Titin, istri Imam Tohari, 46, tidak menyangka bahwa dia akan terdampak musibah gempa yang terjadi di Palu dan Donggala. Suaminya sudah lima hari hilang di sana dan sementara ini tidak bisa dihubungi.

Dalam keseharian, sebenarnya Hari tinggal di Jalan Menur Pumpungan, Gang I, Surabaya. Namun, karena ada pekerjaan, dia berangkat ke Palu pada Selasa (25/9). “Ada garapan memasang kembang api untuk acara Pesona Palu Nomoni 2018 yang dibuat pemerintah daerah setempat,” ujar Titin.

Ini bukan pertama kalinya Hari mendapatkan pekerjaan itu. Pemda Palu sudah berlangganan cukup lama. Jadi, setiap tahun dia pasti berangkat ke sana.

Beberapa waktu lalu, Hari berangkat ke Palu tidak seorang diri. Dia bersama dengan dua anak buahnya, Budi dan Triono.

Pesona Palu Nomoni sendiri berlokasi di bibir pantai Teluk Palu, yang luluh lantak terkena gempa dan tsunami, Jumat sore (28/9). Kebetulan, saat itu Hari berada di atas panggung untuk menyiapkan pesta kembang api pada malam harinya.

Sebelum kejadian gempa itu, kata Titin yang memperoleh cerita dari Budi dan Triono melalui telepon, mereka berpisah sebelum kejadian. Hari menyuruh Budi dan Triono membeli air minum. Jaraknya sekitar 200 meter agak ke dalam dari bibir pantai.

Saat berada di dalam minimarket, Budi dan Triono langsung merasakan gempa. Dan beberapa saat kemudian disusul dengan tsunami. “Budi dan Triono menyelamatkan diri,” ujar Titin.

Nah, sejak itu keduanya terpisah dengan Hari. “Setelah kejadian, Budi sama Tri menyelamatkan diri. Mereka tidak berani kembali ke pantai, tapi sempat melihat panggung hanyut,” jelas Titin.

Sebelum musibah itu terjadi, Titin mengaku sempat ditelepon lewat video call. Dia tidak mendapat firasat apa pun tentang suaminya. Termasuk memperkirakan bakal ada gempa besar.

Saat mengetahui berita gempa yang disusul tsunami di televisi, Titin langsung kaget. “Waktu itu langsung saya coba hubungi suami, tapi sudah tidak bisa. Kalau dua temannya kadang bisa, kadang tidak. Mereka sekarang ada di Makassar,” lanjutnya.

Meski tidak tahu lagi kabar suaminya, Titin berharap bisa bertemu. Dalam kondisi apa pun, dia mengaku siap.

“Harapannya ya semoga selamat, Mas. Kan di sana banyak kepulauan. Bisa saja dia terdampar di sebuah pulau,” katanya.

Dalam kasus ini, Titin memang belum berkoordinasi dengan pihak Pemkot Surabaya. Namun, dia sudah membuat laporan ke kantor Basarnas di Juanda, Surabaya.

Selain itu, dia terus memantau pemberitaan melalui televisi. Dia berharap suaminya dapat ditemukan dalam waktu dekat.