Rek, tanda-tanda Persebaya bakal error mainnya waktu lawan Borneo FC, Sabtu (13/10) kemarin, sebenarnya sudah terlihat sejak dipastikannya David da Silva absen. Seringkali Persebaya biarpun menguasai jalannya pertandingan tapi kalau lini depan buntu ya sama aja berat. Umpan sana, umpan sini tapi pas diumpan ke depan terbuang sia-sia.

Statistik menunjukkan Persebaya unggul peluang mencetak gol dan penguasan bola. Ada 14 tendangan ke gawang, dibandingkan Borneo FC yang hanya dua saja. Kemudian penguasaan bola 71 persen berbanding 29 persen.

Coba seandainya ada David bola yang diumpan tidak akan sia-sia begitu saja. Menjadi top skor sementara GO-JEK Liga 1 adalah pembuktian jika dia merupakan striker haus gol dan berkualitas.

Masalahnya, Persebaya tidak memiliki striker pelapis yang sepadan dengan David. Rishadi Fauzi dan Ricky Kayame beberapa kali dipasang performanya belum begitu apik.

Terus masalah itu juga masih bertambah, waktu Robertino Pugliara ditebas kakinya sama Wahyudi Setiawan di menit ke 19. Robertino yang diharapkan bisa mencetak gol dari lini kedua harus keluar lapangan lebih awal tanpa bisa memberikan gol terlebih dahulu.

Pelatih Persebaya Djadjang Nurdjaman waktu konferensi pers menyebutkan Rishadi terlalu banyak membuang peluang mencetak gol. “Saya harus push Fauzi agar lebih baik lagi. Dia belum stabil main di situ,” ujar mantan pelatih PSMS Medan ini.

Dari situ amsyong sudah. Apalagi pada menit ke 23, Matias Conti berhasil membobol gawang Persebaya.

Kalau udah kebobolan terlebih dahulu di kandang Persebaya sulit bisa membalas. Persis seperti waktu kalah melawan PS Tira dengan skor 0-2 di kandang.

Kalau sudah kebobolan sepertinya bingung mau ngapain. Main bolanya hanya oper-operan saja. Dengan penyelesaian yang zoonk.!

Duh…kenapa ya segitunya kebanggan kita ini? Padahal Bonek sudah habis-habisan di tribun memberikan dukungan.

Bahkan, bukan hanya dukungan saja. Bonek juga sudah ngempet untuk berbuat rusuh. Karena kasian lihat Persebaya selalu kena denda.

Dari semua kegemesan yang ada pas pertandingan kemarin, paling gemes lihat striker Rishadi Fauzi. Ini striker kok gak pernah mencetak gol di kandang ya pas main di Liga 1 ini?

Emang sih dia sudah bikin empat gol. Tapi satu gol itu bunuh diri. Kalau tiga dikurang satu, berarti Rishadi punya dua pahala gol saja.

Kudu nangis kan lihat statistiknya? Gak sesuai dengan julukannya Fauzimovic.

Kemarin dia kembali gagal menjawab kepercayaan yang diberikan pelatih. Rishadi bahkan lebih banyak membuang peluang matang. Salah satunya umpan lambung di menit Injury Time babak kedua.

Padahal penonton yang ada di tribun sudah menahan nafas melihat jatuhnya bola ke mana. Ealah, malah keluar.

Jadi lumayan ngenes juga lihat pertandingan kemarin. Udah kalah ditambah sudah dekat dengan pintu zona degradasi yang ada di depan mata.

Pelatih Persebaya Djadjang Nurdjaman waktu konferensi pers menyebutkan Rishadi terlalu banyak membuang peluang mencetak gol. “Saya harus push Fauzi agar lebih baik lagi. Dia belum stabil main di situ,” ujar mantan pelatih PSMS Medan ini.