Tanggal 22 Oktober resmi ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional (HSN) oleh pemerintah. Tahun 2018 ini merupakan tahun keeempat perayaan ini diperingati, sejak ditetapkan pada 2015.

Yang perlu diingat, Hari Santri Nasional ini dideklarasikan saat zaman Presiden Joko Widodo. Presiden yang sering dituduh sebagai rezim anti-Islam, antek komunis, PKI.

HSN masih berkaitan dengan Hari Pahlawan yang diperingati setiap 10 November. Ada jarak 19 hari yang menghubungkan dua momen luar biasa itu. Dan semuanya terjadi di Jawa Timur, tepatnya di Surabaya.

Pada 1945, dua minggu sebelum meletusnya perang dahsyat di Surabaya, pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad. Yang hukumnya fardu ain (wajib mutlak) dilakukan oleh barisan santri atau umat muslim di Surabaya dan sekitarnya untuk berjuang melawan penjajah.

Sebab, ketika itu, Netherlands Indies Civil Administration (NICA) yang membonceng pasukan sekutu Inggris berniat menjajah Indonesia yang sudah menyatakan merdeka pada 17 Agustus.

PB NU mengundang konsul-konsul NU di seluruh Jawa dan Madura untuk hadir pada 21 Oktober 1945 di kantor PB ANO (Ansor Nahdlatul Oelama) di Jalan Bubutan VI/2, Surabaya. Berdasar amanat berupa pokok-pokok kaidah tentang kewajiban umat Islam dalam jihad mempertahankan tanah air dan bangsanya.

Amanat tersebut disampaikan Rais Akbar KH Hasyim Asy’ari dalam rapat PB NU yang dipimpin Ketua Besar KH Abdul Wahab Hasbullah. Kemudian, ditetapkan keputusan dalam bentuk resolusi yang diberi nama Resolusi Jihad Fii Sabilillah. Isinya sebagai berikut (dikutip dari website resmi NU):

“Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itu djadi fardloe kifajah (jang tjoekoep kalaoe dikerdjakan sebagian sadja).” 

Jawa Timur sebagai salah satu basis utama pendidikan tradisional atau pesantren di Indonesia kala itu merupakan kantong utama santri. Tersebar di Surabaya hingga wilayah Madura, Tapal Kuda, dan Malang.

Bersama seluruh kalangan santri, rakyat menggalang kekuatan untuk mencegah penjajah menduduki bumi Nusantara lagi.

Dulu, meskipun tanpa senjata mumpuni, kekuatan santri dan masyarakat cukup dahsyat. Mereka berani berjuang hanya dengan alat seadanya. Yakni, senjata rampasan dari tentara Jepang dan bambu runcing.

Dari situlah, istilah bonek atau bondo nekat lahir. Istilah tersebut sangat familier pada era kemerdekaan. Sebagai motivasi utama dalam mengusir penjajah agar tidak berkuasa kembali.

Jadi, asal usul Bonek yang populer sebagai suporter Persebaya saat ini masih berkaitan dengan Hari Santri Nasional, sebagai hasil ikhtiar KH Hasyim Asy’ari dalam mengeluarkan fatwa.

Setelah resolusi yang dikeluarkan KH Hasyim itu, serangan awal terjadi pada 27-29 Oktober. Selama tiga hari berturut-turut, markas Brigade 49 Mahratta yang dipimpin Brigadir Jenderal (Brigjen) A.W.S. Mallaby diserang.

Brigjen Mallaby pun tewas pada 30 Oktober. Saat itu, mobil yang dia tumpangi terkena ledakan bom yang disiapkan para pejuang Indonesia.

”Sebagaimana pertempuran sehari sebelumnya, perang “keroyokan” itu murni perkelahian masal yang disebut tawuran. Tidak ada pemimpin dan tak ada taktik apa pun yang ditunjukkan penduduk. Tentara Brigade 49 Mahratta yang sudah berpengalaman di medan tempur Burma, dan bahkan El Alamein di Mesir, kebingungan menghadapi pertempuran dengan model tawuran dari orang-orang nekat yang tidak tahu mati,” tulis sejarawan NU KH Agus Sunyoto.

Kematian Mallaby memantik reaksi keras dari NICA. Sebelum pecah peristiwa 10 November, NICA mengeluarkan ultimatum kepada masyarakat Surabaya dan sekitarnya agar segera menyerahkan senjata yang dimiliki, jika tidak ingin dibombardir dari laut, udara, dan darat.

Rupanya ultimatum itu tidak direken oleh arek-arek Suroboyo. Arek Suroboyo tetap bersikukuh pada pendirian awal dengan memutuskan pilihan ekstrem: merdeka atau mati.

Dari situ, pecahlah perang dahsyat 10 November. Tidak main-main, NICA membombardir melalui tentara tiga matranya. Dari darat, laut, dan udara.

Pertempuran besar di Surabaya pada 10 November 1945, yang menurut William H. Frederick (1989) adalah pertempuran paling nekat dan destruktif -yang tiga minggu di antaranya– sangat mengerikan. Jauh dari yang dibayangkan pihak sekutu maupun Indonesia.

Dugaan NICA bahwa Kota Surabaya bakal jatuh dalam tiga hari meleset. Sebab, arek-arek Suroboyo baru mundur ke luar kota setelah bertempur 100 hari.

Ditinjau dari kronologi kesejarahan, pertempuran Surabaya sejatinya adalah kelanjutan Perang Rakyat Empat Hari pada 26–29 Oktober 1945. Yakni, perang kota antara Brigade 49 Mahratta di bawah komando Brigjen Mallaby melawan arek-arek Suroboyo yang berlangsung brutal dan ganas.

Sebanyak 2.300 orang —2.000 orang di antaranya pasukan Brigade 49, termasuk Brigjen A.W.S. Mallaby yang terbunuh pada 30 Oktober 1945- tewas dalam pertempuran man-to-man tersebut.

Dan, Perang Rakyat Empat Hari pada 26-29 Oktober dipicu seruan Resolusi Jihad PB NU yang dikumandangkan tanggal 22 Oktober 1945.