PERKEMBANGAN teknologi tampaknya akan selalu jadi tantangan para ahli agama untuk merumuskannya.

Tak perlu jauh-jauh berpikir bagaimana astronot yang berada di luar angkasa bisa salat (karena di atas sana, waktu jadi rancu. Sebab, tak ada yang namanya matahari terbit dan terbenam).

Perkembangan teknologi terbaru juga akan memunculkan kebingungan. Baru-baru ini, perusahaan Just di San Francisco berhasil membuat sebuah daging yang dikembangbiakkan secara genetis dari DNA yang berasal dari sehelai bulu ayam.

Menurut CEO Just Josh Tetrick, dibutuhkan waktu dua hari untuk menghasilkan sepotong chicken nugget dalam bioreaktor kecil.

Mereka memakai protein guna memancing sel-sel untuk membelah diri. Dan setelah dua hari, voilaa… Sepotong chicken nugget seolah muncul dari ketiadaan.

Daging itu memang belum dikomersialkan. Tapi, Josh sudah menargetkan untuk meluncurkan daging tersebut akhir tahun ini.

Oya, daging itu memang daging ayam. Bukan seperti burger vegan atau tepung tumbuhan yang diberi rasa daging di resto-resto vegan.

***

Kemajuan teknologi itu tampaknya akan mengundang perdebatan di Indonesia atau negara-negara Islam lainnya.

Sebab, bagaimana hukumnya memakan daging ayam (atau kelak sapi dan kambing) yang tidak disembelih dengan cara Islam? Atau mungkin lebih ekstrem, seperti memakan daging yang hewannya masih hidup?

Bagi sejumlah kaum Islam, terutama yang tekstualis, persoalan ini tak sekadar memakan daging. Tapi, makan juga terkait ibadah.

Dengan segala kemungkinan halal dan haram daging itu, banyak kaum muslim yang tetap memilih makan daging yang hewannya disembelih dengan cara Islam. Produk daging ajaib tersebut tampaknya akan sulit laku.

Pertanyaannya, akan sampai kapan? Sebab, inovasi itu bisa menyelesaikan salah satu masalah penting di dunia ini. Yakni, memperpanjang daya dukung bumi terhadap manusia.

PBB menyebutkan, memperbesar skala ternak untuk makanan dapat memicu pemanasan global serta mencemari udara dan air. Semakin banyak hewan ternak, tentu semakin banyak kotoran dan limbah.

Hal itu diperparah dengan jumlah manusia yang terus bertambah. Rata-rata manusia menyembelih 70 miliar ternak (bukan ikan) untuk memberi makan 7 miliar manusia.

Pada 2050, jumlah manusia akan mencapai 9 miliar. Semua peternakan mungkin akan sulit mengembangbiakkan sapi, kambing, dan ayam dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Maka, jika mesin bioreaktor kecil tersebut diproduksi dalam jumlah banyak, manusia tak perlu lagi bingung mengembangbiakkan ternak dalam jumlah masif.

Pertanyaannya, bagaimana hukum memakan daging itu? Apakah daging tersebut halal?

***

Bagi seorang muslim, makanan halal adalah harga mati. Bahkan, banyak fenomena di Indonesia. Ada orang yang salat bolong-bolong, tapi tetap tak makan babi atau makanan haram. Hal-hal seperti itulah yang harus dipikirkan segenap ulama Islam.

Bagaimana mengantisipasi hal-hal yang tak mungkin terbayangkan oleh ulama Islam pada abad ke-7 hingga ke-9 (generasi yang biasa disebut salaf)?

Apakah kehidupan sekarang yang begitu kompleks bisa diatur oleh hukum-hukum yang secara strict mengacu hukum Islam abad ke-7 hingga ke-9?

Seharusnya pemikir hukum Islam mulai mengarahkan ijtihad dan pengembangan penafsiran ayat-ayat Tuhan dan hadis. Bagaimana mengambil spirit aturan fikih hingga bisa relevan di kehidupan sekarang.

Dasar-dasar penentuan waktu ibadah, misalnya. Dulu, waktu ibadah ditetapkan berdasar pergerakan matahari ke bumi.

Tidak ada yang salah sebenarnya. Tapi, belakangan diketahui bahwa ada beberapa belahan bumi yang waktunya tidak seperti di Arab (dan Indonesia).

Di Kutub Utara dan Selatan, umpamanya. Siang dan malam di sana hanya berganti dua kali setahun. Jadi, enam bulan siang dan enam bulan malam.

Lalu, bagaimana dengan ibadah salat dan puasa orang-orang yang kebetulan tinggal di sana?

Atau ambil contoh ekstrem: astronot yang harus berada di luar angkasa selama berbulan-bulan. Tentu saja dia tidak mengenali siang dan malam seperti kita yang ada di bumi.

Bagaimana wudunya, salatnya, puasanya? Apakah ada dispensasi atau bagaimana?

Itu menimbulkan tantangan besar bagi segenap umat muslim. Sebab, Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin dan bisa diterapkan dalam kondisi apa pun.

Jika memang seperti itu, Islam tentunya luwes dan bisa disesuaikan dengan kondisi apa pun.

Celakanya, Islam di Indonesia justru kerap menjadi kendaraan politik. Hingga menguatkan politik identitas Islam. Yang terjadi adalah perdebatan menjemukan dan perang ayat di media sosial. Bukan perdebatan produktif yang membawa solusi.

Apalagi, karena tensi politik, tensi dan sensitivitas umat Islam justru meninggi. Setiap upaya dan pertanyaan untuk menyesuaikan Islam dengan kandungan lokal langsung dicap bidah.

***

Untuk masalah ini, ada satu cerita yang menurut saya paling pas menggambarkan situasi kejumudan yang mengandalkan dogma sebagai dasar pemikiran.

“Dulu di sebuah tempat, ada pohon dengan buah yang sangat berkhasiat bagi manusia. Tapi, karena keserakahannya, manusia mengambil buah tersebut dengan sesuka hati. Akibatnya, pohon itu menjadi langka dan ekosistem terancam. Ada seorang bijak di kawasan itu yang mengetahui permasalahannya. Dan dia ingin mengambil langkah untuk mencegah kepunahan pohon tersebut.

Cara yang paling tepat, murah, dan efektif adalah keyakinan. Orang bijak itu kemudian berkata kepada semua penduduk bahwa buah di pohon itu tidak boleh diambil. Namun, pohonnya harus dikembangbiakkan. Jika buah itu diambil, para dewa akan murka dan mengazab mereka.

Penduduk yang ketakutan mengambil larangan tersebut sebagai fatwa untuk menanam banyak-banyak pohon itu, dan tak mengambil buahnya.

Waktu berlalu. Orang bijak yang tahu persis konteks dan permasalahan konservasi itu meninggal. Penduduk terus berganti generasi.

Hingga setelah berganti empat generasi, pohon tersebut tumbuh subur. Buahnya sangat berlimpah untuk dinikmati penduduk di kawasan itu.

Tapi, buah tersebut tak lagi diambil dan jatuh muspro dari pohonnya. Sebab, penduduk terlalu takut dengan aturan orang bijak itu. Mereka tak berani mempertanyakannya karena dianggap bidah.”

Bukankah cerita itu sama persis dengan kondisi beragama saat ini di Indonesia? Yang begitu mudah dipakai untuk membidahkan seseorang yang berani mempertanyakan relevansi sebuah aturan?