Hampir dipastikan, salah seorang yang paling menyebalkan di dunia ini adalah sosok bos. Entah itu juragan, direktur, atau manajer. Intinya, mereka adalah atasan kita.

Jarang-jarang kita mendapati bos yang baik. Yang tidak pernah memarahi anak buahnya. Yang tidak selalu maido kata orang Jawa. Kalaupun ada, mungkin satu banding seratus bos yang seperti itu.

Kerja begini salah. Kerja begitu salah. Sampai tidak tahu apa yang harus dilakukan demi membuat si bos tidak nyembur.

Kalau sudah marah nih, biasanya si bos memberikan tanda-tanda. Semua anak buah dikumpulkan. Kalau sudah begitu, dia bisa ngomel berjam-jam. Udah kalah itu suaranya toa.

Belum juga ngomel, melihat wajah si bos yang sumpek aja bikin kita enek. Pengen rasanya doain si bos biar gak ngantor. Entah itu karena tugas luar kota, bisulan, atau sakit gigi.

Sudah gitu, si bos ngomelnya tidak cukup sehari aja. Besok-besok kalau inget dan suasana hatinya lagi kurang enak, pasti dia ngomel dadakan. Seperti kisah sinetron yang berlanjut. Ada part I, part II, part III, dst.

Kalau sudah begitu ya, apes lah karyawan yang hadir. Mendengarkan bos ngomel itu rasanya bikin tidak produktif. Suasana hati jadi tidak enak kemudian berdampak pada suasana pikiran juga.

Kalau sudah begini, pengen rasanya menjadi sosok James McAvoy dalam film Wanted (2008). Untuk berani mengambil keputusan ekstrem, dia keluar dari pekerjaan kantoran yang menjenuhkan dan penuh tekanan kemudian bergabung dalam geng mafia. Tidak perlu bangun pagi-pagi atau pulang malam sesuai jam kantoran.

Namun, sebelum keluar dari pekerjaan tersebut, biar lebih afdol, dia lebih dahulu misuhi si bos. Bos yang sebelumnya selalu ngomel dan nagih deadline pekerjaan dengan perkataan yang tidak baik.

Pengennya sih nggak usah ekstrem dengan ngatain yang tidak baik atau berkata kasar. Cukup pinjam perkataan Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi saja. “Apa urusan Anda menanyakan itu? Bukan hak Anda juga untuk bertanya kepada saya.”

Mbok…kalau sudah berani menyampaikan kalimat itu kepada si bos, tentu rasanya lega sekali. Perasaan bisa plong. Sekali-kali nendang si bos gitu, masak ditendang terus? Wkwkwkw

Sayang, selama ini kita hanya berani mbatin. Paling mentok rasan-rasan. Ga pernah menyampaikan langsung kepada si bos.

Tentu banyak pertimbangannya. Takut kena surat peringatan sampai takut dipecat. Kalau sudah dipecat mau kerja dimana? Mau makan apa? Kamu dimana? Dengan siapa dan sedang berbuat apa?

Ya, perasaan takut itu normal saja terjadi. Apalagi kita berniat menjadi karyawan abadi di satu perusahaan tertentu seumur hidup.

Sebagi ketum PSSI, perkataan Pak Edy sangat menginspirasi. Bisa berlaku juga bagi para jomblo.

Kalau pas ditanyaain mana pacarnya? Kapan nikah? Sekali lagi, kalian bisa jawab: “Apa urusan Anda menanyakan itu? Bukan hak Anda juga untuk bertanya kepada saya.”

Dengan latar belakang pensiunan jenderal bintang tiga, sangat maklum jika Pak Edy Rahmayadi berani mengeluarkan pernyataan yang kontroversial. Dia adalah mantan panglima atau pimpinan tertinggi di kesatuan Kostrad, yang banyak memiliki markas tentara tersebar di penjuru Nusantara.

Nah, kalau ente beda lagi mblo. Jangankan pensiunan jenderal bintang tiga, yang ada di kepalamu justru obat puyer bintang tujuh. Soale mumet terus hidupnya.