Kamu suka Deadpool? Wajar. Sebab, Deadpool memang sosok anti-hero yang menggelitik. Meski urakan, ngomonge kisruh, begidakan, berwajah buruk, tapi dia memang lovable. Semua urakannya bisa dipahami, dan dia selalu berada di sisi yang benar tanpa menjadi moralis.

Lek koen seneng Deadpool, kudune yo seneng Wiro Sableng, Rek. Ini adalah salah satu karakter anti-hero paling tenar pada masa kiwari. Memang ada Panji Tengkorak, jagoan yang kemana-mana menyeret peti mati itu. Tapi, Panji terlalu suram. Terlalu mengecat kehidupan dengan warna hitam.

Bahasane es, biasa ae es, gak usah gaya-gaya. Gak cocok mbek praenane.

Juga ada karakter spin dari jagat persilatannya Bastian Tito, si pencipta Wiro Sableng. Yakni, Mahesa Edan dan Mahesa Kelud. Mahesa Edan digambarkan juga sama-sama anti-hero seperti Wiro. Sama-sama cengengesannya pula.

Punya guru bernama Kunti Kendil, berkonflik dengan gurunya, dan bersumpah tak lagi menggunakan ilmu gurunya. Dia memakai ilmu dari tokoh sakti yang di dunia Wiro sebanding dengan Kakek Segala Tahu, yakni Gembel Cengeng Sakti Mata Buta.

Mahesa Edan bersenjata nisan hitam, tapi kemudian dikuburnya. Tapi setelah tujuh episode, Bastian Tito menghentikan seri Mahesa Edan. Begitu pula dengan Mahesa Kelud. Hanya muncul sebagai cameo.

Jadi, bisa dibilang satu-satunya karakter anti-hero nggemesin di Indonesia adalah Wiro Sableng ini.

Saya termasuk salah satu dari sekian banyak anak dengan fantasi menjadi seperti Wiro Sableng. Membayangkan punya ilmu pukulan Sinar Matahari.

Dan nama-nama jurusnya itu lho, sangat membangkitkan gairah literasi (uopooo ikii. Kangelan golek istilah, hahaha). Seperti “Dewa Topan Menggusur Gunung”, “Kunyuk Melempar Buah”, “Dinding Angin Berhembus Tindih Menindih”, “Benteng Topan Melanda Samudera”. Koyoke suwangar.

Membayangkan jika punya ilmu-ilmu seperti ini, saya akan langsung ke Terminal Bungurasih. Preman yang sedang pesta miras saya datangi. Saya tendang botolnya, terus preman-premannya saya jewer sambil saya tegur, “Mbok sinau-sinau kono lho. Ngomba-ngombe ae”.

Jika ada yang kaget dan melotot ke saya, saya balas melotot dan menghardiknya, “Lho jek pecicilan ae matane”.

Ya, ya saya tahu, kamu pasti bilang “wong iki edan imajinasine”. Tapi, setidaknya ini membuktikan bahwa Wiro Sableng itu memang karakternya anti-hero banget. Seperti saya. (hihihi).

Bastian Tito membangun karakter anti-hero Wiro Sableng sangat teliti. Juga total. Buktinya, dia membuat lingkungan yang sama-sama sedeng-nya.

 

Gambaran karakternya di komik memang sangat lovable. Awalnya selalu soliter, pada novel-novel akhirnya, Wiro selalu ditemani dua sosok yang juga anti hero. Yakni, si Naga Kuning, bocah konyol yang perwujudan sebenarnya adalah kakek sakti bernama Kiai Paus Samudera Biru, dan si Setan Ngompol, kakek ganjen yang klep menahan kencing di cucak rowo-nya sudah rusak. Ketawa, beser. Marah, beser. Sedih, beser.

Itu masih belum ditambah dengan sahabat-sahabatnya yang lain. Seperti Bujang Gila Tapak Sakti, karakter yang nantinya bakal muncul di film tersebut. Keponakan dari tokoh tua sedeng lainnya, Dewa Ketawa. Kakek tambun yang kemana-mana naik keledai, tapi keledainya hanya dikempit, dan kakinya sendirilah yang jalan.

Sepertinya di Wiro Sableng, yang gak edan itu cuma karakter perempuan muda-nya dan para penjahatnya. Mereka digambarkan ideal betul. Jika perempuan mudanya adalah protagonis, maka dia akan cantik, lembut, sakti, dan mencintai Wiro.

Sementara penjahatnya, selalu penjahat serius. Pangeran Matahari, Hantu Muka Dua, Mahesa Birawa (villain di film pertama, yang juga pembunuh ayah-ibunya) adalah karakter yang sekelas dengan Joker.

Jadi, sesungguhnya dalam bidang anti-hero, Deadpool itu dibandingkan Wiro Sableng tak ubahnya urek-urek kuping saja. Secara karakter pun, Wiro Sableng lebih lama. Sudah populer pada 1980-an, sementara Deadpool muncul kali pertama di komik Marvel pada 1991.

Jika Wiro Sableng masih saja kalah tenar dengan Deadpool, itu mungkin ya cuma kalah kemasan saja. Sebab, Bastian Tito membangun karakter anti-hero Wiro Sableng sangat teliti. Juga total.

Buktinya, dia membuat lingkungan yang sama-sama sedeng-nya. Mulai dari guru-gurunya, si Sinto Gendeng dan Tua Gila, sampai ke sahabat-sahabatnya juga.

Jadi, ketika mendengar Wiro Sableng difilmkan, tentu saja saya sangat antusias. Apalagi, kabarnya menggandeng produser Hollywood, dan pengerjaannya standar Hollywood juga. Siapa yang gak kemecer, sebab dengan efek ala kadarnya di sinetron Wiro Sableng dulu saja, saya sudah cukup puas.

Menonton Deadpool, tapi gak mau melihat Wiro? Saya rasa sebaiknya kamu mundur saja gak usah menggemari anti-hero. Mending nonton si Unyil saja.