POJOKAN itu tiba-tiba riuh. Mendadak-sontak. Mak bedunduk. Penuh tempik sorak (asli, ini kata bahasa Indonesia. Kalau sampeyan nggak percaya buka saja Kamus Besar Bahasa Indonesia. Di situ ada lema tempik, menempikkan, tempikan, hingga bertempik. Suwer gak goroh).

Ya, nggak riuh-riuh banget se. Nggak seperti pertandingan bal-balan. Tapi, lapangan cilik dengan pohon keres itu langsung full. Pos ronda dari kayu bercat merah di tepi lapangan dinaiki bocah-bocah yang menjulur-julurkan kepala.

”Ati-ati njlungup, Le. Iki ibuke endi, se?,” kata Lik Bari. Girang betul dia sore itu. Warungnya laris. Jasjus dan pop ice yang dijualnya ludes. Nyaris.

Magnet keriuhan itu berada di tengah lapangan. Seruan-seruan pendek, juga suara tetabuhan, muncul dari situ.

Yak, saiki Rambo nang pasar. Kulak sing akeh. Hiss…!” lelaki berkumis itu berkata sambil menyentakkan rantai besi di tangan kirinya. Ujung rantai yang lain melingkar pada leher makhluk kelabu dengan ekor panjang. Bedhes.

Sentakan rantai dari si kumis menjadi aba-aba khusus bagi Rambo, monyet kelabu itu. Ia lantas melemparkan senapan mainan dan meraih gerobak mini di dekat tuannya. Dan berjalanlah ia. Megal-megol.

Anak-anak tertawa. Orang-orang tua ikut gembira.

”Sudah lama saya ndak nonton tandhak bedhes,” kata Pak Soni sambil melepas kacamata plusnya.

”Saya juga, Pak,” timpal Cak Waras. ”Nggak tega. Ini penyiksaan binatang,” tambah Cak Waras.

Halah, Cak. Wong atase tandhak bedhes ae loh. Kathik mbahas hak asasi bedhes barang. Ndak usah bergaya aktivis-aktivisan,” jawab Pak Soni.

Cak Waras tersenyum kecut.

Sampeyan tahu, Pak. Banyak monyet yang disiksa biar bisa atraksi. Dicancang, digantung, dipecut. Biar mereka bisa jalan tegak. Biar manut sama pawangnya. Monyet-monyet itu juga dijualbelikan secara ilegal saat masih bayi. Sik wayahe ngempeng wis didol nang pelatih-pelatih bedhes,” kata Cak Waras.

”Masak, Cak?” timpal Cik Lan.

”Lho, ya apa Cik Lan. Banyak baca. Situ kan guru TK. Bisa ngajari muride soal perikebinatangan,” Cak Waras langsung nyerocos.

”Soal tandhak bedhes, saya tahunya juga dari koran. Ini, yang sedang ramai dirubung ini, tandak bedhes gagrak Jawa Timuran. Pawange satu, alat musiknya satu, bedhes-nya bisa main macem-macem atraksi cilik.

Ada lagi gagrak Jawa Baratan. Alat musiknya banyak. Ada yang pakai keyboard juga. Monyete biasanya dikasih sepeda, terus ditarik pakai rantai panjang. Bedhese juga dikasih topeng,” papar Cak Waras.

”Bayangkan, betapa tersiksanya si bedhes diontang-anting pawang seperti itu,” ujarnya.

Cik Lan diam. Pak Soni pura-pura tak mendengar.

Masak ginian dilarang, Cak? Ini kan kesenian rakyat,” gumam Cik Lan. Matanya memandang ke tengah lapangan. Rambo, si bedhes, sedang tiarap sambil membawa teropong kecil. Seperti tentara mau perang.

”Dilema, ya Cik. Pak Kumis si pawang itu pasti juga butuh makan. Apa pun, ini profesinya. Embuh, wis…” ujar Cak Waras.

***

Beberapa kali Pak Kumis menyentakkan rantai pendek itu. Tapi Rambo tak lagi bergerak. Monyet kelabu itu hanya tersengal-sengal di tanah. Terlentang. Matanya membelalak ke langit. Topeng bujang ganong tergeletak di ujung jemari tangannya.

Pak Kumis makin nanar. Ujung matanya mulai basah. ”Ayo, Rambo. Bangun! Kamu harus main lagi. Nanti kukasih makan sampai kenyang,” serunya.

Anak-anak mulai ketakutan. Mundur. Gumaman penonton kian membubung. Pak Kumis panik. ”Yang kuat, Rambo! Sekali ini saja,” dia menggerung. Meraung. Meratapi rekan kerjanya yang tak mampu bergerak.

Satu-dua anak menjerit saat Pak Kumis tiba-tiba melompat ke samping Rambo. Rantai yang melingkari leher monyet itu dilepas. Dia kalungkan rantai itu ke lehernya sendiri. ”Gini, Rambo. Ayo, kita kerja lagi. Ayo menarilah. Tirukan aku…” jerit Pak Kumis.

Pawange dadi bedhes!’‘ seru seorang bocah. Kali ini, ibu-ibu yang menjerit. Mereka bubar. Lari ke rumah masing-masing.

Tinggal Pak Kumis yang masih menandak-nandak di tengah lapangan seperti bedhes.

Cak Waras menghela napas.

Kasihan.