Panduan ini saya darma baktikan untuk adek-adek calon mahasiswa baru.

Begini. Musim penerimaan maba di perguruan-perguruan tinggi masih berjalan. Yang berhasil diterima di universitas idaman merasa meraih puncak kebanggaan. Sayangnya, percayalah, warna kehidupan setelah lulus kelak tidak akan ditentukan oleh universitas mana yang jadi tempat belajar kalian.

Menurut riset saya yang berbasis terawangan spiritual, sebagian besar penentu warna hidup itu adalah orang-orang yang kalian jumpai, bagaimana cara kalian berinteraksi, dan yang tak kalah pentingnya adalah siapa dan bagaimana orang yang kalian pilih sebagai suami atau istri.

Kenapa suami dan istri saya sebut-sebut di sini? Karena fase kuliah adalah fase yang paling strategis dalam memilih pasangan hidup! Itulah kenapa mencari jodoh adalah agenda utama yang wajib diprioritaskan melebihi urusan IPK.

Menurut riset saya yang tadi itu, orang yang malas mempersiapkan fase kehidupan berumah tangga sejak kuliah rata-rata akan lebih picky lagi jika menunda proses itu hingga saat sudah bekerja. Entah apa penyebab riilnya. Bisa jadi karena saat bekerja, waktu dan ruang interaksi kita menyempit hanya sebatas teman-teman sekantor. Alternatifnya sangat sedikit. Yang sedikit itulah yang punya peluang terbesar untuk menjadi calon pasangan kita.

Sementara, kalau terbiasa bekerja bersama, kita akan jauh lebih sering melihat sisi-sisi menyebalkan dalam diri seseorang. Tak terkecuali pada rekan sekantor yang mau kita prospek. Kita pun ilfil jadinya, penuh kebimbangan, terus mempertimbangkan ulang, dan pertimbangan itu bisa mundur hingga lima atau lima belas tahun ke belakang.

Beda sekali dengan di masa kuliah. Kita belum akan melihat sisi-sisi paling njelehi dari seseorang tanpa pernah bekerja bersama. Makanya, cinta-cintaan semasa kuliah relatif awet. Setelah lulus, lalu bekerja, mendadak ortu menuntut kita buat lekas kawin, dan di situlah minimnya konflik dengan pasangan berpadu dengan momentum yang tepat.

Bisa dibuktikan, ada jenis-jenis perjumpaan calon jodoh semasa kuliah yang berpotensi besar berakhir di pelaminan. Saya coba mengklasifikasikan beberapa kategori tersebut.

Pertama, jodoh dari teman sejurusan. Ini model proses yang paling ekonomis. Kuliah bersama, bikin tugas bersama, pas ujian contek-contekan bersama, eh eh jatuh cinta. Atau kalau beda angkatan ya yang lebih senior tampil sebagai konsultan akademis buat yang junior. Sangat irit, sangat efektif, meski dunia mereka jadi relatif homogen.

Saat sudah kawin, pasangan seperti itu akan menyadari bahwa koleksi buku mereka sama semua.

Kedua, jodoh dari kawan beda jurusan tapi sefakultas, atau malah lain fakultas. Pasangan dari jenis ini tidak cuma ngurus kuliah, dan tidak menghabiskan hidup mereka dengan perbincangan dari perspektif ilmu yang persis sama. Repotnya, potensi konfliknya lebih besar, karena mereka terbiasa mencerna masalah dari cara yang berbeda. Apalagi kalau yang satu dari fakultas eksak, satunya lagi dari non-eksak.

Bayangkan saja ketika berhadapan dengan satu masalah, si cowok memakai sudut pandang kritik sastra, sementara si cewek dari sudut pandang teori medis kedokteran. Jelas susah ketemunya.

Tapi di dunia nyata, pasangan yang begitu memang nggak ada sih. Mosok cowok Sastra bisa dapat cewek Kedokteran? Ngimpi!

Ketiga, jodoh produk rohis atau keluarga mahasiswa takmir musholla. Ini termasuk metode efektif lain, selain produk jurusan. Rata-rata, anak-anak rohis sudah terobsesi untuk menikah muda. Tentu saja demi menyempurnakan agama. Makanya, dalam setiap kegiatan bersama, di kajian-kajian atau kepanitiaan Ramadan, pemindaian calon jodoh itu dijalankan secara optimal.

Dulu di rohis fakultas tempat saya nongkrong juga begitu. Ada ketua rohis yang kerap berdebat dengan seorang ukhti dalam perkara arah perjuangan dakwah, eh tau-tau keduanya menikah. Ada yang tampak diem-dieman, tapi tiba-tiba membagi undangan.

Nama rohis kami Keluarga Mahasiswa Islam Fakultas Sastra (KMIS) UGM. Namun saking banyaknya pernikahan dari sana, KMIS diberi kepanjangan tambahan menjadi Kesempatan Mencari Istri dan Suami.

Keempat, jodoh produk unit kegiatan mahasiswa universitas (UKM). Saya tidak berani memberikan gambaran lengkap dari metode yang ini, karena nanti bisa diomelin istri. Anu, kami berdua memang produk model ini wkwkwk.

Kelima, jodoh produk organisasi ekstra kampus. Ini termasuk model ideal. Kenapa? Sebab dalam perjalanan hidup selanjutnya, pasangan produk beginian tidak akan mengalami benturan-benturan ideologis. Damai sekali.

Kalau satu pasangan ketemunya di KAMMI, ya jelas sama-sama jadi aktipis 212. Kalau ketemunya di HMI, mereka akan kompak mendukung Anies Baswedan sampai kiamat, karena kakanda senior wajib disupport dalam kondisi dan kelakuan politik seperti apa pun.

Kalau ketemunya di IMM, mereka akan diam-diam nyoblos PSI, dan sama-sama disindir-sindir di berbagai WAG berbasis massa Muhammadiyah konservatif. Kalau ketemunya di PMII, kemungkinan besar mereka bahkan jadi timses caleg PKB terdekat di Pemilu lalu.

Keenam, jodoh produk Kuliah Kerja Nyata. Saya tidak tahu apakah masih banyak kampus yang menyelenggarakan KKN. Semoga saja masih, sebab penghapusan KKN sama artinya dengan penggagalan ribuan perkawinan.

KKN memang sangat sakti. Dalam satu pondokan, kita menjumpai rekan kita lawan jenis mulai bangun tidur pas belum cuci muka sampai tidur lagi, melihat dia cuci piring, cuci baju, atau saat rambutnya basah sehabis mandi keramas. Intensitas kedekatan dengan rekan KKN begitu membahayakan stabilitas iman dan taqwa.

Keenam, jodoh yang didapatkan semasa kuliah, tapi ketemunya di Fesbuk. Nah ini saya nggak enak mau memerinci yang model begini. Terlalu nganu. Bhahahaha!

Akhirulkalam, selamat menjalani masa kuliah, Adek-adek yang berbahagia. Jangan percaya segala omongan saya tadi. Urusan kawin kok diatur-atur orang….