Dikutip dari Estu Palupi Maharani dan berbagai sumber.

Trenggalek termasuk salah satu kabupaten di Jawa Timur yang sejarahnya tak terlalu banyak diceritakan. Padahal dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa sebenarnya sejak zaman Raja Airlangga, sudah ada pedagang-pedagang Islam yang berdakwah di sana.

Namun, penyebaran agama Islam lebih terlihat sejak jaman para wali, yang didukung dengan kemunculan berbagai kerajaan Islam di Nusantara. Ajaran ini disebar secara halus dan hati-hati ini punya cerita yang sangat terkenal.

Salah satunya tentang seorang tokoh terkenal di Kabupaten Trenggalek yang bernama Menak Sopal.

Untuk menyusun sejarah setempat, cerita yang terdengar dari para leluhur memang tak bisa dihiraukan begitu saja. Harus dipisahkan antara mana yang sejarah dan mana yang dongeng. Begitu pula dalam sejarah Menak Sopal ini. Banyak versi tentang cerita Menak Sopal, tetapi pada dasarnya, intinya tetap sama.

Dan dalam hal ini, Dam Bagong di daerah Bagong, Trenggalek, jadi awal mula ceritanya.

Ada salah satu hikayat yang menyebut, pernah ada tokoh Kerajaan Mataram yang ditugasi mengatur daerah di timur Ponorogo atau Trenggalek. Tokoh ini tersohor dengan nama Ki Ageng Galek. Kerajaan Mataram dalam cerita ini adalah Mataram yang masih di bawah Kerajaan Majapahit, bukan Mataram Islam.

Ini dibuktikan dari nulilan Kitab Negara Kerta-gama pupuh VI bait 3 yang ditafsirkan Prof. Dr. Slamet Mulyana dalam bukunya, Nagarakertagama dan Tafsir Sejarahnya  terbitan 1979:

“Haji raja ratu ing Mataram lwir Yang Kumara nurun.”

Artinya: Raja di Mataram laksana Dewa Kumara datang di Bumi.

Saat Ki Ageng Galek baru saja bermukim di lingkungan tersebut, seorang mubaligh muda yang bernama Minak Sraba yang masih bujangan juga membuka pondok pesantren di daerah Bagong. Dalam kurun waktu yang hampir bersamaan, datanglah seorang putri dari Keluarga Raja Majapahit yang bernama Rara Amiswati, yang kemudian menjadi anak angkat Ki Ageng Galek.

Dikutip dari Babad Tanah Trenggalek, Rara Amiswati atau Dewi Amiswati atau Dewi Amisayu (berbagai sumber tidak ada yang menjelaskan secara gamblang nama sebenarnya dari Sang Putri). Dewi yang merupakan putri dari kerajaan Majapahit ini disebut “Dewi Amiswati” sebab punya luka di kedua kakinya yang menimbulkan bau busuk.

Memang udah jadi kebiasaan di Tanah Jawa masa lampau memakai nama yang “diserupakan” dengan nasib yang menimpa si pemilik nama.

Semua obat sudah gunakan guna menyembuhkan penyakit sang putri, namun tak ada satupun yang memberi kesembuhan. Ki Ageng Galek pun mencoba berbagai supaya bisa menyembuhkan Sang Putri, namun tak ada satupun yang bisa menyembuhkannya.

Hingga akhrinya, Ki Ageng Galek menyuruh Sang Putri untuk mandi di Sungai Bagongan. Karena merasa malu dan sedih hati, maka Putri Amisayu mengucapkan sayembara:

“Barangsiapa yang bisa menyembuhkan luka-lukanya, kalau perempuan akan dianggap saudara dan bila laki-laki akan dijadikan suami.”

 BERSAMBUNG