Seorang ustad muda mengeluh di timeline Facebook-nya. Dia mengatakan bahwa Islam modern ini telah kalah. Lalu merujuk ke kasus Miftahul Jannah, pejudo Indonesia yang akan bertanding di Asian Para Games 2018.

Jannah kemudian memutuskan mundur dan rela didiskualifikasi karena tak ingin melepas jilbabnya untuk bertanding.

Belakangan, diketahui bahwa Jannah sebenarnya sudah tahu larangan itu dan ingin mendobrak aturan tersebut.

Kita tahu sendiri bagaimana kelanjutannya. Insiden yang sebenarnya sederhana itu kemudian berubah menjadi seolah-olah ada ancaman terhadap Islam. Seolah-olah Islam selalu dikalahkan.

Yang lebih membuat mengelus dada, kasus tersebut berkembang menjadi gorengan politik. Seperti pemerintah yang tidak berpihak pada Islam lah, dan macam-macam. Yang intinya membuat Islam seperti terdesak dan hendak diberangus habis.

Banyak dari umat Islam yang seperti jerami kering. Mudah dibakar. Bahkan, ketika diberi hoax sengawur apa pun, mereka tetap menerimanya. Menyedihkan.

Kita tahu bahwa kebanyakan gorengan agama itu bermotif politik. Salah satu cara paling ampuh (dan paling licik) untuk meraih basis konstituen loyal adalah menakut-nakuti mereka. Bahwa kita sedang terancam oleh yang liyan. Agamamu terancam. Maka, kamu harus memilihku supaya Islam selamat. Trik lawas. Tapi, anehnya selalu bekerja dengan baik.

Tentu saja trik itu tidak akan berlaku jika cara beragama kita sudah dewasa. Ibaratnya, tak akan bisa membakar jerami yang basah.

Celakanya, di Indonesia, banyak dari umat Islam yang seperti jerami kering. Mudah dibakar. Bahkan, ketika diberi hoax sengawur apa pun, mereka tetap menerimanya. Menyedihkan, tapi begitulah kenyataannya.

Berikut ini hal-hal yang mengindikasikan bahwa Islam justru kalah bukan karena pihak luar, namun dari pemikiran pemeluknya sendiri.

Gempa dan Tsunami Adalah Azab

Inilah yang paling membuat geleng-geleng kepala. Bahwa gempa, tsunami, dan likuefaksi yang terjadi di Palu dan Donggala adalah dampak ditetapkannya Nur Sugik sebagai tersangka.

Ini benar-benar melecehkan akal. Bagaimana bisa seseorang yang diklaim ulama yang gemar berkata kasar dan menyakitkan bisa memengaruhi pergerakan lempeng bumi dan mengakibatkan pergerakan gelombang air laut?

Apa pun, mengatakan bahwa gempa terjadi karena azab adalah sebuah fallacy alias sesat pikir.

Gempa adalah peristiwa geologi pergerakan lempeng bumi biasa. Begitu pula peristiwa-peristiwa yang disebut bencana seperti badai, topan, tornado. Itu mekanisme alam biasa saja, tak peduli ada manusia atau tidak di dalamnya.

Ambil contoh mengenai badai pasir dan listrik yang selalu terjadi di Mars. Jika logika ini diterapkan, badai di Mars itu untuk mengazab siapa?

Atau tak perlu jauh-jauh. Di bumi, terjadi lima kepunahan besar makhluk hidup. Jadi, ketika asteroid selebar 5 km menabrak bumi 65 juta tahun lalu, apakah itu azab untuk dinosaurus? Apakah para dinosaurus itu sudah rusak moralnya, suka pesta seks LGBT? Ihh… Kok jadi ngeri dan aneh imajinasinya sih…

Atau ketika Gunung Toba meletus 74 ribu tahun lalu, menimbulkan gempa skala besar dan tsunami di kawasan Sumatera, apakah itu juga azab? Apakah karena para Homo sapiens, Homo neanderthals, dan Homo denisovan tyda meniqa dan suka seks bebas antar spesies, lalu dihukum dengan bencana tersebut?

Rumit gaes, kalo logika seperti itu diterapkan.

Memang, ada hadis-hadis yang menyuruh manusia beribadah lebih banyak ketika terjadi bencana. Tapi, spirit sebenarnya adalah bahwa manusia itu sangat rentan binasa. Manusia tidak akan mampu bertahan jika ada peristiwa geologis yang menimbulkan perubahan iklim besar.

Di situlah gunanya ibadah. Mati sangat dekat bagi manusia, maka isilah hidupmu dengan hal-hal yang baik dan benar.

Bukan lantas menyebut bencana yang terjadi itu adalah azab. Cobalah sesekali datang ke kamp pengungsian di Lombok, Donggala, dan Palu, lalu bilang: “Hey, bencana ini karena kalian diazab”. Dijamin, my love, mereka pasti akan mbrodol sak ulu-ulune…

Lagi pula, ketika kemalangan menimpa kelompok yang gemar bilang bencana itu azab, mereka pasti akan menyebutnya ujian. Jadi, jika mereka yang malang, itu ujian. Tapi kalau orang lain, itu bencana. Nggateli, kan? Njaluk dijantur, kan?

Ekonomi

Salah satu yang dikeluhkan ustad muda di timeline-nya adalah pemberdayaan ekonomi. Menurut dia, Islam kurang memberi warna pada banyak aspek kehidupan manusia. Terutama ekonomi.

Selama ini, yang dominan adalah model ekonomi kapitalistis. Bukan model ekonomi Islami. Akibatnya, kerap terjadi ketimpangan sosial.

Untuk yang satu ini saya setuju, dan ingin sekali ada perubahan yang lebih adil. Tapi, pertanyaannya, ada tidak model ekonomi Islam yang bisa menggantikan model ekonomi sekarang secara komprehensif? Saya khawatir jawabannya belum ada.

Sejauh ini, banyak kalangan, termasuk aktris, yang berhijrah. Salah satu kampanyenya adalah ekonomi. Mereka menolak riba. Yang termasuk riba adalah kredit dan utang ke bank.

Sekali lagi, saya sangat mendukung perubahan. Saya tentu ingin mendapat pinjaman KPR, pinjaman kredit mobil, tanpa bunga.

Selama ini, saya dan sobat misqueen lainnya selalu terjerat utang. Terjerat sistem kapitalis. Rasanya, kita bekerja hanya untuk membayar utang. Yang mungkin baru lunas ketika usia lebih dari 40 tahun. Hiks. Mengenaskan sekali.

Tapi, sekali lagi, saya belum pernah ketemu model ekonomi Islam yang bisa membantu saya dan para sobat misqueen untuk mendapatkan hal-hal dasar kehidupan. Sandang, pangan, papan.

Mungkin ada kisah-kisah orang yang karena keyakinannya bisa mendapat rumah gratis atau pinjaman lunak. Tapi, itu hanya perkecualian.

Seharusnya para ekonom Islam bisa menjawab kebutuhan masyarakat. Yakni, kebutuhan untuk memperoleh rumah, pakaian, dan penghidupan yang layak tanpa terjerat utang. Ini soal mendasar dalam ekonomi dan kebutuhan manusia.

Harusnya, model ekonomi Islam (jika ada), bisa diakses siapa pun. Semakin banyak penggunanya, tentu akan berkembang dan bisa menggantikan model ekonomi kapitalistik. Tapi, celakanya, memang model ekonomi Islam belum bisa menggantikan keefektifan model ekonomi kapitalistik sekarang ini.

Sekadar diketahui, ekonomi yang (tidak) kita pilih dan senangi sekarang adalah ekonomi yang digerakkan di atas utang. Istilah kerennya, fractional reserve lending.

Dan yang namanya utang atau kredit, dalam model tersebut, harus ada bunganya. Selisih itulah yang digunakan pihak bank untuk mengatur lalu lintas uang dan operasional, membagi dividen komisaris, serta mengembangkan usaha. Jika ada bunga, tentu saja riba. 

Meski sangat ribawi, model ekonomi kapitalistik sangat efektif. Dimulai ketika ekonom Skotlandia Adam Smith menerbitkan buku The Wealth of Nations, maka arah baru model ekonomi berubah.

Utang dan kredit menjadi bentuk imajinasi manusia yang tertinggi. Hingga manusia bisa mengembangkan ekonomi sampai katakanlah 10 persen lebih besar ketimbang nilai riilnya.

Salah satu prinsip dasar ekonomi itu, dari setiap uang yang kita setorkan, bank boleh meminjamkan ke orang lain sebesar 90 persen dari simpanan tersebut. Uang itu terus berkembang.

Misalnya, kita menyimpan uang Rp 1 juta di bank, maka ekonomi bisa bergerak hingga Rp 10 juta. Dan, terjadilah pasar yang bekerja lebih besar dari jumlah uang yang dicetak pemerintah.

Produktivitas bertambah dan total GDP meningkat. Tentu dengan syarat: masyarakatnya juga mengonsumsi sebesar itu.

Kemudian, semakin besar roda ekonomi berputar, makin besar pajak yang bisa diambil pemerintah. Yang kemudian digunakan untuk membangun infrastruktur, menyediakan pelayanan publik, dan membayar utangnya yang diterbitkan melalui obligasi.

Jika kondisi ekonomi sehat, swasta juga sehat. Itu menandakan kesejahteraan bagi semua, sebagaimana yang diramalkan Adam Smith.

Memang ada banyak celah. Terutama yang pernah membaca Marx. Ternyata, kue ekonomi itu tidak rata distribusinya. Di dunia ini, 5 persen populasi menguasai lebih dari 50 besar perekonomian dunia.

Kemudian, kelas pekerja yang juga tak begitu beranjak tingkat kesejahteraannya, dan terancam bekerja seumur hidup untuk sekadar memenuhi kebutuhan pokok.

Tapi, kapitalisme selalu menunjukkan keuletan. Sistem ekonomi-lah yang berjasa menghentikan model peperangan ala zaman dulu. Yang ketika kerajaan tertentu bokek, dia harus berperang dan menguasai sumber daya alam di negara lain untuk memperbaiki ekonominya.

Sekarang tak perlu berperang karena konsep utang mampu melenturkan batasan ekonominya.

Selain itu, sistem utang memungkinkan pekerja nanggung seperti saya dan sobat misqueen lainnya untuk bisa memperoleh rumah (meski harus menanggung kredit 10–15 tahun, hiks).

Sayangnya, model ekonomi Islam gagal menjawab hal ini. Meski tentu saja mempunyai peran sendiri.

Sejauh ini, Islam setidaknya berhasil membuat moralitas pelaku di model ekonomi kapitalistik lebih baik. Tidak greedy. Kesadaran membantu orang hingga melenturkan aturan-aturan peminjaman, misalnya.

Tapi, itu hanya berlaku kasuistik. 

Tidak hanya berteriak, menghindari riba, tapi juga tak memberikan solusi terhadap masalah kebutuhan dasar masyarakat. Kalaupun berdiskusi, terasa seperti dakwah saja. Yakni, menggunakan preposisi-preposisi perniagaan zaman Rasul yang tentu jauh berbeda dengan model perekonomian sekarang.

Jadi, pertanyaan apakah Islam kalah ini tidak relevan. Di bidang politik, semangat “Islam sekarang kalah dan terpuruk, maka harus bangkit” kadang jadi permasalahan baru. Sebab, yang muncul nanti adalah semangat fanatisme ala zaman pertengahan dulu yang bisa memicu konflik horizontal.

Seharusnya para pemeluk Islam lebih menampilkan dirinya sebagai contoh. Bahwa Islam adalah agama yang ramah, merangkul, dan mengayomi. Selalu berpihak kepada wong cilik, membela yang lemah, serta memperjuangkan yang termarginalkan.

Bukan malah marah-marah dan melakukan persekusi. Setidaknya, dengan menjadikan yang minoritas merasa nyaman berdampingan dengan Islam yang mayoritas di Indonesia, itu sejatinya adalah kemenangan Islam.