Dikisahkan seorang Badui datang ke Masjid. Orang Badui itu lantas mengencingi dinding rumah Allah yang mulia. Di tempat itu para sahabat duduk bersama Rasul Allah dan melihat kejadian itu. Mereka murka dan bersiap memukul si Badui itu. Nabi Muhammad meminta mereka sabar dan membersihkan dinding bekas kencing itu.

Ini bukan kali pertama Nabi berinteraksi dengan orang asing di masjid. Dalam kisah yang lain, saat orang-orang Kristen Najran datang untuk menantang kenabian Muhammad, kanjeng nabi yang berdebat mengizinkan orang kristen itu untuk beribadah di masjid, menghadap timur.

Kisah ini telah diturunkan ke banyak generasi. Kisah ini pengingat bahwa saat menghadapi masalah, nabi selalu bersikap bijak. Sebagai kompas moral, Kanjeng Rasul mengajarkan jangan ribut pada masalah zahir dan melupakan yang sakral. Ia menempatkan masjid sebagai tempat ibadah, sesuatu yang suci, tapi ia tidak lepas dari masyarakat yang ada di sekitarnya.

Sebelum adanya masjid, umat Islam membangun solidaritas melalui interaksi sosial antar manusia. Lantas saat masjid hadir, interaksi itu tidak berubah. Kasarnya, masjid cuma bangunan, yang penting adalah persatuan umat. Ini mengapa Umar bin Khatab meneruskan teladan itu. Ia mengajarkan pada kita bahwa masjid sebagai bangunan tak punya nilai di hadapan kezuhudan.

Pertama saat ia mengirim tulang kepada Amr bin Ash melalui Yahudi yang rumahnya digusur untuk pembangunan masjid. Ia mengintakan, jangan karena ingin membangun rumah Allah, ia sebagai gubenur melanggar hak orang lain, meskipun ia Yahudi.

Kedua saat penaklukan Yerusalem. Umar bin Khatab menolak sholat di dalam gereja, ia takut gereja itu digunakan sebagai masjid. 

Bagi mereka yang terjebak pada kesalihan artifisial, simbol-simbol lebih sakral daripada keimanan itu sendiri.

Kini, ratusan tahun dan ribuan kali kisah itu kita dengar, sebagian umat islam merisak seseorang karena ia mengeluh volume suara azan yang keluar dari mesin. Umat yang katanya hebat dan penerus panji rahmatan lil alamin ini terhina dan memenjarakan orang karena ia mengeluh bising suara azan buatan mesin.

Apakah tuhan tak mampu mendengar, sehingga perlu pengeras suara? Lantas apakah umat demikian pemalas, sehingga untuk beribadah mereka perlu pengeras suara sebagai pengingat? 

Tuhan tak butuh pengeras suara, manusia yang butuh untuk diingatkan. Sayangnya, Toa digunakan tak Hanya untuk azan lima kali sehari, tapi juga doa-doa, mengaji, sampai kotbah yang bisa dilakukan setiap hari. 

Mungkin mereka pikir tuhan tak bisa mendengar umat yang berdoa dengan suara lirih, sehingga perlu pengeras suara. Mungkin mereka pikir, makin kencang suara, makin besar kemungkinan doa atau permohonan dikabulkan. Mungkin mereka pikir, semakin keras suara, semakin baik mutu iman yang mereka miliki.

Apakah semakin keras suara akan membuat umat menjadi semakin zuhud?

Sementara kerap kita dengar sebelum khotbah Jumat peringatan dari penjaga masjid untuk menjaga anak-anak. Mereka ini meminta agar orang tua untuk menjaga anak-anak mereka tetap tenang, tidak berisik, karena suara anak-anak itu bising dan mengganggu umat yang hendak beribadah Jumat. Bisakah kita adil?

Apakah ini gambaran umat yang mencerna kitab suci hanya sampai tenggorokan? Apakah mereka paham bahwa rahmatan lil alamin itu untuk semuanya, manusia dan seluruh alam, bukan hanya muslim. Bagi mereka yang terjebak pada kesalihan artifisial, simbol-simbol lebih sakral daripada keimanan itu sendiri.

Sebelum menilai orang lain menghina atau menista agama kita, bisakah kita adil pada diri sendiri, sudahkah kita adil pada mereka yang berbeda?

Apakah kita akan terima jika kotbah minggu di gereja disiarkan dengan suara maksimal? Apakah kita akan marah jika perayaan natal menutup jalan raya seperti pengajian? Bisakah umat agama lain beribadah di jalan raya dan ruang publik seperti umat Islam? Atau kita sedang berusaha menjadi fasis dan menganggap bahwa sebagai mayoritas kita punya hak.

Bisakah kita beragama dengan kritis? Yang sakral itu azan atau suara azan yang keluar dari pengeras suara? Memprotes penggunaan pengeras suara apakah sama dengan memprotes keberadaan azan? Yang sakral itu sholat atau atribut sholat? Jika kemudian sajadah masjid yang biasa dipakai sholat, digunakan sebagai alas untuk menari apakah sama dengan menista sholat?

Ini yang kalian bela, atribut atau sakralitas ibadah?