Bagaimana rasanya menjadi wartawan di sebuah media yang kematiannya tinggal menunggu waktu —tapi pada saat yang sama harus memberikan liputan terbaik bagi pembaca yang tentu prosesnya tidak murah? 

Enam tahun lalu, wartawan Tabloid Bola Firzie Idris mengungkapkannya waktu kami berada dalam satu penginapan di Kiev, Ukraina, di tengah pergelaran Euro 2012. “Kenapa setiap orang yang saya temui selalu bilang, ‘wah saya dulu suka baca Bola lho’,” katanya.

Firzie memberi penekanan pada kata “dulu” dalam kalimatnya. 

Wartawan Tabloid Bola tersebut berkata seperti itu setelah dengan mata berbinar-binar saya menyalaminya. Batin saya, ini wartawan yang bekerja di tabloid yang (dulu) begitu saya gemari. 

***

Ingatan saya langsung terlempar pada masa-masa SMP. Kurang lebih 1997-1998. Di tengah hari-hari yang membosankan di sekolah, Selasa dan Jumat adalah penyelamat kehidupan.

Di dua hari itu, Tabloid Bola terbit. Jumat sebagai prediksi untuk pertandingan akhir pekan dan Selasa untuk hasil pertandingan plus prediksi laga tengah pekan (jika ada). Yakni, Piala Champions yang berubah menjadi Liga Champions atau kemudian Piala UEFA yang lalu berubah menjadi Europa League.

Jika sekarang pemerintah bingung bagaimana meningkatkan literasi pada anak-anak milenial agar tak melulu tersedot di media sosial, maka anak-anak 1990-an menemukannya pada Tabloid Bola.

Ulasan-ulasan sepak bola di tabloid itulah yang membuat kami, anak-anak tak punya masa depan yang berangkat sekolah dengan buku tulis dilipat dan ditaruh di saku belakang, menjadi semangat membaca.

Kami yang di kelas menyembunyikan gitar, yang tiap jam istirahat lompat pagar buat bolos demi main biliar, jadi punya semangat baca.

Ya, sihir Tabloid Bola sedahsyat itu. Padahal, saya tidak tinggal di kota besar. Lamongan memang hanya 1,5 jam dari Surabaya (naik mobil pribadi). Tapi, Kota Soto pada era 1990-an adalah kota kecil dengan landmark utama berupa tambak-tambak di tengah kota.

Anak-anak sekarang boleh membaca apa yang mereka suka demi meningkatkan literasi. Di era 1990-an saat kami tumbuh, membaca Tabloid Bola tidak dianggap sebagai peningkatan minat baca. Karena literasi berarti membaca buku-buku pelajaran, membaca Tabloid Bola dianggap sebagai aktivitas unfaedah.

Membawa Bola di sekolah tak lantas menjadikan kamu pahlawan aksara. Sebaliknya, kamu pasti tukang begadang, tukang totoan, dan gemar mengukir nama-nama pemain bola di bangku kayu yang usianya lebih tua ketimbang mbahmu.

Kadang-kadang juga dengan Tipp-Ex, yang berebutan tempat dengan nama-nama cewek yang jadi high school babes pada masa itu.

Tuduhan-tuduhan itu tidak semuanya salah, tapi banyak benarnya.

Para pembaca Tabloid Bola di SMP saya harus sembunyi di pojok ruangan agar tidak ketahuan guru. Dan kalau edisinya sudah lewat, halaman-halaman tersebut dimutilasi secara masal. Bagian favorit kemudian ditempelkan di sisi dalam bangku.

Yang paling favorit tentu para pemain Serie A yang hebat. Sebut saja Alessandro Del Piero, Zinedine Zidane, Youri Djorkaeff, Christian Vieri, dan Ronaldo (Brasil). Beberapa artikel pemain seperti Patrik Berger dan Christophe Dugarry juga kami tempelkan sebelum mereka akhirnya menjadi flop terbesar dalam sejarah sepak bola.

Salah satu yang menarik dan unik dari ulasan Tabloid Bola, selain komik Si Gundul, adalah judul-judul yang tak biasa. Singkat dan cenderung kaya makna. Misalnya, saat menulis tentang Gianfranco Zola, bintang baru Chelsea.

Bola menurunkan artikel dengan judul Sudahlah, Zola. Saya lupa-lupa ingat isi artikel tersebut. Tapi, saking senangnya dengan tulisan itu, satu halaman penuh saya tempelkan di dinding kamar. Dan ibu saya, saking uniknya judul tersebut, sampai bertanya, “Memangnya Zola itu siapa dan kenapa dia?”

Tentu ibu saya bukan penggemar sepak bola. Namun, demi judul yang ntaps itu, bliyo sampai ikut terseret dalam tulisannya.

Memang, tak semua konten Tabloid Bola kami baca. Kami, sekali lagi anak-anak tak punya masa depan yang tiap Sabtu malam bukannya ngapel malah main bola gelap-gelapan di lapangan voli depan rumah, cuma membaca bagian sepak bola. Baik internasional maupun nasional.

Tapi, begitu konten bola tuntas, mau tak mau kami juga membaca bagian depan. Begitulah kami jadi akrab dengan nama-nama seperti Ian Situmorang hingga Sumohadi Marsis, meski tak pernah tahu dan tak mau tahu siapa mereka dan apa hubungannya dengan tabloid kesukaan kami itu.

Jadi, dulu Bapak masih SMP kok bisa beli Tabloid Bola cemmana ceritanya?

Asal usul Tabloid Bola yang bisa saya beli secara rutin itu dimulai dari kemampuan saya memprediksi pertandingan. Yha, kemudian disalurkan pada tempat yang tepat: taruhan. Jangan salah, prediksi pertandingan tidak gampang.

Orang cenderung menjagokan tim besar. Padahal, pada saat yang sama, mereka juga harus mampu menguantifikasi perlawanan tim-tim gurem.

Kemenangan reguler hampir setiap pekan membuat saya memperlakukan taruhan seperti bisnis kecil-kecilan. Prediksi pertandingan harus disuplai data yang akurat. Dan itu dengan membaca Bola. Biayanya ditopang dari hasil taruhan.

Seorang teman berbisik sebelum Lazio bertanding: “Kalau Juan Sebastian Veron main, aku jagokan Lazio.”

Dari mana kami tahu Veron bermain? Yha dari Bola

Bola yang tak beranjak dari tempatnya mau tak mau tidak lagi menjadi spesial. Saingannya bukan lagi sesama tabloid, melainkan seluruh media. 

Jawa Pos waktu itu memang punya banyak konten tentang sepak bola. Namun, prediksi, jumlah halaman, dan kualitas ulasannya masih jauh di bawah Bola. Jawa Pos dibaca cuma untuk tahu hasil pertandingan dan grafis proses terjadinya gol yang hmm ciamik gets.

Ayolah, dulu belum ada livescore. Hasil pertandingan paling cepat dini hari itu harus diketahui lewat radio Suzana. Menunggu Jawa Pos besoknya terlalu lama karena ini soal harga diri toto calcio.

Tapi, Bola waktu itu bukan satu-satunya. Begitu saya beranjak SMA pada 1999-2000, muncullah Sportif dengan pionir pandit sepak bola di Indonesia: M. Kusnaeni.

Sportif menjadi alternatif Bola karena bentuknya yang ringkas seukuran buku TTS (jadi gak perlu kucing-kucingan dengan Pak Guru dan Bu Guru), halaman-halaman dengan kertas art paper, dan analisis yang berbeda.

Pada era yang kurang lebih sama, ada pula Tabloid GO yang merupakan singkatan dari Gema Olahraga. Tapi, GO cuma bagus di judul yang menggelora. Tulisannya tidak sebaik Bola. Kualitas cetakannya pun jibrat.

Saya lupa kapan terakhir membaca Bola. Belakangan, kualitas Bola disaingi Jawa Pos yang juga jor-joran di pemberitaan dan penugasan wartawan ke luar negeri. Kekhasan Bola yang saya sampaikan di awal tulisan lama-lama juga ditiru para kompetitor.

Bola yang tak beranjak dari tempatnya mau tak mau tidak lagi menjadi spesial. Saingannya bukan lagi sesama tabloid, melainkan seluruh media. Dengan popularitasnya yang terus meroket, semua media ingin mengapitalisasi sepak bola. Dan Bola rasanya tetap berada di tempatnya berdiri.

Saya ingat, sekitar tahun 2009, ada wacana bahwa Bola akan terbit harian. Ini sudah ada contoh suksesnya, seperti La Gazzetta dello Sport di Italia.

Namun, Bola yang sudah menjelma menjadi raksasa rupanya jadi tidak lincah. Susah bergerak. Tak bisa merespons situasi. Mereka kalah cepat oleh Top Skor yang langsung tancap gas jadi harian olahraga pertama.

Bola juga rasanya kurang penyegaran. Skuadnya tak mengalami peremajaan. Padahal, seperti yang dibilang Harvey Dent dalam The Dark Knight, awalnya kamu menjadi pengusung perubahan. Tapi, lama-lama kamu menjadi tiran.

Seorang teman wartawan, yang karena kepakaran luar biasa di sepak bola nasional, sempat ditawari untuk masuk ke sana. Gajinya tak terlalu tinggi. Hanya sedikit lebih besar dari gaji yang dia terima di koran.

Saya yang waktu itu sempat jadi tempat curhatnya sempat nggumun. Untuk wartawan dengan pengalaman luar biasa seperti dia, kok Bola terkesan tidak terlalu antusias. Padahal, gaji adalah ukuran komitmen perusahaan terhadap pegawainya. 

Perlu diketahui, mencari pakar sepak bola nasional jauh lebih susah daripada sepak bola internasional. Sebab, tidak ada tradisi penulisan dan penyimpanan dokumen. Dan rekan saya ini rajin mencatat, menulis buku, bahkan mengukirnya jelas-jelas dalam benaknya yang hampir tanpa pikun itu.

***

“Kenapa ada kata ‘dulu’ itu lho? Kenapa nggak sampai sekarang masih suka baca Bola,” kata Firzie Idris.

Perbincangan itu tak tuntas karena ditelan kesibukan meniti satu demi satu kereta bawah tanah di Kiev, Donetsk, Kharkiv, hingga Lviv.

Enam tahun kemudian, Firzie yang kini jadi managing editor Tabloid Bola menyebutkan perpisahan itu di akun Twitter-nya. “Dua terbitan terakhir Tabloid Bola pada Jumat (19/10) dan Selasa (23/10) merupakan publikasi pamitan kami,” katanya.

Saya kira Mas Firzie enam tahun lalu sudah memperkirakan bahwa hari ini akan datang. Atau mungkin jauh sebelumnya.