KH. Mustaqim bin Husain lahir di
desa Nawangan, kecamatan Keras, kabupaten Kediri, pada tahun 1901 Masehi. Ketika
masih berusia 13 tahun, Mustaqim bin Husain mengabdi kepada Kiai Zarkasyi di
dusun Tulungagung.

Beliau belajar membaca Al-Quran
serta ilmu agama kepada Kiai Zarkasyi. Pada usia yang masih muda, KH Mustaqim
bin Husain dikaruniai Allah hati yang dapat berdzikir menyebut nama Allah
secara berulang-ulang tanpa henti.

Dari kekuatan dzikir yang demikian tadi, Hadratus Syaikh
Mustaqim bin Husain juga dikaruniai Allah ilmu sirri atau ilmu mukasyafah.
Beliau bisa mengetahui ilmu ghaib, alam barzakh dan alam jin, serta
keinginan-keinginan yang terbersit di hati orang lain.

Semasa hidup, beliau tak pernah lupa amalan bahwa
sebelum dan sesudah wirid harus meminta pada Allah agar mendapat empat hal: hati
yang bersih dari sifat madzmumah (sifat tercela), kekalnya iman sampai
sakaratul maut dan bisa membaca kalimat thayyibah, serta bisa husnul khatimah
dan semua hal yang barakah, maslahah, manfaat di dunia dan akhirat.

Riwayat di Zaman Penjajahan
Jepang (1942-1945)

Saat menjajah bangsa Indonesia, Kolonial
Jepang memaksa rakyat Indonesia untuk melakukan Seikirei (menghadap ke timur saat
matahari terbit untuk menyembah kepada matahari yang merupakan cara ibadah
kepercayaan Shinto).

Selain itu, tepat jam 7 pagi,
rakyat diwajibkan membungkuk menghadap ke barat laut ke
arah kota Tokyo. Ini demi memberi hormat kepada Tenno Haika, Raja Jepang.

Kedua perintah Jepang itu, ditolak
dan dianggap musyrik oleh KH. Mustaqim dan ulama lainnya. Mereka menentang hal
tersebut serta tak mau melakukannya.

Tak terima penolakan ini, Pemerintah
Jepang beranggaan bahwa para ulama dan kyai akan melakukan pemberontakan pada
pemerintah Jepang. Sehingga pemerintah Jepang banyak melakukan penyiksaan
kepada para kyai, termasuk KH. Mustaqim.

Penyiksaan Jepang yang dialami
oleh Syaikh Mustaqim antara lain: tubuh dijepit dengan satu bal es batu di dada—ditambah
satu bal lagi di bagian belakang sambil tubuh beliau dirantai.

Syaikh Mustaqim juga dijatuhkan
dari ketinggian mencapai 10 meter dan perut beliau diisi air lewat hidung
dengan menggunakan pipa kecil yang dimasukkan ke lubang hidung dengan kasar. Siksaan
seperti ini juga dialami oleh kyai-kyai lainnya.

Anehnya, selama penyiksaan
tersebut terjadi, tak pernah sedikit-pun KH. Mustaqim bergeming. Konon, saat
disiksa, tak ada satupun bekas siksaan ada pada tubuh beliau.

Wejangan KH. Mustaqim

Kalau berbicara, KH. Mustaqim bin
Husain dikenal banyak memakai kalam
kinayah
(sindiran) daripada kalam sharihah (kata terang-terangan). Begitu
juga jika akan terjadi peristiwa yang aneh, beliau hanya memberi isyarat saja.

Konon, KH. Mustaqim pernah
memelihara ayam yang punya dua warna. Sebelah kanan berwarna merah, sedangkan
yang sebelah kiri berwarna putih bersih. Pada awal bulan Rabi’ul Awal, sambil
memegangi kedua ayam-nya, KH. Mustaqim pernah berkata, “bangsa Jepang berada di
Indonesia masih 6 bulan lagi.”

Saat itu, tak ada yang paham
maksud KH. Mustaqim. Namun perkataan beliau terbukti. Sampai Jumat Legi tanggal
9 Ramadhan 1363 H, atau bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 1945 M, Negara
Indonesia resmi bebas dari cengkeraman penjajahan bangsa Jepang.

Karena kesaktian itulah, beberapa
wejangan beliau hingga saat ini banyak diingat santri di PETA Tulungagung, di
antaranya: menjadi orang mukmin itu harus sering memotong kuku. Artinya, jadi
orang mukmin itu harus menghilangkan sifat ‘ujub (merasa dirinya paling baik)
dan supaya bisa ikhlas.

Yang kedua: “menjadi murid
thariqah itu seperti orang yang antri karcis di loket. Terkadang didesak oleh
temannya, diserobot gilirannya, dan ketetesan keringat temannya. Akan tetapi
semua itu jangan dihiraukan, tetaplah menghadap ke loket.”

Artinya, menjadi murid thaariqah
itu terkadang mendapatkan gangguan dari orang lain, keluarga, bahkan dari
sesama murid. Jangan hiraukan dan tetap menghadap ke depan. Hanya berharap
barakah kepada guru mursyid supaya bisa cepat mendapat tiket pesawat Thariqah
Syadzaliyyah.

Yang ketiga: mencari ilmu di
depan guru mursyid harus seperti orang yang mencari rumput, tapi jangan seperti
orang yang mencari rumput.

Artinya, orang yang mencari
rumput jika melihat ke bawah, akan mendapat rumput yang banyak, wadahnya cepat
penuh. Tetapi jika melihat ke tempat lain, sepertinya rumput yang kita lihat di
tempat yang lebih jauh terlihat lebih subur daripada rumput yang ada di dekat kita.

Kenyataannya, rumputnya sama
saja, bahkan lebih sedikit. Karena kebanyakan pindah-pindah maka waktunya habis
dan wadah rumputnya tetap kosong. Orang yang mencari ilmu haqiqat harus
menghadap pada satu guru, jangan sampai melirik guru yang lainnya.