SEPERTI yang sudah-sudah, Indonesia selalu disibukkan dengan ritual tahunan tiap akhir September: PKI. Tiap tahun pula, ada satu kelompok yang selalu menyebut “awas PKI” seolah PKI adalah seperti Voldermort yang tak pernah mati dan terus membayangi.

Kelompok ini pula yang getol menyuarakan pemutaran film G30S/PKI, seraya menuding yang tidak menyerukan itu adalah PKI juga. Logika yang jika diterapkan akan terasa aneh.

Jika anda tidak mau diajak menonton film bokep, maka anda berarti pemain bokep.

Sedangkan kelompok yang berseberangan juga begitu reaktif dan seolah-olah menyebut PKI adalah korban murni. Mereka yang tidak paham bahwa sebelum G30S meletus, konflik-konflik horizontal berbasis ideologi memang terjadi. Juga, massa PKI dulu juga kerap melakukan penyerangan. Begitu pula sebaliknya.

Sementara, suara para cendekiawan yang berusaha jernih kerap dipotong dan disitir untuk penguatan argumen kelompok masing-masing. Sesuai kepentingan. Bahwa kampanye soal PKI ini lebih didorong oleh kepentingan politik. Bukan murni untuk melihatnya sebagai salah satu periode paling kelam republik ini.

Padahal, peristiwa ini seharusnya dikaji dengan jernih, dan menjadi cermin pengingat supaya tidak terjadi di masa datang. Total, antara 500 ribu – 2 juta orang terbunuh, jutaan lainnya mengalami diskriminasi, hingga kini.

Untuk itu, tulisan ini mencoba memberikan perspektif-perspektif sebelum anda berdebat dengan sengitnya di medsos soal PKI di masa datang.

Ada berapa versi kejadian 30 September 1965?

Sejauh ini, dari banyak penelitian, ada tiga narasi utama yang berusaha menjelaskan siapa dalang utama peristiwa berdarah tersebut.

Yang pertama, adalah versi Orde Baru, yang selalu diajarkan di sekolah-sekolah saat Orde Baru. Versi ini menyebut bahwa PKI adalah dalang utama peristiwa biadab tersebut. PKI berusaha merebut kekuasaan dengan melenyapkan para jenderal TNI-AD, satu-satunya kekuatan yang dianggap perintang utama. Caranya adalah dengan menghembuskan isu adanya dewan jenderal, dan satu faksi bersenjata ditugaskan untuk membunuh para jenderal tersebut.

Hampir berhasil, tapi TNI-AD sigap, menyerang balik, dan dalam semalam dapat dipukul balik. Kemudian, demi keamanan negara, terjadi “balas dendam” rakyat kepada massa PKI yang brutal.

Yang kedua, menyebut bahwa ada klik di TNI-AD, dan Suharto kemudian mengambil kesempatan melenyapkan pesaingnya, sembari menyalahkan PKI sebagai dalang aksi tersebut. Teori ini dikemukakan oleh Indonesianis terkenal Ben Anderson dan Ruth McVey, dan karena keduanya dari Cornell University, maka teori mereka disebut sebagai Cornell Paper.

Teori ini kemudian mendapat banyak penguatannya. Di antaranya keterlibatan CIA untuk membantu Suharto. Sebab, Indonesia dipandang sebagai benteng terakhir pertahanan di Asia Tenggara terhadap komunisme.

Sementara, kebijakan Sukarno lebih condong ke kiri. Sehingga, AS memandang perlu untuk menjatuhkan Sukarno. Salah satu bukti yang kuat adalah ketika berusaha menggulingkan Presiden Allende di Chili, operasi CIA di sana menggunakan sandi “Operasi Jakarta”.

Yang ketiga, dalangnya adalah Presiden Sukarno. Motifnya untuk melenyapkan sejumlah jenderal, yang saat itu terang-terangan mengkritik kebijakannya. Pencetus teori ini adalah sejarawan AS Anthony Dake.

Sumber dari teori ini adalah kesaksian ajudan Presiden Soekarno, Bambang Widjonarko, di Mahmilub. Selain itu, teori ini didukung oleh kebingungan Sukarno saat berada di Bandara Halim Perdanakusuma pada 1 Oktober dini hari, jaminan perlindungan ke sejumlah pimpinan PKI. 

Pertanyaan-pertanyaan kritis yang harus dijawab

Ada beberapa hal yang harus bisa anda jawab sebelum anda berdebat. Di antaranya seperti ini:

– PKI adalah partai terbesar ketiga di dunia (setelah Partai Komunis Rusia dan Partai Komunis Cina) dengan dua juta anggota inti dan 20 juta simpatisan. Jika memang merencanakan pemberontakan, apakah mungkin bisa dipukul dalam waktu semalam?

– Situasi politik saat itu sangat menguntungkan PKI. Kebijakan Presiden Sukarno sangat pro ke mereka. Bahkan, sebagian besar menteri di kabinet Sukarno adalah kader PKI. Mereka juga sudah menginfiltrasi di militer. Pertanyaannya, kenapa mereka harus mengkudeta rezim yang jelas-jelas sangat menguntungkan mereka?

Beberapa fakta yang juga harus dipahami

– Pada tingkatan massa, memang terjai gesekan sengit antara PKI dan warga desa. Jargon “Lenyapkan Tujuh Setan Desa” dan program landreform menjadi salah satu penyebab utamanya.

Massa PKI memang kerap melakukan aksi massa yang provokatif dan show of force di desa-desa. Hal-hal seperti inilah yang kemudian menjadi pemicu terjadinya pembantaian besar-besaran ketika arah angin berbalik.

– Ada banyak kesaksian yang menyebutkan bahwa Pangkostrad Letjen Suharto mengetahui rencana aksi pasukan Cakrabirawa malam itu. Namun, dia tidak melakukan apa-apa untuk mencegah. Selain itu, jenderal-jenderal yang dibunuh kebetulan merupakan faksi yang tidak segaris dengan Suharto. Bahkan, Jenderal A. Yani dikenal sebagai salah satu loyalis Sukarno.

– Salah satu operator Gerakan 30 September yang paling vital perannya dan sekaligus paling misterius adalah Syam Kamaruzzaman. Dia tidak pernah diketahui nasibnya, dan menghilang misterius. Ada yang disebut ditembak mati di luar kota.

Tapi, yang jelas, dia dan Suharto mempunyai kedekatan. Mereka tergabung dalam Kelompok diskusi Pathok, Jogjakarta dan menjadi salah satu tangan kanan Soeharto dalam Serangan Umum 1 Maret Jogjakarta.

Lalu, apakah PKI benar-benar ada, dan menyiapkan kebangkitan?

Untuk satu hal ini, tak perlu menjadi jenius untuk bisa menjawabnya. Pertanyaannya sederhana, siapakah di zaman sekarang ini benar-benar berani mengaku sebagai PKI?

Tak peduli kamu seorang komunis sejati sekalipun, kamu akan berpikir ulang untuk melakukannya. Sebabnya sederhana, itu cari perkara namanya. Siapa yang berani mengaku PKI?

Ok, saya tahu, kalian yang percaya kebangkitan PKI, bisa menjawab bahwa tentu saja harus sembunyi-sembunyi dan tak berani mengaku.

Tapi, logika pertanyaan itu juga mengalami kebuntuan juga. Lah, jika tak berani mengaku, dan harus diam-diam, bagaimana caranya menjadi besar?

Jangankan untuk mengumpulkan 100 orang sebagai simpatisan PKI dan bergerak bersama, untuk mengaku saja sudah tak akan berani.

Lagi pula, jika memang benar PKI akan bangkit, tentu mereka sudah mempunyai kekuatan yang patut diperhitungkan. Sebagai perbandingan, anggota Jamaah Islamiyyah pada awal-awal pengeboman di era 2000-an, misalnya. Jumlah mereka tak seberapa, namun kita bisa merasakan adanya peningkatan radikalisasi.

Logikanya, jika PKI yang katanya lebih besar dari mereka saja kok tidak terasa ada peningkatan aktivitas tersebut.

Jadi, mbak-mbak dan mas-mas gaes, soal PKI dan komunisme itu sebaiknya dibicarakan dengan hati dan pikiran terbuka. Bukan dengan sudah membawa frame masing-masing, lalu berdebat tiada juntrungannya.