Disampaikan oleh KH Ahmad Baso.

KH Muhammad Nawawi adalah pendiri dan pengasuh pesantren
Mangun Rejo, Jagalan, Kota Mojokerto. Salah satu perintis berdirinya Nahdlatu
Ulama (NU) di Mojokerto ini, juga dikenal sebagai pejuang kemerdekaan
Indonesia.

KH Nawawi lahir pada tahun 1886 di Dukuh Lespadangan Desa
Terusan, Kecamatan Gedeg, kabupaten Mojokerto dari pasangan Munadi dan siti
Khalimah.

Pada usia kanak-kanak, Kyai Nawawi mendapat pendidikan ilmu
tauhid dari ayahnya sendiri. Begitu memasuki usia sekitar tujuh tahun, beliau
dimasukan ke HIS-P (Hollandsch Inlandsche School Partikelir atau setingkat
Sekolah Dasar) yang dikelola pihak swasta.

Menginjak usia muda, beliau diantar ayahnya ke Jombang untuk
nyantri dan berguru pada KH. Hasyim Asy’ari di Pondok Pesantren Tebuireng. Ada
sebuah pesan dari ayahandanya yang beliau ingat ketika melangkah memasuki
gerbang pondok.

“Jadikan hidupmu berguna bagi agama dan bangsa,”
dan pesan ayahnya inipun sangat membekas pada diri beliau hingga dewasa..

Dari Tebuireng, KH Nawawi kemudian berguru pada KH Chozin di
pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo. Kyai Chozin dikenal sebagai ulama tafsir dan
guru besar sejumlah ulama kenamaan di Jawa. Termasuk KH Hasyim Asy’ari dan
putranya, KH Wahid Hasyim.

Setelah itu, beliau berguru pada Kyai Sholeh, Kyai
Zainuddin, dan Syaikhuna Cholil di pesantren Demangan, Bangkalan Madura.
Sekitar 15 tahun lamanya beliau habiskan untuk mengembara mencari ilmu.

Seusai menuntut ilmu, pada tahun 1914 dalam usia sekitar 28
tahun, KH Nawawi menikah dengan Nyai Nasifah, putri Kyai Syafi’i dari Dukuh
mangunrejo, Jagalan Mojokerto. Pasangan baru ini lalu menetap di Dukuh
Mangunrejo, dan dikaruniai enam putra-putri.

Beberapa tahun kemudian beliau menikah untuk kedua kalinya
dengan Nyai Bannah dan dikaruniai putra-putri. Putra sulung beliau, Abdullah
Muhaimin, diberi amanat melanjutkan mengurus pesantren sepeninggal ayahnya
(kini bernama Ponpes An Nawawiyah, Jl. Gajah Mada No. 118 Kota Mojokerto).

Salah satu nasehat beliau yang sampai saat ini banyak diingat
santrinya, “Makanlah apa adanya, adanya ketela, makan ketela; adanya
ganyong, ya makan ganyong. Jangan suka memanjakan diri, nanti tidak tahan
melawan penjajah!”

Nasehat itu terbukti di tahun-tahun berikutnya.

***

Pada masa pendudukan tentara Jepang, muncul pembatasan
terhadap segenap kegiatan organisasi politik maupun organisasi kemasyarakatan.

Meski mendapatkan tekanan dari Penjajah, KH Nawawi tetap
menghidupkan kegiatan-kegiatan ke-NU-an dengan memakai nama “Ahlussunnah
Wal Jama’ah”. Meski secara keorganisasian NU tidak diperbolehkan muncul di
ruang publik, tapi dakwah keagamaan tetap berjalan seperti biasa.

Demikian pula pengajaran patriotisme “cinta tanah air
dan bangsa adalah sebagian dari iman” yang selalu digaungkan oleh KH
Nawawi dalam dakwahnya. Ini dilakukan demi menggerakan semangat juang rakyat,
mempersiapkan diri berperang melawan penjajah.

Setelah Laskar Hizbullah di ijinkan berdiri pada Oktober
1944, mobilisasi pejuang pemuda Mojokerto untuk petahanan rakyat langsung
dimanfaatkan oleh Kyai Nawawi untuk mengkader anak-anak muda untuk pendidikan
bela agama dan bela negara.

Setelah Proklamasi kemerdekaan Indonesia, ancaman semakin
banyak bermunculan. Tentara Belanda kembali hadir dengan boncengan tentara
Inggris.

Saat itu ancaman terhadap keutuhan Republik Indonesia yang
baru merdeka juga terasa di Surabaya, 20 kilometer dari Mojokerto. Gejolak dimulai
pada akhir Oktober 1945 hingga meledaknya perang besar 10 November 1946—yang
kemudian dikenal sebagai Hari Pahlawan.

Para pasukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan Laskar Rakyat
di daerah pinggiran Surabaya dari Sepanjang hingga Krian Sidoarjo, berupaya
membendung laju pasukan Inggris agar tidak masuk Sidoarjo dan Mojokerto.

Saat itu Walikota Surabaya Rajiman Nasution Gelar Sutan
Komala Pontas, sempat menghadiri pertemuan Para ulama, tokoh masyarakat, dan
para anggota laskar di markas Hizbullah Mojokerto.

“Saudara-Saudara, pertempuran dahsyat telah terjadi
tadi malam di Sepanjang, Surabaya. Insya Allah, siang hari ini, pergerakan
tentara dan laskar kita akan dilanjutkan karena Belanda bermaksud masuk
Mojokerto. Siap-siap yang sanggup ke garis depan, supaya mencatatkan diri
nanti.Akan diatur pemberangkatannya,” jelas Walikota Rajiman.

Tiba-tiba ada seorang berpeci mengangkat telunjuk jari
kanannya sebagai tanda kesediaannya untuk diberangkatkan ke medan pertempuran
di Surabaya. Dan orang berpeci tersebut adalah KH Nawawi.

Beliau kemudian mendapat tugas memimpin pasukan Laskar
Sabilillah dan Hizbullah ke daerah Sepanjang dan Krian, membendung pergerakan
tentara Inggris dan Belanda ke arah barat.

Sebelum berangkat menuju medan perang, terlebih dahulu,
beliau ngaji di musholla dekat kediamannya—ini sudah jadi kebiasaan setiap akan
berangkat ke medan laga.

Usai memberi wejangan dan oras membakar semangat pada para
santri dan pejuang, masing-masing tentara beliau beri tujuh buah kerikil. Ahmad
Syueb, salah seorang santri beliau, mengaku kaget setelah melihat dan merasakan
sendiri bagaiman sebiji kerikil itu bisa membuat ledakan dahsyat seperti mortar
di arena pertempuran.

KH Nawawi juga memperlihatkan kepemimpinannya dengan
terlibat langsung langsung dalam pertempuran melawan tentara Belanda di garis
depan Sepanjang, Kedurus, dan Kletek.

Di kalangan anak buahnya, KH Nawawi dikenal sebagai seorang
pejuang yang tidak takut kena peluru. Kabarnya, beliau memburu lawan dengan
mengayun-ayunkan sebuah payung yang selalu dibawanya seperti sebuah tongkat.

KH. Muhammad Nawawi gugur sebagai Syuhada membela agama dan
negara pada tanggal 22 Agustus 1946, tepatnya di desa Klopo Sepuluh. Beliau
gugur setelah dikeroyok pasukan Belanda dengan menancapkan empat tusukan pisau
bayonet tepat di lehernya.

Belum sampai disitu, para penjajah juga membrondong hingga
puluhan kali ke arah dada dan kepala beliau.

Jenazah KH Nawawi terpaksa dibawa melalui jalan berliku
hingga akhirnya tiba di rumah KH Nawawi di Mojokerto. Sebab tentara Belanda
tidak menginginkan jenazah KH Nawawi dibawa pulang menuju Mojokerto.

Butuh perjuangan berat karena harus melalui hutan belantara
karena menghindari tentara Belanda yang berusaha menghadang jenazah. KH Nawawi
kemudian dimakamkan di pemakaman umum Desa Losari, Kecamatan Gedeg Kabupaten
Mojokerto.

Untuk menghormati dan mengenang perjuangannya, Pemerintah
Kota Mojokerto pada tahun 1967 mengabadikan perjuangan KH Muhammad Nawawi
menjadi sebuah nama jalan, yaitu jalan KH. Nawawi. Menghubungkan antara jalan
Residen Pamuji dengan jalan Bhayangkara.

Wallahu ‘Alam..