KH Umar Syahid atau yang lebih dikenal dengan panggilan Mbah
Umar Tumbu adalah salah satu saksi yang turut berjuang bersama para ulama saat
pemberontakan PKI tahun 1948 dan 1965. Dengan usia yang mencapai 132 tahun,
Mbah Umar Tumbu dikenal sebagai ulama paling berumur panjang di Indonesia.

Dilansir dari laman NU Online, KH Abdul Mun’im DZ Wasekjen
PBNU sempat menjenguk Mbah Umar Tumbu beberapa hari sebelum beliau wafat pada
Januari lalu. Saat itu, Mun’im juga sempat mengenang kisah lama soal
kepahlawanan Mbah Umar Tumbu.

Diceritakan, saat peristiwa pemberontakan PKI 1948 di
Madiun, Mbah Tumbu sedang berjualan di Madiun dan menyaksikan langsung
pembantaian para ulama. Tapi ternyata, berjualan hanyalah kedok penyamaran
supaya selamat dan tak dicurigai sebagai ulama. Saa itu, Mbah Umar Tumbu memang
punya peran penting sebagai informan terkini di Madiun.

“Dari aktivitas berjualan itulah, dia menjadi informan bagi
para kiai untuk menghadapi PKI. Sebab dia bisa berjalan ke mana saja tanpa
dicurigai PKI,” ujar Mun’im.

Sementara sejarawan Agus Sunyoto menceritakan, pada 18
September 1948 sebanyak 1500 orang PKI menguasai tempat-tempat strategis di
Madiun. Keberhasilan PKI menguasai Madiun disusul terjadinya aksi penjarahan
dan penangkapan tokoh-tokoh yang bersebarangan dengan PKI.

Semua pimpinan Masyumi dan PNI ditangkap atau dibunuh.
Mereka menembak atau menyembelih orang-orang yang dianggap musuh PKI. Mayat
para korban banyak dibiarkan bergelimpangan di jalan-jalan begitu saja.

Serangan mendadak yang sama dilancarkan pada pagi hari
tanggal 18 September 1948. Dilakukan pasukan PKI di Trenggalek, Ponorogo,
Pacitan, Ngawi, Purwodadi, Kudus, Pati, Blora, Rembang dan Cepu.

PKI tidak hanya melenyapkan pejabat pemerintah saja, tapi
juga penduduk, terutama para ulama ortodoks. Tak hanya itu, banyak para santri
yang ditembak secara acak, dibakar sampai mati, bahkan disiksa hingga ajal
menjemput.

Banyak masjid dan madrasah dibakar, bahkan ulama dan
santri-santrinya dikunci di dalam madrasah, lalu dibakar tak bersisa. Para
korban keganasan PKI tersebut tak banyak melawan, mereka kalah jumlah dan
tenaga, santri-santri dan jamaah tak mampu mengimbangi pasukan PKI yang
menyerangnya.

Rumah umat Islam dirampok dan dirusak. Di sinilah Mbah Umar
Tumbu jadi salah satu saksi yang melihat langsung kebiadaban PKI Madiun 1948.

***

Semasa hidup, Mbah Umar Tumbu dikenal sebagai ulama waskito
(makrifat). Walau tidak pernah lihat TV atau memakai ponsel, tapi beliau tahu
persis anatomi konflik politik nasional yang sedang terjadi.

Ketika fisiknya masih agas, beliau keliling Jawa, menyiarkan
ajaran Islam dengan modal jualan (ketela) tumbu. Bahkan saat tak lagi mampu
berjalan, pengabdian beliau tak selesai begitu saja. Justru sebaliknya, beliau
memberi contoh yang seolah menyindir kita yg masih sehat.

Kisah lain menyebut, beliau sampai rela meninggalkan
pesantrennya dan kemudian mendirikan pendopo NU di atas lahan 1900 meter, di
sebuah desa di puncak bukit di Pacitan Selatan. Di sebelah pendopo itu,
didirikan menara NU setinggi 17 meter, yang dari dasar hingga puncaknya tertera
logo NU dan bendera Merah Putih.

Beberapa orang menganggap ini perbuatan sia-sia, mengerjakan
sesuatu yang tak jelas manfaatnya. Bayangkan, beliau membangun menara di
pedalaman yang jarang dilihat dan didatangi orang. Tapi beliau sebenarnya
sedang membuat mercusuar yang bertujuan untuk memberi kabar pada dunia bahwa NU
masih ada.

Menara sebagai perlambang mercusuar, punya filosofi bagus. Apapun
bentuk kapal yang lewat, entah agama atau ideologi, tidak boleh menabrak bumi
NU dan Nusantara ini. Menara yang dirancang Mbah Umar Tumbuh itu selanjutnya
diserahkan pada PCNU Pacitan.

Di hari tuanya, beliau rela hidup sendiri di
tempat sepi sebagai Banser atau satpam penjaga mercusuar NU. Dan sampai hari
wafatnya, kisah Mbah Umar Tumbu terasa tetap abadi.