Saya paham, bagi beberapa dari kita, kalimat tauhid yang berisi kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah rasul utusan-Nya adalah sesuatu yang suci. Ini final. Tak bisa ditawar, tak bisa dibantah, dan tak bisa dikurangi derajatnya.

Jika sedikit saja atau bila kita merusak, menghina, atau merendahkan kalimat tauhid ini, maka demi kehormatan, rasa cinta, dan segala yang ada di antaranya, pertumpahan darah boleh dilakukan jika perlu.

Insiden pembakaran bendera yang bertulisan kalimat tauhid di Garut pun perlu dipahami secara jelas. Benarkah mereka yang membakar itu sedang menistakan Allah dan rasul-Nya?

Apakah benar mereka yang bernyanyi, tertawa, dan bergembira saat bendera tersebut dibakar tengah merayakan kebencian terhadap Allah dan rasul-Nya?

Saya ragu, orang-orang Banser yang sejak lama peduli pada NKRI dan rajin bersalawat membenci Allah dan rasul-Nya.

Kemungkinan terbesar, yang mereka rayakan sembari bergembira itu bukan ungkapan kebencian pada Allah dan rasul, melainkan organisasi yang getol menggelorakan khilafah, tapi jadi benalu di republik ini.

Kamu marah karena Banser membakar bendera suci tauhid atau marah karena mereka membakar bendera organisasi terlarang. Titik tolak dari dua pernyataan tersebut sangat berbeda.

Jika ini masih susah dipahami, saya akan memberi contoh lain.

Di Amerika Serikat, Pastor Terry Jones membakar Alquran. Dia membakar kitab suci kita karena memang membenci Islam, yang ia tuduh sebagai teroris dan musuh ajaran Kristen.

Jones kemudian diputuskan bersalah di Iran dan divonis mati oleh Al Qaeda. Tindakannya dikecam luar biasa, bahkan oleh kalangan Kristen sendiri. Apa yang ia lakukan merupakan provokasi, tindakan sengaja yang memicu kemarahan umat Islam.

Di sisi lain, Ustad Abdul Somad sebagai dosen memutuskan untuk membakar skripsi-skripsi mahasiswanya yang berisi ayat-ayat Alquran. Ia menegaskan, daripada skripsi itu dijual kiloan, lalu berakhir menjadi terompet atau bungkus gorengan, lebih baik potongan skripsi tersebut dibakar agar tidak diinjak atau dihinakan jadi bungkus makanan.

Saat penyerangan jamaah Ahmadiyah di Cikeusik pada 2013, orang-orang yang mengaku Islam menyerang masjid Ahmadiyah. Di dalamnya Alquran diinjak-injak, lantas dibakar.

Menurut mereka, Alquran Ahmadiyah menyimpang dan sesat. Padahal, Alquran itu dibeli dari toko biasa. Artinya, kitab suci yang kita baca pada umumnya dan isinya ya sama aja. Sesuai versi Departemen Agama atau MUI. Apakah mereka sedang menista ajaran Islam?

Pada awal penyusunan Alquran, khalifah Utsman bin Affan memerintahkan pembakaran Alquran yang tak lagi terpakai. Saat itu, banyak versi Alquran yang beredar. Tidak berarti kitab suci tersebut palsu atau salah, tapi lebih pada perbedaan pelafalan, huruf, dialek, dan cara baca.

Apakah benar pembakaran itu bertujuan menghina kalimat tauhid? Atau sebenarnya tengah menyatakan ketidaksukaan pada organisasi terlarang?

 

Penyeragaman yang dilakukan khalifah Utsman merupakan usaha unifikasi agar tidak ada lagi yang berbeda, sehingga kelak dianggap menyimpang. Apakah pembakaran yang dilakukan Utsman dianggap menista ajaran Islam?

Maka, penistaan atau tidak sesungguhnya berasal dari niat. Sebelum mengambil tindakan, sebaiknya ambil jeda, cari tahu, dan usahakan untuk tabayun. Apakah benar pembakaran itu bertujuan menghina kalimat tauhid? Atau sebenarnya tengah menyatakan ketidaksukaan pada organisasi terlarang?

Imam Ali pernah berkata, ”Jangan mengambil keputusan saat marah dan jangan berjanji ketika sedang gembira”. Dua-duanya akan membuat kita menyesal jika telanjur terjadi.

Sikap adil mungkin bisa kita pelajari dari pemerintah Denmark. Negara tersebut nyaris tak melakukan apa-apa saat koran lokal mereka, Jyllands-Posten, memuat 12 karikatur yang menghina Nabi Muhammad.

Meski mendapat protes keras, boikot, dan serangan di kedutaan mereka di Timur Tengah, Denmark menolak mengadili karikaturis itu dengan tuduhan penistaan agama. Namun, ketika seorang warga Denmark membakar Alquran pada 2017, aparat hukum memutuskan ia bersalah karena menghina agama.

Apa yang membedakan antara 12 karikatur dan pembakaran Alquran?

Dalam argumen saya, meski menghina sosok suci umat Islam, para karikaturis tidak menyerukan kebencian, permusuhan, atau menyakiti umat muslim yang notabene minoritas di Denmark.

Kartunis tersebut mungkin menyakiti perasaan umat Islam, tapi tidak sedang mengajak orang-orang untuk angkat senjata dan membunuhi orang muslim.

Sementara John Salvesen, pelaku pembakaran itu, menyebarkan kebencian terhadap pengungsi, kelompok minoritas, dan umat muslim di Denmark.

Facebook tempat ia mengunggah video pembakaran tersebut dipenuhi pesan kebencian terhadap orang Islam dan imigran. Persis dengan umat Islam kagetan yang bilang halal dan boleh membunuh LGBT karena orientasi seksnya.

Di Denmark, sebelumnya Bibel juga dibakar oleh seniman. Tapi, ia tidak ditangkap atau diadili. Sikap pemerintah Denmark yang berbeda itu kemudian dikritik. Kok bakar Alkitab boleh tapi Alquran nggak boleh?

Seniman itu membakar Alkitab di siaran TV secara langsung. Saat itu 1997 dan tak ada seruan kebencian. Si seniman tidak sedang menyerukan atau mengutip apa pun yang berindikasi gerakan untuk menyakiti umat Kristen.

Di sini saya mau bilang, kita boleh nggak terima dan sakit hati terhadap olok-olok, tapi kemudian memanifestasikan kemarahan melalui kekerasan? Itu hal yang berbeda.

Aparat hukum di Denmark mungkin sedang memberi kita pelajaran bahwa mengkritik ajaran Islam melalui karikatur tidak sama dengan menyerukan atau mengajak seseorang untuk menyakiti orang Islam.

Saya paham kalian marah. Kalian boleh marah, boleh sakit hati. Tapi apa ya mau marah terus melakukan kekerasan?