Iwak bandeng bukan sekedar iwak buat orang Gresik. Bukan pula sekadar pelepas rindumu oh sayang… Lebih dari itu, Gaes. Iwak bandeng sudah menjadi bagian dari budaya dan identitas Gresik.

Orang Gresik tak mungkin dipisahkan dari iwak bandeng. Saya tau sendiri karena saya lahir dan tumbuh sebagai orang Gresik. Saya tumbuh bersama tambak-tambak bandeng yang dulu begitu banyak kini mulai berubah fungsi menjadi kawasan pergudangan dan industri.

Pasar bandeng di Gresik digelar di malam terakhir Ramadhan alias malam takbiran. Di sana, bandeng-bandeng terbaik dari berbagai kota di Indonesia didatangkan. Mirip ajang pemilihan Miss Bandeng ngunu lah. Tapi mereka nggak ada kontroversi baju renang one piece atau two piece, tapi malah mudo

Yo iyolah mosok bandeng diklambeni!

Bandeng yang bagus sangat gurih saat dimakan dan tidak ada aroma tanahnya.

Dulu banget, bandeng yang digelar di pasar bandeng ini dari tambak-tambak di Gresik. Waktu tambak masih banyak. Belum rebutan tempat sama pabrik, gudang, dan perumahan. Sekarang jumlah tambak sudah banyak berkurang. Padahal, kalau tambak masih banyak saya ingin nyobak berenang sambil nyerok iwak bandeng langsung dari habitatnya. Biar ngehits, Gaes! 

Bandeng-bandeng terbaik ini berasal dari beberapa kota yang kondang sebagai penghasil bandeng. Mulai dari Sidoarjo sampai Banyuwangi. Dijamin, bandeng di Gresik pasti spesial. Ini bisa dilihat dari ukuran dan rasanya pas sudah dimasak. Bahkan, ada bandeng sebesar bayi yang bisa laku dilelang tembus Rp 3,5 juta per ekor!

Bandeng yang bagus sangat gurih saat dimakan dan tidak ada aroma tanahnya. Saya tidak tahu kenapa di tempat lain, bandeng tak sebagus di Gresik. Banyak yang berbau tanah saat dimasak. Bisa jadi karena perbedaan jenis tanahnya atau mungkin bandeng-bandeng itu rajin mandi pake sabun wangi.

Bagi keliyan yang belum pernah mengenal anak para juragan tambak bandeng, jangan coba-coba sok kaya di hadapan mereka. Sebab, bisa jadi hartamu mok sak upile mereka!

Harus saya akui, meski seneng seru sama iwak bandeng, saya tidak pernah sekalipun mengunjungi pasar bandeng. Penyebabnya, saya males dempet-dempetan. Nanti kalau dempetan keliatan cantik sendiri gimana dong?

Sebagai iwak favorit, tentu saja para juragan tambak bandeng hidupnya sangat sejahtera. Termasuk anak-anak mereka. Saya tahu sendiri karena mereka adalah juga teman-teman saya waktu bersekolah di Gresik.

Bagi keliyan yang belum pernah mengenal anak para juragan tambak bandeng, jangan coba-coba sok kaya di hadapan mereka. Sebab, bisa jadi hartamu mok sak upile mereka! Bedanya, mereka cuma nggak hobi beli Ferrari atau Lamborghini Gallardo saja. Lagi pula, mau dipake di mana mobil-mobil mewah itu wong Avanza saja susahnya Masya Allah menembus belantara pematang tambak. 

Kalau saya ditanya, sebenarnya bandeng itu paling pantas diapain sih? 

Kalau Pokemon ada Pokemon listrik, Pokemon api, dan Pokemon air, bandeng juga banyak macamnya. Dan orang Gresik paling jago mengolah bandeng menjadi aneka ria hidangan. Mulai dari sekadar digoreng, diotak-otak bandeng, dikropok, diasem-asem, di-tanpa duri atau olahan lain.

Yang belum ada sih permen rasa bandeng. Ayo siapa mau jadi penemunya?

Jika di daerah lain Lebaran penuh dengan hidangan bersantan, di Gresik suguhannya gak jauh dari perbandengan. Pakai sayur atau pun garingan, sama enaknya. Menyenangkan sekali buat saya yang memang suka sekali sama iwak bandeng. Begitu banyak pilihan bandeng di Gresik membuat saya seperti berada di surga para bandeng.

Sebagai penggemar bandeng, saya percaya surga itu sesederhana sebuah tempat makan yang nyaman dengan bandeng bakar atau goreng plus cocolan sambel kecap. Tak harus ndakik-ndakik seperti yang diklaim para tukang bikin bom. Penuh bidadari cantik yang perawan selamanya.

Sebenernya, mamang sayur di Karawang—tempat saya tinggal sekarang—juga bawa ikan bandeng setiap hari. Tapi saya jarang beli. Soalnya, bandengnya kurus-kurus. Tidak sehat dan bugar seperti di Gresik. Mungkin karena mereka rajin nge-gym atau ikut zumba dance entahlah.

Makanya kalo mudik aku memuaskan diri makan bandeng. Kadang-kadang takut juga sih. Jangan-jangan karena kebanyakan makan bandeng, pas ketemu mas bojo di rumah dia malah pangling.

“Maaf, Anda siapa ya? Istrinya saya tadinya ngga se-Lebaran ini.”

Duh, kalau sampai dia ngomong gitu bisa tak smack down dia. 

Tapi nggak apa-apa. Semua akibat dari makan bandeng saya terima semuanya. Sebab, kita itu harus mencintai sesuatu itu satu paket. Nggak cuma mau enaknya saja, tapi tutup mata sama paitnya.

Kita harus suka baiknya sekaligus harus menanggung buruknya. 

Begitu juga kepada iwak bandeng. Saya menyukai bandeng tapi saya juga rela menanggung duri-duri yang halus lembut di antara daging-dagingnya. Juga efek dari lonjakan konsumsi bandeng saya selama Idulfitri. 

Mau lebih Lebaran atau bobot nambah (dikiiit) juga nggak apa-apa. Wong juga setahun cuma sekali. Meskipun bobot yang bertambah setahun sekali itu susah juga diturunkan meski diet selama setahun penuh. Hiks.