Indonesia kerap kali ditimpa musibah gempa. Belum pulih peristiwa gempa di Nusa Tenggara Barat, kita sudah dikejutkan dengan gempa beserta tsunami di Palu.
 
Namun, yang sangat ironis adalah pola pikir yang terbentuk bahwa bencana serta musibah itu merupakan azab dari Allah. Seolah-olah diri kita adalah manusia paling suci, sementara mereka yang terkena musibah adalah manusia kotor yang memang pantas terkena murka-Nya.
 
Padahal, dari ratusan korban, ada juga anak kecil yang tidak berdosa. Memangnya mereka salah apa, sehingga pantas disebut terkena azab?
 
Dengan pola itu, kita akan selalu menunjuk muka orang lain. Tanpa pernah introspeksi diri. Dicekoki pikiran bahwa bencana alam merupakan cara Tuhan menghukum, bukan karena reaksi alamiah bumi bekerja. 
 
Memangnya ada perguruan tinggi yang mengajarkan bahwa LGBT dan zina mengakibatkan gempa? Kemudian, keberadaan Syiah, Ahmadiyah, liberalisme, dan komunisme juga disebut menyebabkan gempa. Dermaga berbentuk mata Dajjal dianggap menyebabkan gempa. Dan terbaru, kasus si Nur Sugi yang jadi tersangka dinilai mengakibatkan gempa. Sampai perkara politik mendukung Jokowi juga diklaim bisa menimbulkan azab. Gini kita tidak mau disebut primitif?
 
Yang lebih membuat perih adalah sikap kita terhadap para korban bencana. Saat ada gambar seseorang yang membawa TV besar dan ban ketika penjarahan berlangsung, kita berasumsi bahwa “korban bencana melakukan penjarahan.” Padahal, siapa yang menjarah? Mereka akan merasa disudutkan karena sedang sibuk bertahan hidup. Bantuan tidak sampai, plus kena getah dituduh maling.
 
Itu akan menimbulkan tensi psikologis yang tinggi. Sudah sedih ditimpa bencana, eh… kena tudingan miring pula. 
 
Mengapa kita tidak fokus pada isu pencurian saat bencana saja? Laporan terakhir menyebutkan, 45 orang ditangkap terkait penjarahan di toko-toko. Sementara itu, jumlah penduduk Kabupaten Donggala 277.236 jiwa dan Kota Palu 335.297 jiwa. Berapa persen sih jumlah pencuri dan orang terdampak yang membutuhkan bantuan?
 
Belum lagi, ada yang memanfaatkan isu gempa demi kepentingan politik. Untuk menyudutkan pemerintah saat ini, yang dianggap kurang tanggap. Padahal, yang biasa nyinyir itu juga tidak diketahui sudah berbuat apa.
 
Dianggap masak kalah dengan Jepang? Orang yang membandingkan peradaban dan disiplin bencana Jepang dengan Palu serta Donggala belum tahu, negara itu punya prosedur penyelamatan dan latihan persiapan bencana yang dibangun sejak tingkat SD. Jadi, warga Jepang tahu harus bagaimana saat gempa terjadi. Harus ke mana serta mempersiapkan apa.
 
Orang Jepang punya disiplin ketat tentang bagaimana semestinya bencana dihadapi. Sejak kecil anak diajari berlindung ketika gempa terjadi, menyediakan benda yang perlu disiapkan waktu darurat, serta membentuk rantai komando yang jelas. Jadi, meski bencana terjadi, tatanan masyarakat akan tetap terjaga.
 
Menyebut tak ada pencurian saat tsunami Jepang pada 2011 juga kurang tepat. Ada kasus pencurian senilai 1,5 miliar, tapi tidak menjadi perhatian. Sebab, media dan warganya berupaya menjaring solidaritas, mengabarkan lokasi pengungsian, mencatat jumlah warga selamat, membantu pencarian korban, dan mendata kebutuhan selter yang kurang.
 
Jepang sebagai salah satu negara dengan kepatuhan penduduk paripurna, pada 2011 juga pernah mengalami gempa dahsyat. Di daerah Miyagi pada waktu yang sama, terdapat 250 laporan pencurian selama 10 hari setelah bencana. Sekitar 1,5 miliar benda dilaporkan dicuri. Para penjarah mengambil uang, bensin, dan benda berharga dari rumah korban.
 
Jika negaramu adalah tempat di mana istilah tsunami berasal, ya pastinya sudah punya tradisi menghadapi bencana. Salah satu buku yang ada misalnya “Shitte Sonaeyo Jishin to Tsunami Namazu Hakasega Oshieru Shikumito Kowasa” (Know and Be Prepared for Earthquakes and Tsunami — the Mechanisms and Horrors Taught by Doctor Catfish), ditulis oleh Yoshinobu Tsuji.
 
Untuk menghadapi ini, mereka membuat agensi khusus pengawasan kebencanaan. Monitoring bencana tsunami dilakukan Jepang sejak 1953 dan ditingkatkan setelah gempa 1993. Puncaknya adalah 2011 lalu. Orang Jepang belajar bagaimana cara mempersiapkan, memprediksi, dan menghadapi dampak bencana.
 
Negara itu punya the tsunami warning service di enam titik. Mengirim 180 sinyal seismik di seluruh Jepang dengan 80 sensor perairan yang dimonitor selama 24 jam oleh Earthquake and Tsunami Observation System (ETOS). 
 
Japan Meteorological Agency juga bekerja sama dengan stasiun TV dan radio untuk mengembangkan peringatan dini di TV jika terdeteksi gempa atau ancaman tsunami. Bila ada dugaan kuat, Badan Meteorologi Jepang akan memperingatkan pemerintah setempat untuk menyiapkan sirene dan pengeras suara untuk melakukan evakuasi.