Tahun 2013 adalah awal perkenalan saya dengan Taufik Monyong. Ketika itu, saya penasaran sekaligus tertarik untuk terlibat dalam kegiatan drama kolosal Surabaya Membara.

Kebetulan, saat itu merupakan awal saya lulus kuliah. Belum ada aktivitas berarti alias masih masuk kategori pengangguran terbuka.

Melalui media sosial, panitia menyampaikan bahwa siapa saja boleh terlibat dalam acara tersebut. Tidak peduli latar belakangnya, apakah mahasiswa, karyawan pabrik, atau penganggur.

Intinya, mereka yang ingin terlibat dan peduli untuk memperingati 10 November dengan tidak biasa. Sebab, itu merupakan peristiwa besar bagi bangsa Indonesia, terutama masyarakat Surabaya.

Sangat ironis bagi masyarakat yang mengaku sebagai arek Suroboyo, namun apatis terhadap peristiwa itu. Sebab, dulu ribuan nyawa gugur demi mempertahankan kemerdekaan yang sudah diraih.

Sekitar Oktober ketika itu, mereka yang ingin terlibat dalam acara bisa berkumpul di Taman Apsari, depan Kantor Gubernur Jawa Timur.

Saya pun pergi dengan pakaian seadanya. Di sana Cak Taufik sudah menyiapkan segala propertinya. Tidak selengkap atau bahkan bisa dibilang jauh dari Komunitas Roode Brug Surabaya yang semuanya memang dipersiapkan dengan betul.

Dalam mengumpulkan pernak-pernik, Komunitas Roode Brug sampai mencarinya hingga ke luar negeri. Beda dengan Komunitas Surabaya Membara yang seadanya.

Waktu itu, saya dipinjami sebuah helm baja oleh Cak Taufik. Katanya, helm tersebut merupakan peninggalan zaman perang. Pemiliknya tewas dengan lubang bekas tembusan peluru di bagian atas helm.

Helmnya cukup berat. Selain itu, penggunaannya tidak seenak helm SNI. Tidak ada gabusnya di dalam, Bro.

Cak Taufik kemudian mengajak untuk show of force. Dengan berjalan kaki menuju Monumen Bambu Runcing di Jalan Panglima Sudirman sambil meneriakkan ”merdeka… merdeka… merdeka.”

Saya ingat betul, saat itu ada beberapa mahasiswa ITS yang mengambil gambar dengan kamera DSLR. Baik foto maupun video. Semua itu akan dikumpulkan dan dijadikan scene yang layak untuk ditonton.

Semuanya mandiri alias independen. Para juru shooting sama sekali tidak dibayar. Padahal, kalau kameramen beneran, penghasilannya ketika itu bisa mencapai Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu per hari.

Seminggu berlalu. Jika tidak salah, anggota komunitas tersebut diwajibkan kumpul setiap Kamis. Berkeliling Surabaya untuk mencari gambar dan latar belakang yang bagus seperti bangunan kuno.

Ketika itu, kami berkeliling ke beberapa tempat jadul di Surabaya. Di antaranya, bekas pabrik yang sudah tidak punya kegiatan di dalamnya, Kampung Cina, dan Tugu Pahlawan.

Berkat acara itu, saya jadi mengenal banyak orang dengan latar belakang yang berbeda. Ada mbak-mbak janda muda yang jadi primadona para mahasiswa jomblo, atau satpoltik alias satpol PP cantik anak buah Pak Irvan Widianto.

Ada juga cece-cece yang terlibat. Karuan saja cece yang terlibat itu sering jadi bahan gojlokan. Tapi, jangan dikira bercanda rasis, tentu digoda udah punya cowok atau belum.

Mendekati November ketika itu, kami semua dikumpulkan di Korem 084/Bhaskara Jaya. Di sana kami dilatih teater oleh Maemura.

Tentu saja, banyak dari kami yang nol putul tentang ilmu teater. Jadi, Maemura harus bekerja keras memberikan arahan. Bagaimana mengekspresikan diri ketika takut, sedih, senang, dan saat geram.

Hingga tibalah tanggal 9 November. Entah apa alasan Cak Taufik memilih tanggal 9, dan bukan tepat tanggal 10. Dengar-dengar, tanggal 9 dipilih karena saat itu berbagai stakeholder di Surabaya tidak sibuk.

Tempat yang dipilih adalah ruang terbuka di depan Tugu Pahlawan. Saat malam, jalan tersebut ditutup total.

Dibikin model perang terbuka. Di sisi selatan ada kubu dari rakyat, di sisi utara ada tentara penjajah yang sebenarnya adalah tentara asli. Ketika itu, Cak Taufik berhasil meminta izin kepada Komandan Korem 084/Bhaskara Jaya Kolonel Wisnu Setija agar anak buahnya juga terlibat dengan memakai jip perang sungguhan.

Jadilah suasana drama itu seperti sungguhan. Sebab, yang berada di depan memang sosok tentara. Mereka yang tinggi besar dan berbadan tegap.

Sejak 2013, acara tersebut selalu menjadi tontonan gratis bagi warga. Sayang, saya hanya terlibat di awal. Setelah itu saya sibuk bekerja di luar kota.

Kini, mendengar peristiwa tersebut memakan korban, sungguh disayangkan. Tiga orang kehilangan nyawa saat melihat pertunjukan dari atas viaduk. Padahal, sebelumnya mereka yang menonton dari atas sana aman-aman saja.