pendidikan seni rupa bukan prioritas, galeri seni terbatas, museum juga jarang, maka jika apresiasi yang dimaksud adalah telaah kritis, pembacaan serius, dan penghargaan warga terhadap karya seniman ya masih jauh. Sampai itu tiba, ya kita nikmati upaya Anies Baswedan.

Oh iya, jika anda menganggap instalasi bambu itu mesum, jangan lupa Monas dan Gedung DPR itu terinspirasi dari Lingga dan Yoni. Apa itu? Cari sendiri ya.