Konflik pemain dan pelatih memang bukan barang baru. Apalagi ini Jose Mourinho gitu lho. Jika kita-kita dulu harus mengonsumsi makanan empat sehat lima sempurna dengan susu, maka yang membuat Mourinho sempurna dalam memamah biak bukan susu. Melainkan konflik.

Dan konflik ini tidak melulu dengan pelatih. Bagi tukang berantem kayak Mourinho, ribut dengan pelatih cuma buat para n00b. Bukan level dia. Bagi dia, konflik adalah kebutuhan hidup. Dan apabila semua pelatih di dunia ini sudah habis, maka dia akan ganti memaki pemain-pemainnya sendiri.

Tenang, Paul Pogba. Kamu nggak sendirian kok.

Konflik dia dengan para pemain bukan lagi sebuah insiden. Malah rutinitas. Bahkan lebih dari itu. Bagian dari teknik kepelatihan dia.

Daftar para pemain yang pernah berkonflik dengan Mourinho seperti bilangan berapapun yang dibagi nol: tak terhingga. Sebut saja mulai dari Chelsea, Inter Milan, Real Madrid, Chelsea lagi, hingga Manchester United.

Di Chelsea dia pernah berantem dengan Joe Cole, di Inter Milan dengan Adriano, di Real Madrid dengan Sergio Ramos bahkan Iker Casillas, di Chelsea (lagi) dengan Romelu Lukaku (sampai akhirnya dia dijual ke Everton), dan kali ini di Manchester United dengan Paul Pogba.

Bagi mereka yang memperhatikan gaya melatih lelaki lulusan ilmu pengetahuan olahraga di Universitas Teknik Lisbon ini, konflik dia dengan para pemain bukan lagi sebuah insiden. Malah rutinitas. Bahkan lebih dari itu. Bagian dari teknik kepelatihan dia.

Saat di edisi perdana melatih Chelsea, pers Inggris menyebut kegemaran Mourinho berkonflik dengan para pelatih, wasit, bahkan pemilik klub sebagai bagian dari strateginya. Sebuah mentalitas yang disebut dengan nama “siege mentality”.

Semacam kesadaran yang ditanamkan kepada para pemain bahwa seluruh dunia membenci Chelsea. Tujuannya, mereka berontak dan bermain habis-habisan sebagai satu kesatuan kelompok yang utuh.

Ibarat banteng yang terluka, ia akan ngosek gak karu-karuan.

Yha, terbukti, Chelsea memang digdaya pada Liga Primer edisi 2004-2005 dan 2005-2006. Mengalahkan dominasi Manchester United yang begitu sempurna saat masih di bawah Sir Alex Ferguson. Meski, di tahun-tahun tersebut, dia juga terlibat konflik dengan para pemainnya.

Begitu juga saat merantau ke Italia. Korban Mourinho kali ini Adriano. Cuma, bedanya, pemain Brasil ini tidak dia hajar habis-habisan di depan publik. Justru dia sirami dengan puja puji. “Anakku kalau main PlayStation pasti memasang Adriano sebagai striker,” katanya kepada media.

Publik tahu bahwa Adriano adalah bakat terbesar Inter dan Brasil saat itu. Fisiknya yang begitu kuat dengan kaki andalan kiri membuatnya tak terkalahkan di kotak penalti. Apalagi kecepatannya berlari yang masa alah!

Tapi semua berkah alam tersebut tak bisa dimanfaatkan karena psikis Adriano yang terganggu. Plus masalah keluarga dan perasaan nyaman yang tidak dia rasakan di tim. Adriano tak bertahan lama. Di musim kedua Mourinho di Nerazzurri itu, Adriano diganti dengan Samuel Eto’o.

Tapi, tak ada yang bisa mengalahkan pertengkaran Mourinho di Real Madrid. Baik orang yang terlibat maupun efek yang ditimbulkan benar-benar luar biasa. Dan media bisa dengan leluasa menyambarnya menjadi santapan yang begitu nikmat.

Tak hanya dengan satu atau dua pemain, Mourinho bahkan menjadi musuh bagi hampir semua pemain. Awalnya, dia berkonflik dengan Sergio Ramos dan Iker Casillas. Belakangan, dua pemain tersebut yang menjadi motor pemberontakan kepada strategi The Special One.

Padahal, menjadikan Iker Casillas sebagai musuh sungguh levelnya seperti secara sukarela rebahan atau bobok siang syantik di guillotine. Bunuh diri.

Casillas tak hanya ikon atau legenda. Dia adalah “orang suci”. Julukan yang disematkan para fanboy kepadanya adalah Saint Iker Casillas. N999eri! Bahkan fanboy Joko Widodo atau Prabowo Subianto pun bakal kalah fanatiknya dengan Mz Casillas.

Tapi dengan segala label yang disematkan kepadanya, Mourinho tak mundur barang selangkah. Pada Januari 2013 dia merekrut kiper Sevilla Diego Lopez sebagai pengganti Casillas. Sungguh langkah yang gercep.

Dan di depan publik Mourinho dengan enteng bilang bahwa kiper yang pengalaman di laga internasional hampir nol itu jauh lebih baik dibanding sang kiper utama. “Seandainya saya mendapatkan Lopez lebih awal,” katanya.

Konflik dengan Casillas tak hanya itu. Sebelumnya, orang yang sama juga mendebat sang entrenador soal pendekatan taktik melawan Barcelona yang “ultra-defensif”.

Lalu drama pun terus terjadi. Real baru saja menelan kekalahan pahit 1-2 di first leg perempat final Copa del Rey 2011-2012 melawan Barcelona ketika dia memarahi Sergio Ramos. Ramos dianggap tidak menjaga bek Barcelona Carlos Puyol yang mencetak gol.

Namun, Casillas juga ikut mbacot. Karena Mourinho marah berhadap-hadapan dengan Ramos, Casillas dari belakang bersuara lantang, “Kalau kamu ingin marah kamu harus mengadap wajah kami semua!”

Transkrip pembicaraan tersebut bocor ke media. Siapa yang membocorkan? Banyak pihak yang menduga itu ulah Casillas.

Perseteruan lain juga terjadi saat formasi Real bocor ke media beberapa jam sebelum melawan Barcelona pada 16 April 2011 di ajang La Liga. Mantan kiper Real Jerzey Dudek menyebut menyebut ada sejumlah pemain yang menjadi pengkhianat. Dia hanya menyebut Esteban Granero tapi Casillas dan Ramos sangat tidak mungkin tak ada dalam daftar.

Tapi yang menarik, manajemen saat itu justru membela Mourinho. Casillas akhirnya dijual. Dia bahkan menyampaikan kepergiannya dari Santiago Bernabeu seorang diri. Tanpa satu pun wakil manajemen. Tak berselang lama, akun Twitter-nya di-unfollow dong sama akun resmi Real.

Dengan menjadi kepo pada daftar pemain yang pernah berkonflik dengan Mourinho, kita jadi tahu bahwa perseteruan itu bersifat “reguler”. Rutin. Bahkan seperti terus diciptakan oleh pelatih 55 tahun tersebut. Media Inggris Independent menyebutnya sebagai “confrontational leadership”. Sebuah gaya kepemimpinan yang bersifat konfrontatif. Berkonflik dengan pemain agar mereka mengamuk dan mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

Tapi, Mr Mourinho, setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya. Pendekatan tersebut terbukti sukses di berbagai tim, bahkan hingga tiga negara. Bertahun-tahun. Tapi jangan lupa, sejak Liga Primer 2014-2015, you tak pernah meraih gelar juara domestik lagi. Manchester United sudah puasa gelar selama dua musim bersama kamu dan musim ini tak ada tanda-tanda mereka bakal meraihnya.

Dan, seperti pola-pola yang pernah terjadi, kali ini Anda kembali berkonflik dengan pemain: Paul Pogba. Tapi, alih-alih membuat dia semakin edan bermain di lapangan, rasanya hasilnya tak seperti pengalaman-pengalaman sebelumnya. 

Bukti yang paling konkret sudah jelas. Manchester United kalah 1-3 dari West Ham United. Dan apakah bapak tahu di mana manajemen berpihak jika urusannya pemain melawan pelatih? Coba tanya Ruud Gullit yang dikudeta Gianluca Vialli dan kawan-kawan pada sebuah sore kelabu di Cobham Training Center lebih dari satu dekade lalu.