Jika Anda penggemar film aksi yang berisi balapan liar dan kecelakaan jalanan, maka Kertosono bisa jadi real life site untuk kegemaran Anda. Kalau tidak percaya, coba saja masukkan kata “kecelakaan” dan “Kertosono” di laman peramban, maka hasilnya tidak jauh dari bus Eka, Mira, Sumber Selamat, dan Sugeng Rahayu.

Bahkan, kasus terbaru adalah di bilangan Tol Kertosono-Wilangan yang juga belum lama beroperasi. Mantap bukan? Tapi tunggu dulu, ternyata wilayah Nganjuk coret ini juga menyimpan secercah harapan bagi penikmat kuliner yang kebetulan melintas di ruas utama jalanan Nganjuk-Mengkreng menuju Mojokerto atau Surabaya.

Tempatnya tidak jauh dari perempatan mbulet setelah SMA 1 Kertosono, boso gaule iku Smaker. Di utara perempatan sampai ke arah pasar, Anda akan disajikan suasana kota masa lampau, rasanya seperti tahun 1987 alias lawas poool!

Saban malam, khalayak lawas Kertosono berkumpul di Kertosono Square yang baru rampung beberapa bulan sebelum Lebaran 2019. Konon tempat ini semacam alun-alun mini dengan air mancur dan dikelilingi warung-warung makan yang gak karuan wernone. Kawasan wewarungan ini memanjang ke utara sampai jembatan kereta api baru. Primadona di kawasan Times Square-nya

Kertosono ini adalah berbagai macam bebaksoan. Maka dari itu sektor ini saya namakan Sektor Bakso. Tercatat ada setidaknya tiga warung bakso yang cukup mbahenol di kawasan ini. Semua bakso di kawasan ini bergenre bakso Solo, alias tidak banyak printhilan seperti bakso Malangan.

Mulai dari selatan air mancur, ada Bakso Pak Sabar yang legendado plus tahu telornya yang patut Anda coba. Mencampur tahu telor dengan pentol bakso adalah pilihan wareg yang cukup psychedelic tapi layak dicoba.

Berjalan ke arah utara, kita akan menemukan Bakso Mama di kanan jalan. Bakso ini juga cukup legendaris di kalangan Plat S dan AG. Bakso asal Denanyar, Jombang ini memiliki cabang di banyak tempat, tapi di Malang gak wani bukak hehehehe.

Bakso Mama ini cukup terjangkau dari segi harga―sewelas ewuan―dan cukup mengenyangkan meski hanya berisi bakso medium, bakso besar, bakso goreng, gorengan, bihun, dan tahu.

Kemudian, kita beranjak beberapa meter dari Bakso Mama, dan berjumpa dengan Bakso Urat Blitar Indah (BUBI). Jika Anda warga Jawa Timur sejati yang gak isoan mangan lek gak ambek karbohidrat, maka BUBI adalah jawabannya. Di tempat ini tersedia lontong seukuran botol tanggung sing iso gae mbandem maling.

Isian dari bakso di BUBI ini sangat klasik karena lek koen tuku bakso yo isine pentol bakso, alias yo wes pentol tok. Hanya ada bihun sebagai teman pentol, agar tidak kosong hidup Anda. Meskipun nampak sepi, sajian bakso ini berisi dua macam bakso yaitu bakso urat dan bakso halus. Selain itu juga ada beberapa side dish seperti pangsit goreng dan telur puyuh yang bisa ditambahkan, asal bayar. Harga bakso di tempat ini ada pada kisaran Rp10 ribu.

Lebih ke utara lagi dari Sektor Bebaksoan hingga masuk ke area pasar dan stasiun, kita akan bertemu dengan situasi jalan yang lebih lengang, tapi berjubel di trotoar. Kawasan ini, saya namakan Sektor Pecel-Pecelan.

Sektor ini adalah sektor favorit saya ketika rehat selagi mudik, baik ke arah timur maupun barat. Suasananya lengang dan waktu seperti berhenti di tahun 1987. Bangunan-bangunan lawas bekas pasar dan juga stasiun, gereja hingga bekas-bekas perang masa revolusi masih banyak ditemui di sini, contohnya penjual gorengan yang masih memakai obor untuk penerangannya.

Jika Anda mudik ke arah Surabaya tanpa lewat tol, maka sangat disarankan mampir ke kawasan ini untuk meniriskan stress akibat keramaian duniawi dan toxic society. Melipir ke Sektor Pecel-pecelan adalah cara saya untuk menumbuhkan kesabaran setelah berkilo-kilometer dihajar sopir-sopir bus pembalap liar, mulai dari Gendingan sampai Wilangan.

Di Sektor Pecel-Pecelan, Anda dapat menjumpai setidaknya dua warung pecel yang buka malam hingga pagi, dan juga warung STMJ. Ketiganya terletak saling berdekatan, gak koyok koen ambek dek e.

Pertama, ada Warung Pecel Garuda 1 yang buka di depan sebuah ruko. Warung ini buka setelah maghrib dan tidak pernah sepi. Anda akan dilayani dengan cekatan oleh satu kompi ibu-ibu yang tangannya cemat-cemut menumpuk isian pecel. Tipe pecel di sini adalah campuran dari pecel Madiun dan Nganjuk, atau bahkan Kediri, jika Anda pasrah dibubuhi tumpang di atas pecel Anda.

Isian lauk di tempat ini cukup beragam, meski tidak banyak. Ada sate ayam, dadar jagung, tempe, telur mata sapi, dan beberapa jenis yang tidak terdefinisi. Bahkan, setelan default pecel di tempat ini bukan hanya tambahan rempeyek tapi juga kerupuk bunder. Jadi, pincukan Anda akan amber-amber dan Anda dijamin wareg jiwa raga. Harga pecel setelan default di tempat ini berada di kisaran pitung ewu repes.

Di samping Pecel Garuda 1 yang sangat nasionalis ini, terdapatlah wedangan STMJ Arema Online. Entah kenapa cacaknya ini menamakan lapaknya begitu. Kan saya jadi ngira itu warnet…

Anda bisa menikmati pecel sambal menambah asupan susu murni di tempat ini, harganya Rp10 ribu untuk susu madu jahe tanpa telur, dan tambah rongewu lek gae endog. Empat sehat lima sempurna in a row, Reeek!

Kemudian, kita menyeberang ke sebuah gang di depan STMJ tadi dan mendapati the legendado of pecel di Kertosono. Warung lesehan yang cukup besar dan tidak pernah sepi ini adalah Warung Pecel Tumpang Barokah. Tingkat keramaiannya sudah hampir sama dengan tingkat keramaian ziarah wali.

Harga pecel setelan default di sini hanya mangewu repes. Pilihan lauknya yang membuat Anda bisa habis 10-15 ribu sekali makan. Setidaknya, ada minimal lima jenis sate, lima jenis lauk gorengan, dan beberapa hal lagi yang susah saya definisikan, lha lapo tak pikir, yo mending tak pangan a.

Warung ini juga buka malam hari hingga pagi buta, sehingga cocok untuk anda-anda yang hendak pulang ke Surabaya dan sekitarnya tapi wes muneg-muneg ambek kelakuane sopir bus.

Setidaknya, ada beberapa alasan yang membuat mudik lewat tol itu kurang berkesan dan hanya positif di bagian efisiensi waktu. Pertama, tidak ada makanan legendaris di sana. Kedua, tidak bisa berhenti sak karepmu. Dan ketiga, kadang Anda pasti merindukan momen-momen di mana nyawa Anda hanya sedekat moncong bus Sumber atau Mira-Eka.

Bahkan bagi mereka Busmania fanatik, konon naik Sumber dan duduk di belakang sopir adalah cara untuk menggerus kebuntuan hidup. Tapi di Kertosono, Anda bisa berkontemplasi mengenai hidup dan perut dalam waktu yang tidak terburu-buru. Dunia boleh cepat berlalu, waktu boleh tegas lekas berlari, tapi di Kertosono tidak ada rindu yang ditunggu, karena mbadhog adalah jawaban dari semua gulanamu.