Urip mung mampir ngombe. Sebuah nasihat bersahaja dari mbah buyut wong jowo yang punya arti sangat jeruuuu..

Hidup hanya sekedar mampir untuk minum. Artinya, hidup di dunia cuma sebentar. Tujuannya hanya mencari bekal (baca: ngombe) untuk perjalanan panjang berikutnya. Nasihat itu mengandung pesan agar kita tidak kebablasan, berlebih-lebihan, sampai lupa kalau umur ini sangat pendek.

Nek seng mikir wong waras rek, nasihat iki nggarai ayem nang ati. Wes talah, ga usah ngoyot-ngoyot lek bengkerengan nang sosial media. Uripmu mek sedilut, goleko konco seng akeh.

Seng pejabat ora perlu korupsi puluhan sampe atusan miliar. Wong mangan bakso sak mangkok 10 ewu ae wes uenake pol. Wes cukup. Lapo kok sampek nyolong-nyolong. Ngrampok.

Buat apa sikut-sikutan memburu jabatan lha wong kabeh iku ora digowo mati. Opo maneh sampai harus siwak-siwakan cuma gara-gara pilkada, pilpres, pileg. Ora usah, ora perlu.

Tapi, belakangan ini nasihat tersebut seperti diartikan salah oleh arek-arek sumpen alias sumbu pendek. Nasihat yang penuh simbolis, filosofis, metaforis, analisis, isis, sumuk itu malah diartikan mentah-mentah.

Urip mung mampir ngombe. Tangi turu ngombe, ketemu kancane ngombe, muleh sekolah ngombe, cangkruk bengi karo ngopi ngombe. Padahal seng diombe miras oplosan. Ga usah ngenteni suwe, mati wes.

Korban terbanyak umurnya antara  belasan sampai 30-an. Jelas sek enom. Dan nasihat urip mung mampir ngombe benar-benar mewujud dengan paripurna dalam situasi yang berbeda. Urip-ngombe-mati.

Di Surabaya saja sudah ada 10 orang yang tewas. Yang paling ramai di Jawa Barat dan Jakarta. Sampai tulisan ini disusun, jumlah total korban 83 orang.

Di Banyuwangi kabarnya ada enam korban. Di Kabupaten Bandung, pemerintah setempat menyatakan bahwa KLB miras oplosan. Di Surabaya, pejabat polisi yang daerahnya kebobolan miras oplosan terancam dipecat.  Ngeri.. Ngeri..

Seng ngombe karo seng gak melok-melok ngombe katut.

Selama 10 tahun, total korban tewas gara-gara miras oplosan mencapai 837 orang. Sekitar 300 di antaranya tewas selama periode 2008–2013. Angka tersebut melonjak tajam sepanjang 2014–2018 dengan jumlah korban mencapai 500 orang.

Dari beberapa kasus yang sudah terjadi, awakdewe iso njupuk pelajaran berharga. Ga usah nyebut nama korban, saaken seng ditinggal. Ono korban seng sakjane slamet saat konco-koncone liane mati kabeh. Lha kok dua hari berikutnya ngombe maneh, terus mati.

Iki lak wes nemen, Rek. Kebacut.  Lek ono masalah iku ngobrolo tah karo dulur-dulurmu. Karo wong tuamu, karo koncomu seng iso dipercoyo. Opo nang pak ustad.

Ada lagi korban yang saat temannya meninggal masih mengantarkan ke kuburan. Melok ngubur. Nang kuburan ngobrol karo kancane liyane seng bareng pesta miras sedino kepungkur. Lha dadak sesuke mati pisan nyusul. Sesuke koncone sijine mau mati pisan.

Efek oplosan memang tidak sama di antara korban. Mungkin karena daya tahan tubuh berbeda atau jumlah minuman yang dikonsumsi tidak sama.

Ada lagi korban yang setelah minum, besoknya masih merasa pusing. Dipikir mabuk biasa, diombeni antimo. Malah mati.

Bisa jadi, kandungan obat antimo dan bahan baku miras kontra di dalam tubuh. Bukannya sembuh, efeknya malah overdosis.

Lha wong seng nyampur minuman ngaku alkohole seng digawe kandungane 95 persen. Dicampur banyu putih. Wes ngono tok. Iku lak gendeng mangan semir. Niat mateni wong. Pingin dadi bartender tapi keblinger.

Dari beberapa pengakuan penggemar minuman oplosan, seringkali mereka mencampur dengan bahan-bahan berbahaya untuk meningkatkan efek high yang dirasakan. Spiritus, obat nyamuk, sampek bensin barang. Motifnya adalah adu nyali kendel-kendelan di antara mereka untuk mencoba campuran atau oplosan yang paling ekstrem.

Duh rek prihatin.

Kendel-kendelan mbok nembak cewek, lek diterimo lak lumayan. Opo kuat-kuatan mangan mie pangsit pedes. Paling efeke mencret. Seng mesti wareg.

Minuman oplosan yang makin digemari ditengarai ada kaitannya dengan kebijakan pemerintah seng ngundakno pajak minuman beralkohol. Regane dadi larang. Sementara itu, permintaan minuman tinggi. Munculah bartender dadakan yang ilmunya nol puthul.

Banyak juga daerah di Indonesia yang melarang penjualan miras Tipe A (alkohol kurang dari 5 persen) di minimarket. Akhirnya, penjualan secara sembunyi-sembunyi marak terjadi. Konsumen pun mencari sumber lain.

Misalnya kebijakan membagikan kondom secara gratis demi mencegah meluasnya penularan HIV/AIDS. Rasanya, pemerintah juga harus mulai memikirkan terobosan. Lebih mudah mengontrol penjualan miras resmi dengan berbagai aturan pembatasan pembelian daripada para penjual secara liar beroperasi di bawah tanah. Sebab, bisnis tersebut ternyata sangat menggiurkan. Untungnya bisa 200 persen.

Fokus pemerintah semestinya tidak lagi melulu soal pemberantasan. Tapi, yang lebih penting adalah edukasi kepada masyarakat.

Terlepas dari itu semua, jatuhnya korban masal akibat oplosan sudah lebih dari cukup dadi pelajaran rek. Mosok sek nekat ae.. Yo nemen koen.

Wes diilingno karo Mas Nur Bayan, pencipta lagu dangdut seng jos kotos-kotos iku lho. Oplosan iso ngrusak pikiran. “Tutupen botolmu, tutupen oplosanmu emanen nyowomu ojo mbok terus-terusne..mergane ora ono gunane”.