Jamu dikenal sebaai minuman mujarab asli Indonesia. Dalam jamu, terdapat tanaman-tanaman herbal yang memiliki khasiat sangat tinggi. Bermacam penyakit pun dipercaya bisa sembuh setelah mengonsumsinya.

Tapi seiring perkembangan zaman, jamu seolah ditinggalkan. Entah karena adanya konspirasi dari industri farmasi, kenakalan pedagang jamu yang tidak menjual jamu sebagaimana mestinya, atau logika masyarakat zaman sekarang yang lebih percaya pada obat-obatan yang dijual di apotek.

Padahal, jamu sudah dikonsumsi di zaman mbah-mbah kita dulu. Ini membuat badan mereka selalu seger waras. Tak pernah terserang bermacam-macam penyakit seperti sekarang.

Orang Jawa zaman dahulu, pada umumnya lebih memilih ke toko atau bakul jamu daripada harus pergi ke apotek. Mbah-mbahnya kita dulu ini lebih percaya kepada racikan serta adukan para bakul jamu daripada harus mengikuti resep dari dokter.

Para orang tua itu seperti tahu akan sakitnya sendiri dan mengerti harus melakukan apa. Laku spiritual seperti ini yang sepertinya tidak ada di generasi milenial sekarang.

Hal-hal semacam itulah yang terangkum dalam acara Obrolan Budaya di Pro 4 RRI Surabaya (6/8). Acara ini mengambil topik “Jamu Jawa Warisan Budaya Adiluhung.”

Pembicara yang hadir berasal dari kalangan dokter ahli medis herbal maupun budayawan. Diantaranya DR. Erna Setyaningrum. D.CL, Ki Didiek Utoyo, Cak Moedjito, dan Cak Ries Handana Prawiradirja.

Sebagaimana dijelaskan di atas, jamu memang sebuah ramuan mujarab yang sudah diyakini, dipercaya, dan terbukti. Ki Didiek Utoyo menyatakan, itu semua terangkum dalam lakon ketoprak yaitu “Ragil Kuning Bakul Jamu” maupun “Dewi Sekartaji Bakul Jamu.”

Dalam lakon itu, diceritakan bagaimana awal mula sang tokoh membuat jamu hingga khasiatnya. Lagu Jawa “Suwe Ora Jamu” yang amat terkenal, sebenarnya juga merangkum banyak tanaman herbal yang berfungsi sebagai obat. Diantaranya daun ketela, daun meniran, daun sligi, maupun tanaman rempah-rempah lainnya.

Para penjajah yang datang ke Indonesia di zaman dulu kala, salah satu tujuannya tak lain adalah untuk mencari tumbuhan-tumbuhan ini. Tanaman herbal ini dipercaya orang barat mempunyai khasiat sangat tinggi.

Ini membuat tanaman yang tumbuh subur di Indonesia ini ingin diambil alih oleh mereka. Tanaman-tanaman ini juga punya harga yang mahal jika dijual ke Eropa. Padahal di Indonesia, tanaman ini selalu tumbuh subur di kebun-kebun masyarakat Jawa.

Tanaman kencur, jahe, maupun kapulaga yang bisa menghangatkan badan, jadi daya tarik para kolonial yang daerahnya sana memang sangat dingin.

Diceritakan oleh Cak Moedjito, orang dulu selalu mengonsumsi jamu. Sakit apa saja pun minumnya jamu.

“Kalau sakitnya lebih parah, jamunya akan semakin pahit atau sering disebut jamu pahitan. Jamu pahitan ini memiliki filosofi tersendiri, bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang berbuah manis, orang harus merasakan pahit terlebih dahulu. Selain ampuh, orang Jawa se-relijius itu pada jaman dahulu.”

Namun yang patut catat, seperti dijelaskan oleh Dr. Erna, dunia kedokteran Barat telah secara tidak langsung membuat jamu ini kurang disukai, tidak ilmiah, bahkan sampai disebut minuman berbahaya.

“Dunia kedokteran yang diikuti oleh orang Indonesia sekarang adalah dunia kedokteran barat. Dimana itu biasa disebut farmasi. Sedangkan dunia kedokteran kita dulunya adalah dunia kedokteran timur, seperti yang dilakukan di China. Sehingga di China, kalau belajar kedokteran ya belajarnya herbal untuk pengobatan.”

Sayangnya, di Indonesia, dunia pengobatan ini masih condong ke barat yang menggunakan obat-obatan seperti kapsul, tablet, atau pil. Padahal, dalam obat-obatan itu, banyak yang menggunakan bahan sintetis maupun kimia.

“Tentu banyak efek sampingnya jika menggunakan obat-obatan itu, sedangkan kalau menggunakan herbal ini, efek sampingnya relatif lebih kecil. Khasiatnya pun luar biasa. Obat-obatan yang tersedia di apotek pun biasanya juga diekstrak dari tumbuh-tumbuhan yang ada di Indonesia.”

Tapi kurangnya penelitian terkait dunia pengobatan herbal ini membuat pengobatan memakai jamu kurang dipercaya di kalangan dunia medis. Kita lebih percaya kepada dunia farmasi karena sudah teruji dan ada penelitiannya. Sedangkan untuk jamu dan minuman herbal sangatlah kurang sehingga menjadi kurang dipercaya dengan dunia medis.

“Kita lebih percaya dengan farmakologi karena sudah teruji, ada penelitiannya, komposisinya terukur, efek sampingnya tahu, jenis penyakit yang bisa diobati jelas. Tapi untuk jamu general, dipercaya oleh orang Jawa untuk satu jamu semua penyakit bisa sembuh. Padahal kan sebenarnya tidak seperti itu. Untuk jamu ini hasil penelitiannya masih tembung jare atau dari lisan ke lisan.”

Perlunya peran pemerintah untuk mengkampanyekan hasil uji laboratorium tentang jamu agaknya memang harus terus digalakkan.

“Pemerintah semestinya menampilkan temuan-temuan baru tentang jamu sehingga bisa dipercaya dan dikonsumsi oleh masyarakat. Seperti baru-baru ini ditemukan kulit sirsak bisa mengobati kanker, tapi tidak pernah jelas komposisinya seperti apa.”

Perlunya dokter khusus untuk tanaman obat di rumah sakit dinilai sangat perlu. Karena selain banyak berguna untuk kesehatan, jamu ini juga mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi.

Kalau jamu tak kembali dipopulerkan, kita akan semakin terjajah dengan obat-obatan asing, yang efek sampingnya berbahaya dan juga bukan produk asli Indonesia.

Jadi, sudahkah kamu minum jamu hari ini? Sinom, beras kencur, temulawak, wedang uwuh, dan yang lainnya. Wah, segereee..