Entah mengapa bulan September selalu begini-begini terus. Tiap tahun pasti ada perdebatan soal isu kebangkitan PKI, dan obat yang paling manjur adalah nonton film Pengkhianatan G30S/PKI buatan pemerintah Orde Baru.

Jujur saja, bagi saya film itu sangat membosankan. Dengan durasi waktu 4 jam lebih disertai adegan-adegan kekerasan yang mengerikan, siapa saja yang nonton film itu pasti mual.

Asli, film ini menurut saya tidak layak ditonton remaja dan anak-anak. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana anak-anak SD zaman dulu diwajibkan nonton film ini. Padahal, sudah jelas bahwa segala film yang di dalamnya terdapat adegan kekerasan tidak baik ditonton oleh anak-anak. Sebab, hal itu bisa mengakibatkan trauma yang mendalam.

Yang lebih parah, kalau anak-anak itu meniru adegan di film tersebut. Wong dulu ada siaran SmackDown di tvOne saja anak-anak di seluruh Indonesia bisa mempraktikkan adegan brutal kepada temannya, lha ini malah ada adegan bunuh-bunuhan.

Mau jadi apa anak-anak Indonesia di masa depan?

Saya baru saja menonton talk show Rosianna Silalahi di Kompas TV dengan judul Siapa Mau Nobar Film G30S/PKI. Rosi mengundang purnawirawan Jenderal Gatot Nurmantyo, sejarawan Asvi Warman Adam, dan Direktur Amnesty International Usman Hamid.

Di situ saya melihat argumentasi Gatot Nurmantyo dari zaman pas dia jadi panglima TNI sampai pensiun. Ya cuma begitu-begitu saja argumennya. Tidak ada hal baru dari data dan fakta yang dia ungkapkan.

Saya heran, kok produser televisi enggak bosen-bosennya ngundang itu orang. Yang dia ucapkan selalu sama. Kalau enggak kaos PKI, buku-buku PKI, adanya unsur PKI yang mau menghapus Tap MPRS 25/1966, ya tidak adanya materi G30S/PKI di pelajaran sejarah di sekolah-sekolah.

Kalau soal kaos dan buku-buku PKI, rasa-rasanya kok kita jadi bangsa penakut banget ya. Katanya kita ini bangsa yang besar, bangsa yang kuat, kok sama kaos dan buku saja takut.

Ya, kalau ada kaos PKI dipakai sama dedek-dedek remaja, Pak Gatot buat dong kaos Bahaya Laten Komunis. Kalau misalnya takut dengan buku-buku yang dianggap pro PKI, ya buat dong buku-buku yang anti-PKI. Gitu aja kok repot!

Kalau kata Gus Dur, “Ngapain sama PKI kok takut.”   

Terkait anggapan Pak Gatot tentang pelajaran G30S/PKI yang sudah tidak diajarkan di sekolah-sekolah, mungkin Pak Gatot belum pernah tanya sama cucunya di sekolahan.

Sampai sekarang pun, sejarah G30S/PKI itu masih diajarkan guru-guru sejarah. Versinya masih pakai versi Orba, pelaku utamanya juga sama; PKI yang salah. Artinya, pendapat Pak Gatot itu hanya asbun. Dih!

Kalau soal upaya penghapusan Tap MPRS 25/1966 tentang pelarangan ajaran komunis dan simbol-simbolnya, itu dulu pernah diinisiasi oleh Gus Dur. Gus Dur itu presiden, kiai, dan intelektual lho Pak Gatot, jangan sembarangan menuduh.

Gus Dur saat itu melihat bahwa tragedi 1965 itu murni konflik politik dan kekuasaan. Nah, setelah ’65 itu, Gus Dur menilai diskriminasi terhadap orang-orang yang dianggap PKI sudah keterlaluan dan cenderung menguntungkan Orde Baru yang dianggap pengawal Pancasila.

Pernah suatu kali pada saat wawancara di Kick Andy Metro TV, Gus Dur bilang bahwa konstitusi negara kita melindungi seluruh warga negara Indonesia. Jadi, dengan dalih apa pun, kita tidak boleh menindas hak orang lain karena perbedaan politik. Kalau kata Gus Dur, “Ngapain sama PKI kok takut.”   

Nah, yang paling membuat saya geram, film ini selalu dianjurkan ditonton agar generasi milenial lebih paham sejarah. Sebab, asumsinya, generasi milenial enggak paham terkait geger ’65.

Eh Pak, saya ini juga generasi milenial! Saya juga belajar soal sejarah G30S, tapi sampai hari ini gak ada tuh televisi yang mau ngundang saya untuk jadi narasumber.

Herannya lagi, yang diserang ini kan generasi milenial yang katanya enggak paham sejarah, lha kenapa kok tiap ada acara talk show gak ada satu pun pembicara dari generasi milenial?

Padahal, menurut saya, seharusnya televisi juga mengundang remaja dan anak muda untuk ikut membahas pro-kontra film itu. Kita dengarkan argumen generasi milenial secara langsung. Jangan hanya seolah-olah peduli sama generasi milenial, padahal ada maksud tersembunyi. Misalnya, agenda politik atau pilpres.

Plis Pak, kita ini juga sudah paham dan gede. Kita bisa nyari film dan artikel di internet yang berjubel itu. Bapak mau versi yang mana? Film versi Jagal? Atau versi Senyap? Atau versi Shadow Play? Hah!

Kalau buku-buku selain yang ditulis sama Nugroho Notosusanto, Pak Gatot mau saya kasih versi yang mana? Karya John Roosa Dalih Pembunuhan Massal? Wijaya Herlambang Kekerasan Budaya Pasca 1965? Atau punyanya Max Lane Unfinished Nation?

Seolah-olah tiap ada isu G30S/PKI, pasti kita ini yang jadi sasaran. Dianggap apatis dan tidak tahu apa-apa. Nah, saya malah sepakat dengan idenya Pak Jokowi, kalau jadi sih, buatin film G30S versi terbaru dan dengan sumber-sumber yang lebih objektif.

Jangan hanya versinya Pak Harto yang dipakai, versi John Roosa dong sekali-kali berani enggak?

Saya kasih saran untuk semua media televisi. Kalau mau bahas G30S, ajaklah generasi milenial untuk tampil. Misalnya, Young Lex. Atau Anya Geraldine ~