“… isun yoro sing kepingin koyo banyu lan lengo. Han isun arepi, koyo lintang lan ulan. Biso keloronan, isun lan riko sesandingan. Urip bebarengan, sampek mandege jaman, lir pedhoting banyu…”

Petikan syair di atas adalah lagu berbahasa Osing yang dipopulerkan oleh Catur Arum. Saya dengarkan pertama kali saat sedang membunuh waktu di jajaran bangku reyot bus Tjipto jurusan Jember-Banyuwangi, saat SBY masih jadi presiden periode pertama.

Lagu itu kemudian terngiang dalam telinga saya dan semakin dalam membius para penumpang bus yang dimabukkan jalanan khas Gunung Gumitir, gerbang menuju Banyuwangi dari arah barat. Dan selama tiga tahun sejak saat itu, saya tinggal di ibukota Rock-Dangdut Jawa Timur ini.

Jauh sebelum Azwar Anas menjadi bupati mengalahkan Emillia Contessa dan lantas tancap gas membangun pariwisata di sana, Banyuwangi sudah lebih dulu tancap gas di dunia hiburan melalui dangdut koplo.

Seingat saya, di acara Stasiun Dangdut milik JTV Rek terdapat beberapa nama biduanita yang berasal dari Banyuwangi. Sebut saja Lilis Darawangi, atau di kancah lokal sendiri waktu itu dirajai Renny Farida dengan lagu fenomenal “Bokong Semok”, hingga the rising star Ratna Antika yang gigs-nya tidak pernah sepi, baik di Lapangan Maron, Genteng atau di AIL, Rogojampi.

Meskipun pamor para penyanyi begitu gemilang, Emillia Contessa yang penyanyi itu justru kalah suara di tahun 2010. Mungkin masyarakat tahu bahwa bernyanyilah jika kamu penyanyi, bukan berpolitik dan berubah murahan seperti AD hehehe…

Tiga tahun di Banyuwangi, tidak ada hal yang terkenang selain lagu-lagu dangdut koplo berbahasa Osing yang kini kian melebarkan sayapnya bersama deretan penyanyi muda seperti Demy dan banyak lainnya.

Namun, ketika saya kembali ke sana setelah revolusi pariwisata arahan Azwar Anas, saya paham kenapa tiga tahun yang lampau itu terasa kosong, ya karena isun sing bisa golek badhogan (dalam Bahasa Osing, “sing” berarti “tidak”).

Dan tahukah Anda bahwa kata “sawi” dalam bahasa setempat berarti “singkong”? Ya, jadi kalau Anda membeli mie ayam dengan sawi, penjualnya akan menertawakan Anda, karena dikira minta mie ayam pakai lauk singkong. Maka dari itu mari membicarakan makanan yang tidak memakai kata itu, hehehe…


Sego Tempong

Pertama, makanan utama dan terwajib dari jelajah kuliner di Bumi Blambangan ini adalah Sego Tempong. Makanan ini adalah ucapan selamat datang yang pas bagi mereka yang senantiasa kaliren dan keluwen sak wayah-wayah. Bagi lidah Jawa Timur yang terbiasa pedas, Sego Tempong adalah titik klimaks kepedasan lidah orang Jawa Timur, setara julidnya netijen.

Sego Tempong umumnya menggunakan isian daun kemangi, dan berbagai macam sayur rebus/kukus, mulai labu, bayam, hingga terong. Pilihan lauk yang disajikan pun sebenarnya umum diketahui, seperti tempe, tahu, ayam goreng, ikan asin, atau lele goreng. Saya sendiri lebih suka dengan bakwan jagung.

Apa yang membedakan makanan ini dari sego pecel yang juga kaya akan sayuran rebus? Jawabannya adalah sambal. Ya, sambal nasi tempong pada umumnya memiliki cita rasa lautan, alias ada perisa udang atau teri, dengan tambahan khas aroma daun jeruk pecel yang kuat.

Rasa sambal ini sangat liar dan ngampleng, sehingga cocok dimakan sambal menonton gigs dangdut koplo di sekitaran Pantai Boom, Banyuwangi. Rasa pedas yang hardcore membuat sambal Sego Tempong menjadi satu dari sedikit hal pedas yang kemudian manis dalam ingatan.

Menemukan warung Sego Tempong juga tidak susah, karena sudah banyak orang yang menjual makanan ini di sekitar Pasar Sri Tanjung hingga menuju arah Kawah Ijen. Paling yang membedakan adalah rasa sambal dari masing-masing warung.

Sego Cawuk

Kedua, kita masih akan berbicara tentang makanan berbahan dasar nasi dan bersambal, yakni Sego Cawuk. Dari namanya, kita tahu bahwa makanan ini akan lebih nikmat jika dimakan dengan tangan, atau dipuluk, yang dalam bahasa setempat disebut dengan “cawuk”.

Konon, makan menggunakan tangan merupakan metode makan yang paling indehoy, karena nikmat yang hakiki tanpa perantara…
Jika Sego Tempong merupakan nasi campur yang cenderung kering dan kerap menyebabkan keloloden, maka Sego Cawuk adalah antitesis dari hal itu. Sego Cawuk disajikan dengan kuah pindang santan, dengan cita rasa lautan yang masih kental di sini.

Tidak hanya itu, Sego Cawuk juga disajikan dengan menambahkan jagung muda yang dibakar sebagai topping, serta tambahan taburan kelapa muda bercampur teri atau ebi, seperti bothok kelapa, namun warga setempat menyebutnya Gecok. Sudah selesai? Oh, tentu saja belum.

Sudah ada pindang santan, nasi bertabur jagung muda, dan gecok, maka belum lengkap tanpa kehadiran sambal dan pilihan lauk lainnya. Rasa Sego Cawuk berbeda dengan rasa ngampleng Sego Tempong. Hal ini dikarenakan pindang kuah santan tadi dimasak manis, dan dimasak dalam waktu lama seperti gudeg.

Rasa gurih yang muncul dari Gecok dan pedasnya sambal menjadikan Sego Cawuk menjadi suatu karya sempurna bagi wong-wong kaliren.

Untuk mencari Sego Cawuk sepertinya sekarang sudah tidak sulit lagi, karena Anda hanya tinggal menuliskan “Sego Cawuk” di kolom peramban Google Map dan akan keluar pilihan-pilihan warung Sego Cawuk di seantero Banyuwangi, bahkan hingga ke Rogojampi. Sebagai catatan, Banyuwangi adalah kabupaten terluas di Pulau Jawa, jadi berhati-hatilah.

Rujak Soto

Ketiga dan terakhir, saya perlu menyertakan makanan hibrid khas Banyuwangi, yakni Rujak Soto. Ya, Anda tidak salah dengar, karena ini benar-benar rujak berbumbu kacang yang kemudian disiram soto. Sama seperti Pecel Rawon di daerah Muharto, Kota Malang, atau Dawet Pecel khas Kulon Progo, DIY.

Rujak Soto adalah satu-satunya dari ketiga makanan khas Banyuwangi yang rasane rodok yo opo ngono nang cangkemku…

Pada dasarnya, rujak dibedakan menjadi dua, yaitu rujak buah atau Lotis, dan rujak sayur atau rujak uleg yang berbumbu kacang dan menggunakan petis. Kalau di Jawa Tengah atau Yogyakarta disebut Lotek, tapi tanpa petis.

Nah, di Banyuwangi, tepatnya di sebuah warung dekat Pantai Boom, tembus dari Kampung Ujung, saya diajak seorang teman untuk menemui makanan hibrid yang waktu itu masih jarang ditemui ini. Rujak yang dibuat persis sama dengan rujak pada umumnya, lengkap berisi sayur mayur dan sambal kacang yang diuleg bersama petis.

Berbagai sayuran rebus, baik kangkung, tauge, hingga genjer, diuleg bersama dengan lumeran sambal kacang berperisa petis, dan kemudian masih ditambah tahu dan tentunya cingur, serta kemudian disajikan dengan lontong.

Namun belum selesai sampai di situ, makanan ini baru bisa disikat kalau rujak tersebut sudah disiram dengan soto, kebetulan waktu itu yang dipakai adalah soto daging. Dan mak byar, tanpa fafifu rujak yang sudah nampak siap diemplok itu mengeluarkan uap panas dari kuah soto.

Penampakannya memang sedikit kontemporer karena kuah yang tercampur itu akan segera berubah gelap dan aroma petis menguar bersama aroma daging. Sekilas lidah dan otak akan bingung mendefinisikan rasa Rujak Soto ini. Setidaknya hal itu saya rasakan sampai sekarang.

Jika Anda gemar menggauli makanan hibrid, maka tidak ada salahnya menikmati Rujak Soto di sekitar Pantai Boom, sambal menikmati matahari terbenam dan jangan lupa menikmati minuman temulawak khas Banyuwangi, merek Hawaii adalah yang paling mudah ditemui di beberapa warung yang saya kunjungi. Perpaduan temulawak dan es batu saya kira bisa menggenapi timbunan sepi yang bergelayut di kerongkongan anda setelah panas-panasan di Banyuwangi.

Jika di Surabaya ada Bonek dan di Malang ada Arema, maka di Banyuwangi ada Laros, Lare Osing. Lengkap dengan jargon Jenggirat Tangi. Namun, saya kira yang tepat adalah Jenggirat Mbadhog 1!1!1!