Belum juga 10 hari kembali merumput, Robertino Pugliara mengalami cedera lagi.

Gelandang serang Persebaya itu sempat mengalami masalah beberapa pekan lalu dan baru bertanding sebagai pengganti saat timnya melawan Arema di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (6/10).

Sayang, kini dia kembali ke meja perawatan dan bahkan cedera lebih parah. Robertino mengalami patah tulang sekaligus robek otot ligamen kaki kiri setelah mendapat tekel horor.

Jika Anda bertanya siapa pelakunya, Wahyudi Hamisi adalah jawabannya. Ya, pemain Borneo FC itu melakukan tekel mengerikan kepada Robertino saat kedua tim bertemu dalam lanjutan Liga 1 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Sabtu (13/10).

Tayangan ulang insiden itu telah beredar di Instagram dan membuat banyak orang marah. Bagaimana tidak, Wahyudi melakukan tekel seolah-olah sedang mengejar cheetah yang baru saja merebut santapannya.

Anehnya, pemain 21 tahun itu hanya mendapat kartu kuning dari wasit. Yang lebih aneh, kapten Borneo FC Lerby Eliandry masih sempat melakukan protes kepada wasit.

Pemain Borneo itu sebenernya punya mata nggak sih? Masak ada pelanggaran berat di lapangan masih sempat kayak gitu? Di mana letak fairplay-nya, Bung?

Bonek memang tidak ngamuk karena tim kebanggaannya kalah 0-1 setelah Robertino cedera. Tidak ada upaya masuk ke lapangan karena tidak puas dengan hasil pertandingan.

Tapi, Bonek juga bisa bersuara di media sosial. Mereka berusaha menyerang akun Instagram Wahyudi Hamisi yang kemudian digembok karena mungkin terlalu takut menghadapi kenyataan itu.

Bukti bahwa tekel tersebut seharusnya mendapat tindakan keras dari pengadil adalah saat Robertino meringis dan ditandu keluar pada menit ke-15. Dia jelas tak bisa melanjutkan pertandingan dan harus digantikan Rendi Irwan.

Gelandang asal Argentina itu bahkan langsung dilarikan ke rumah sakit saking parah cederanya. Paling gres, Robertino akhirnya menjalani operasi pemasangan pen dan penjahitan otot ligamen di Rumah Sakit Orthopedi dan Traumatologi, Surabaya, Selasa sore (16/10).

Apakah itu sudah cukup?

Robertino juga harus mengakhiri musim Liga 1 lebih cepat karena butuh waktu penyembuhan 6 bulan. Betapa malangnya nasib Robertino, dan betapa kejamnya tindakan Wahyudi.

Dan sekarang, sanksi yang didapat Wahyudi tidak berat. Dia bahkan tidak mendapat larangan bertanding karena cuma menerima kartu kuning. Tapi, Komdis PSSI memang belum mengumumkan hasil sidang untuk pelanggaran itu.

Jika menilik catatan pelanggaran, seharusnya Wahyudi mendapat hukuman berat. Beberapa cerminan insiden bisa jadi tolok ukur untuk menentukannya.

Tengok saja sanksi yang diperoleh bek Persebaya Fandry Imbiri. Dia mendapat kartu merah plus hukuman larangan dua laga hanya karena terlibat adu mulut dan mendorong kapten Mitra Kukar Bayu Pradana.

Apa yang dilakukan Wahyudi sudah diatur dalam pasal 15 dan 48 dan tergolong pelanggaran berat. Dia melakukan pelanggaran serius (serious foul play) yang sudah diatur dalam law of the game.

Mungkin contohnya terlalu condong ke Persebaya. Namun, bagaimana dengan klub lain?

Para pemain Persib mendapat hukuman yang lebih parah karena insiden sepele. Contoh, striker Ezechiel N’Douassel dilarang bermain lima pertandingan karena “menyikut dan sengaja mendorong kepala lawan” saat melawan Persija Jakarta di partai klasik (23/9).

Ya, tidak ada korban cedera dalam insiden yang dialami N’Douassel atau Fandry. Tapi, mereka menerima sanksi yang cukup berat karena ulahnya.

Jika berkiblat pada Eropa, perilaku buruk Wahyudi seharusnya bisa jadi perhatian serius. Sebab, dia telah membuat pemain lain cedera panjang dan mengancam karirnya.

Asosiasi Sepak Bola Jerman pernah menjatuhkan hukuman berat kepada striker Hamburg SV Paolo Guerrero. Karena melakukan tekel keras dalam laga di Bundesliga, dia dilarang bertanding 8 laga pada 2012.

Bergeser ke Inggris, pemain Tottenham Hotspur Dele Alli melewatkan tiga laga di kompetisi Eropa setelah UEFA mengesahkan kartu merah yang diterimanya saat melawan Gent dalam duel Liga Europa musim lalu.

Tapi, Eropa bukanlah tempat kesempurnaan dan keadilan sepak bola. Buktinya, pernah ada tekel horor yang lolos dari jerat sanksi.

Federasi Sepak Bola Inggris (FA) memutuskan untuk tak memberi sanksi kepada pemain Wigan Athletic Callum McManaman atas tekelnya pada bek Newcastle United Massadio Haidara.

Eropa memang bisa jadi rujukan yang pas untuk mengatur sepak bola. Tapi, kalau Sampean menilai saya terlalu kebarat-baratan, mari kita lihat kode disiplin PSSI yang diterbitkan pada 2018.

Apa yang dilakukan Wahyudi sudah diatur dalam pasal 15 dan 48 dan tergolong pelanggaran berat. Dia melakukan pelanggaran serius (serious foul play) yang sudah diatur dalam law of the game.

Hukuman untuk perilaku itu juga tercantum dalam pasal 49. Disebutkan bahwa Wahyudi harus mendapat larangan bertanding dua laga. Jadi, kartu kuning akan menjadi lelucon belaka.

Sekarang, wahai Dis Komdis, keadilan apa yang akan engkau tegakkan untuk kasus seperti ini?