Belum lama ini kita membaca dan melihat riuhnya pemberitaan media mainstream, bahwa Presiden Joko Widodo menyatakan fokus dan dukungannya pada pengembangan sumber daya manusia ( SDM ) untuk lima tahun ke depan.

Bahkan, keseriusan itu diejawantakan dalam bentuk lembaga yang khusus mengurusi talenta, baik dalam negeri dan para diaspora.

SDM berkualitas seperti apa yang dibutuhkan? Apakah dapat kita artikan, berkualitas dari segi kompetensi? Tapi, tunggu dulu, mengapa kesannya hanya kompetensi saja yang perlu digelorakan? Mengapa sepertinya pembangunan karakter tidak menjadi kebutuhan? Bukankah, karakter-karakter tertentu, sebut saja, kreatif, jujur, inisiatif, dan berani juga menjadi prinsip dasar manusia dalam menggerakkan misi hidupnya lebih produktif?

Jika perihal pembangunan karakter tersebut diabaikan, maka tidak heran bangsa kita akan menjadi ‘bangsa latah’ dalam hidupnya. Tidak mengejutkan pula, pertumbuhan ekonomi kita masih stagnan dan terlihat sudah terperangkap middle income trap. Tidak bertumbuh pesat karena tiadanya kreativitas dalam membongkar model pembangunan agar lebih progresif.

Pertanyaannya sekarang, karakter seperti apa yang perlu dibangkitkan di tengah shifting inovasi teknologi yang semakin menggila?

Menjadi iconoclast merupakan alternatif karakter yang perlu dibangkitkan dalam diri masyarakat khususnya generasi muda, agar lebih progresif berselancar dalam gelombang pesat inovasi teknologi.

Saatnya kaum muda merdeka menjadi iconoclast.

Inovatif, revolusioner, risk taker adalah ciri khusus para iconoclast. Menggebrak tatanan ekonomi, sosial, politik, yang kini masih lamban dan cenderung dijalankan dengan cara-cara konvensional dan masih menitikberatkan pada kongkalikong anggaran semata dan birokrasi yang rigid.

Padahal, kita sudah sulit mengelak dari tantangan global terkait inovasi teknologi yang kian tidak lazim mendisrupsi bermacam profesi dan value perusahaan mapan, sehingga masif terjadi perampingan SDM.

Tidak heran, pengangguran tersebut menjadi momok bagi pemerintah. Kinerja pemerintah mengurangi pengangguran pun belum terlihat optimal.

Seperti kita tahu, tingkat pengangguran tertinggi dipenuhi oleh lulusan pendidikan vokasi dan sarjana. Paparan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran ada sekitar 7,04 juta pada tahun 2017. Tidak berbeda jauh pada Februari tahun 2018, menelisik data pengangguran berada pada kisaran 5,13 persen atau 6,87 juta jiwa. Hanya menurun sedikit, tahun ini tingkat pengangguran berjumlah sekitar 6,82 juta jiwa.

Celakanya, hattrick pengangguran, masih banyak diisi lulusan pemakai toga. Lebih dari 900 ribu jiwa pada tahun 2019. Jika yang memiliki basis pendidikan lebih baik saja banyak menganggur, bagaimana pula dengan nasib berpendidikan lebih rendah? Hal ini benar-benar sebuah bencana dan anomali pendidikan bagi negara kita.

Pemerintah harus segera bergegas menemukan formula tepat agar kebijakan dapat memberikan efek domino bagi pertumbuhan ekonomi. Kebijakan tersebut akan lebih efektif jika diarahkan pada pengembangkan ekonomi digital dan sangat terkait dukungan ekosistemnya (academic, business, community, government ) agar daya saing lebih mampu berhadapan dengan tantangan global, paling tidak Asia.

Indeks daya saing Indonesia pada tahun 2018 berdasarkan paparan Global Competitiveness Indeks 4.0, hanya berada pada rangking 45 dari 140 negara. Masih kalah pula dari Malaysia (25), Thailand (38). Jangan pula dikomparasi dengan negara Singapura (2).

Karena itu, bangsa kita membutuhkan peran kaum muda untuk mendobraknya dengan gagasan, kerangka, pola yang lebih berani, agility, dan cekatan menangkap peluang. Tanggung jawab tersebut harus direbut dan berada pada pundak puluhan juta kaum muda Indonesia.

Perlu kerja maraton agar mampu bersaing menghadapi tantangan global yang memiliki kompleksitas tinggi dan rentan menjadi bom waktu kemudian merusak tatanan ekonomi dan peradaban bangsa.

Tahun ini, perang dagang Paman Sam dan negara Panda, sepertinya akan terus berlangsung dan telah berdampak pada beberapa negara seperti Jerman, India, Singapura, Vietnam, dan sangat mungkin efek dominonya melanda negara kita.

Belum lagi tantangan bonus demografi pada tahun ini kian signifikan dan akan menuju puncaknya tahun 2030 nanti, di mana populasi kaum muda berubah menjadi 90 hingga 100 juta jiwa, “meledak” menumbuhkan usia produktif muda berusia 15-34 tahun yang merata di seluruh daerah Nusantara.

Generasi muda harus menjadi inisiator, mengembangkan model-model kewirausahaan baru seperti model startup business, social enterprise, ataupun gerakan-gerakan sosial lokal sehingga berdampak signifikan dalam menerobos paradigma pembangunan konvensional di tengah masyarakat yang selama ini terlihat “membeo”, latah, dan masih jawasentris.

Sesungguhnya, DNA kaum muda sudah memiliki modal mental tangguh, bukan mental “tempe”. Sudah bukan zamannya lagi kaum muda hanya ngedumel, apatis terhadap isu-isu nasional maupun internasional, karena jika sebagian besar berpikir demikian, maka bencana sosial, disinformasi, polarisasi akan mudah terjadi karena provokasi murahan, yang ujung-ujungnya akan menghambat, juga sekaligus merusak ekosistem pembangunan.

Pada akhirnya, chaos akan memberikan celah bagi bangsa lain menjajah, menyikat potensi SDA karena kelalaian sekaligus keributan dalam negeri. Pertanyaannya, maukah kita sebagai generasi muda menyaksikan dengan mata kepala sendiri mimpi buruk tersebut terjadi?

Kabar baiknya, sudah terbukti, generasi muda memang memiliki karakter berani, pembaharu dan memiliki intuisi tajam dalam membaca kompas perubahan.

Kita tentu masih ingat, bagaimana begitu kompak dan beraninya segerombolan kaum muda “menculik” Soekarno-Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan daripada menunggu hadiah dari penjajah Jepang. Dan, terbukti keberanian kaum muda menjadi titik balik bangsa kita dalam menentukan sendiri nasib dan perjuangannya tanpa embel-embel pemberian dari bangsa lain.

Generasi muda, sekali lagi harus membuktikan diri menjadi otak dan otot bangsa, agar lebih cerdas, tangguh dan berani  dalam mewujudkan pergerakan transformasi. Bung Hatta pernah berpesan, apa yang dilakukan oleh orang setelah mendengar suatu khotbah, jauh lebih penting dari apa yang dikatakannya tentang khotbah tersebut.

Generasi muda harus menjadi agen perubahan sekaligus berani bersikap risk taker sejati.

Ciptakanlah kesempatan. Belum terlambat, tapi bukan berarti merangkak. Berlari dan melompat, cara ini lebih gesit serta cepat. Bukankah, alam semesta sudah memberikan isyarat, bahwa hanya kecepatan yang mampu mengalahkan gravitasi. Berani?