DNK

Halo, Marshanda?

Halo, Marshanda?

Jin, Setan, Iblis, Memedi, mereka memiliki berbagai macam nama dan sebutan. Karena perbedaan dimensi sebagai tempat tinggal, takdir menggariskan mereka dan kita, manusia, tidak bisa berinteraksi layaknya interaksi dengan binatang atau tanaman. Namun, bukan berarti itu mustahil untuk dilakukan.

Beberapa orang, dengan garis takdir yang cukup sial, memiliki kemampuan untuk melakukan interaksi dengan makhluk dimensi lain. Bahkan, jika orang itu cukup pandai mengolah kesialannya, interaksi itu bisa mendatangkan keuntungan.

Kesampingkan dulu soal moral benar-salah atau baik-buruk. Saya tidak hendak menghakimi siapa-siapa.

Seperti yang masyarakat umum ketahui, Nusantara—lebih-lebih Pulau Jawa, tidak bisa lepas dari cerita-cerita semacam ini. Bandung Bondowoso dengan “pasukannya”, Sangkuriang dengan “krunya”, dan mungkin masih banyak lagi cerita yang tidak tercatat dalam sejarah.

Konon, pengampu Pulau Jawa, Syaikh Subakir, melakukan negosiasi dengan “Raja Jin” penguasa pulau sebelum menyiarkan agama Islam, demi terciptanya masyarakat yang bisa mendiami seluruh pelosok Jawa. Hal ini belum lagi ditambahkan dengan urban legend seperti Si Manis Jembatan Ancol dan kawan-kawannya.

Ini hanya cerita-cerita dari Pulau Jawa, bagaimana dengan cerita dari tujuh belas ribu lebih gugusan pulau-pulau? Hendak menghabiskan berapa lembar kertas, guna menuliskan kisah-kisah mistis dari seluruh pelosok Nusantara?

Namun, kisah yang hendak ditulis ini tidak menghadirkan makhluk-makhluk dari cerita masa lalu. Kisah ini akan diceritakan dengan background masa modern, 2013 lebih tepatnya. Ya, ini pengalaman pribadi saya.

Kurang lebih 6 tahun lalu, agak susah diingat tepatnya bulan dan tanggal berapa, saya pernah mengalami kejadian mistis yang berakibat dendam hingga sekarang. 6 tahun lalu, saya masih aktif sebagai salah seorang personel dari sebuah band indie di Surabaya.

Band indie yang tidak perlu disebutkan namanya ini, melakukan latihan rutin seperti biasa. Lokasinya di rumah seorang teman, di daerah Gu**** Ker******. Lazimnya waktu kami latihan, biasanya dimulai pukul 8 atau 9 malam.

Nampaknya, malam itu agak lain dari biasanya, banyak kawan yang ikut hadir. Termasuk personel band 5 orang dan tuan rumah, malam itu terkumpul 9 orang. Kalian pasti paham apa yang akan dilakukan jika ada 9 orang laki-laki bujangan berkumpul dalam 1 ruangan. Salah seorang kawan nyeletuk,

“Aku pengen mendem. Ayo, rek! Tipis-tipis ae loh, gak usah sing abot-abot.”

Pada akhirnya, dimulailah pesta maksiat di malam itu.

Meski berkecimpung di dunia yang katanya rawan maksiat, saya pribadi tidak pernah menyukai acara minum-minum seperti ini. Selain tidak suka rasanya, saya lebih tidak suka efeknya. Pusing, mual, dan seringnya berakhir dengan muntah. Ugh, I do hate that feeling.

Lagipula, dari sekian banyak dosa yang membawa kenikmatan dunia, kenapa harus menikmatinya saat kesadaranmu sedang tidak berada di tempatnya?

Semakin malam semakin ramai, tumpukan botol mulai bertambah. Sementara kawan-kawan saya bercanda, bernyanyi dan memutar gelas, saya ada di pojokan menonton TV ditemani rokok kretek dan potato chips. Kurang lebih pukul satu malam, saya memutuskan pindah ke kamar belakang.

Sebagai informasi tambahan, di rumah itu ada 4 kamar. 2 di lantai bawah, dan 2 di lantai atas. Yang saya gunakan, kamar belakang di lantai 1.

Saya merebahkan tubuh di kasur. Kamar berukuran kurang lebih 3x3 itu nampak gelap karena hanya mendapat cahaya bohlam dari kamar mandi di arah kiri saya. Sambil menghisap rokok, saya nyalakan televisi. Pintu kamar sengaja tidak saya tutup karena masih ingin mendengar nyanyian kawan-kawan.

Setelah mematikan rokok, saya fokus ke televisi yang hanya menayangkan berita-berita lokal serta internasional. Sampai kemudian, saya tertidur.

Entah berapa lama tertidur, pada akhirnya saya ngelilir, istilah orang Jawa. Sedikit demi sedikit membuka mata, pandangan saya sebar ke sekeliling. Masih sama seperti saat saya masuki tadi. Suara kawan-kawan mengobrol pun masih bisa saya dengar, karena memang jaraknya tak lebih dari 10 meter.

Sejenak, pandangan saya hentikan di pojok kanan. Tepat di depan lemari, seperti ada sosok berdiri menundukkan kepala. Saya belum ngeh karena efek ngelilir. Saya perhatikan baik-baik sosok yang kurang lebih berjarak 5 meter dari tempat saya tidur. Perempuan, rambut hitam pekat sebahu, tingginya mungkin sekitar 160 centi lebih sedikit.

Karena di antara kawan-kawan tidak ada yang perempuan, saya refleks memanggil, “He, kon sopo, Mbak? Pacare koncoku tah? Sing ndi?”. Hening, tidak ada jawaban.

Sedetik kemudian, saya misuh, tepat ketika perempuan di pojokan lemari itu mengangkat kepalanya. “JANCUK, MARSHANDA! HE, REK, IKI SURPRISE OPO KOK ONOK MARSHANDA NANG KAMAR??? HE, CUK!”. Pisuhan saya bercampur dengan pertanyaan.

Mau tidak mau, saya menghampiri si Marshanda ini. Tapi, sepertinya dia membaca niat saya. Dia bergerak terlebih dahulu. Tubuhnya terlihat maju sekian meter, tapi, tak seperti majunya orang berjalan. Dia… seperti… terbang.

Saya sudah mulai merasa peristiwa ini agak di luar kebiasaan. Perempuan, cantik, MARSHANDA, masuk ke kamar yang di dalamnya ada laki-laki tidak jelas, sendirian, pula. Semakin lama, Marshanda ini semakin dekat, dan cahaya bohlam mulai menimpa tubuhnya perlahan.

Semakin maju dia, yang awalnya hanya bagian kaki saja (ya, saya baru sadar jika kakinya tak nampak), semakin banyak pula bagian tubuhnya yang ditimpa cahaya. Akhirnya, tepat di bagian yang seharusnya tak perlu dicahayai inilah saya benar-benar merasa sedang berada dalam masalah.

Marshanda, perempuan cantik berambut sebahu ini, perutnya memiliki lubang sebesar bola sepak.

“Jancuk!”, umpat saya dalam hati. Mencoba berteriak memanggil kawan-kawan di luar kamar, tapi, sepertinya suara saya  tidak mencapai telinga mereka, atau memang tidak ada suara yang keluar dari mulut saya.

Saya hanya bisa mundur perlahan seperti adegan-adegan korban yang hendak dilumat oleh musuh. Semakin maju, lubang di perutnya yang penuh darah dan terlalu menjijikkan untuk dijelaskan itu semakin jelas saya lihat. Dan, sialnya, Marshanda ini tersenyum.

Kawan, percayalah, saat itu saya sama sekali tidak berpikir bahwa Marshanda yang ini termasuk dalam golongan cantik jelita.

Saya merasa adegan ini lama sekali, mungkin ada sekira 10 menit. Ya, 10 menit bersama demit itu waktu yang cukup lama. Walaupun Marshanda ini bertambah maju, anehnya, dia terlihat seperti jalan di tempat. Tidak bertambah 1 meterpun dari tempat saya ketakutan.

Karena Bengok-bengok No Jutsu tidak mempan, akhirnya saya tersadar dan memilih Nyalain Lampu No Jutsu sebagai jurus pamungkas. Dan benar saja, tepat ketika saklar berada di posisi ON, Marshanda lenyap bersama terangnya ruangan kamar.

Saya langsung lompat dan menuju tempat kawan-kawan mengobrol. Dengan kondisi panik, saya konfrontasi 8 orang yang ada di situ, kenapa mereka tidak membalas sahutan saya. Tapi, jawaban mereka sudah saya prediksi. Benar, tidak ada satupun di antara mereka yang mendengar teriakan saya.

Saya mengambil 1 sloki minuman tanpa babibu dan mulai bercerita kejadian yang barusan saya alami. Di detik saya menyudahi cerita, tanpa komando, mereka membereskan segala macam peralatan dan perlengkapan. Tak ada satupun yang tampak mabuk, padahal dari mulutnya bau alkohol tercium sangat kuat.

Kami berpamitan dengan tuan rumah, mengucapkan terima kasih karena sudah menyediakan tempat untuk bernyanyi, mengobrol, dan bermaksiat. Bagaimana dengan tuan rumah sendiri? Ya, malam itu dia tidak mau tidur di rumahnya sendiri. Ia pergi menginap di salah satu rumah kawan yang ada di tongkrongan tadi.

Sampai detik ini, saya masih dendam kepada sosok Marshanda. Jika memang memungkinkan, saya akan menantangnya 1 lawan 1 seperti UFC. Namun, saya tidak memiliki cara, sebab rumah tempat Marshanda bernaung kabarnya dikontrakkan dan sudah memiliki penghuni.

Kita lihat saja, apakah takdir akan mempertemukan saya dengan Marshanda KW.