Kamu ingin jadi PNS? Sayang sekali, Lur. Pendaftaran CPNS sudah ditutup 15 Oktober lalu. Meksi begitu, huru-hara dan kontroversi soal profesi PNS belum berhenti diperdebatkan, lho.

Ada yang menganggap jadi PNS itu menarik karena mendapat bonus dan gaji yang wow banget. Ada juga yang mikir kalau jadi PNS sudah tidak lazim di zaman sekarang.

Asumsinya: generasi milenial seharusnya lebih memilih jadi pekerja kreatif atau entrepreneur.

Sebenarnya begini ya, jadi PNS atau enggak itu karep-karepmu. Yang penting nggak usah saling maido. Tapi, akan saya beri gambaran argumen rincinya lebih dulu.

Saya beberapa kali membaca artikel yang beranggapan bahwa cita-cita jadi PNS adalah warisan pemerintah Orde Baru (Orba). Di zaman itu, jadi PNS bisa meningkatkan derajat sosial ketimbang profesi petani, buruh, nelayan, atau pedagang.

Namun perlu diingat, dulu gaji PNS kecil banget. Ini dialami bapak saya yang jadi PNS pada era Soeharto. Gaji bapak waktu itu hanya cukup untuk membeli beras dan susu buat anak-anaknya.

Mborok banget nggak, sih?

Rumah masih numpang, motor enggak ada. Bahkan untuk menyekolahkan anak-anaknya, bapak harus mengamen. Saya miris kalau mengingatnya.

Keluarga saya jadi bahan gunjingan tetangga, dianggap orang miskin karena sering utang sembako.

Zaman berganti dan birokrasi berubah. Soeharto turun berok dan sekaligus menandai era baru PNS. Yang saya tahu, sekarang PNS adalah simbol kesejahteraan. Tidak seperti bapak saya yang harus ngamen, padahal siangnya pakai baju Korpri.

Ini membuat saya mengambil satu kesimpulan. Di zaman Raja Soeharto, anggapan jadi PNS enak itu hanya omong kosong. Semboyan ‘eh piye, enak jamanku tho!’ jelas tidak berlaku di keluarga kami.

Ini juga menguatkan argumen bahwa jadi PNS itu tidak enak: diperintah negara, harus patuh, manut, dan tidak bisa mengungkapkan ide kreatif.

Akhirnya saya bercita-cita seidealis mungkin. Ingin kerja bebas, tidak dikekang, menjadi tuan atas diri sendiri, dan bisa berkarya. Mantap tho?

Tapi, setelah mengalami berbagai fase kehidupan yang enggak baik-baik amat, akhirnya saya jadi guru di Rembang. Saya pun mulai berpikir bahwa jadi PNS tidak ada salahnya.

Pikiran bodo amat soal omong kosong makmur kaya-rayanya PNS yang dialami bapak saya perlahan bergeser. Zaman berganti dan birokrasi berubah. Soeharto turun berok dan sekaligus menandai era baru PNS.

Yang saya tahu, sekarang PNS adalah simbol kesejahteraan. Tidak seperti bapak saya yang harus ngamen, padahal siangnya pakai baju Korpri.

Tapi, pola pikir PNS kamu juga jangan sempit seperti Orba. Kalau ingin jadi PNS di era sekarang, kamu harus punya niat melakukan jalan kebaikan dan punya semangat perubahan.

Kalau kamu ingin jadi PNS hanya karena gajinya, jangan harap ada perubahan apa pun. Tambah mborok seng iyo.

Banyaknya kasus penangkapan pengusaha dan oknum PNS oleh KPK membuktikan bahwa negeri ini butuh PNS yang berintegritas, idealis, bersemangat, dan tahan banting.

Sampai kapan negeri ini hanya gini-gini aja karena banyak hal bobrok dan nggateli pol-polan?

Negeri kita sedang bergerak ingin berubah. Kita yo kudu mbantu, rek. Jadi PNS adalah pilihan yang masuk akal untuk mengabdi pada negara. Enggak haram, enggak buruk, dan enggak malu-maluin.

Jadi, kalau ada motivator yang ngajakin kalian jadi pengusaha dengan dalih menjadi PNS itu cita-cita kuno, kamu bisa mbantah entek-entekan!

Lha kalau kamu jadi pengusaha, terus saat ngurus izin usaha malah diperas dan dipersulit, yang rugi siapa hayo?

Itu masih beruntung kalau nggak ketangkep KPK. Jadi, enggak usah ngece kalau PNS itu cita-cita kuno.

Buat motivator yang saya sebut di atas, mulai sekarang nggak usah deh melarang orang menggapai cita-cita jadi PNS.

Atau, saya bisa sebut kalau motivasi Anda jadi motivator sebenarnya hanya untuk ngompor-ngompori, tanpa bisa memberi solusi konkret atas kehidupan yang super njelimet ini.