Cerita ini saya dapat dari seorang
narasumber yang sempat mondok di Ponpes Langitan. Data tambahan dari website
resmi Nahdatul Ulama.

Mari kita mulai kisahnya..

Kyai dengan banyak murid yang tersebar di seluruh dunia ini punya nama
lengkap Muhammad Mahfudz bin Abdullah bin Abdul Manan bin Dipomenggolo At-Tarmasi.
Beliau lahir pada 31 Agustus 1842 M, di Desa Tremas, Kecamatan Arjosari,
Kabupaten Pacitan (pada masa itu, Desa Tremas masih termasuk wilayah
Karasidenan Surakarta).

Saat lahir, sang ayah, Kyai Abdullah, sedang berada di Mekkah. Karena itu,
Syaikh Mahfudz kecil diasuh oleh ibu dan pamannya. Merekalah yang pertama kali
mengenalkan berbagai  nilai dan praktik
agama.

Menginjak umur enam tahun, Syekh Mahfudz kecil ikut sang ayah ke Mekkah untuk
menuntut ilmu. Bagi Syaikh Mahfudz, KH. Abdullah lebih dari sekedar seorang
ayah dan guru. Syaikh Mahfudz menyebutnya sebagai murobbi waruhi
(pendidikku dan jiwaku).

Syekh Mahfudz kecil digembleng ilmu tauhid, ilmu Al Quran dan Fikih, dengan
kitab wajib berupa Syarah al Ghayah li Ibni Qasim al Ghuzza, al Manhaj al
Qawim, Fath al Mu’in, Fath al Wahab, Syarh Syarqawi ‘ala al Hikam
dan
sebagian Tafsir al Jalalain.

Setelah cukup lama belajar, Syaikh Mahfudz kembali ke Indonesia, untuk
kemudian merantau ke Semarang dan belajar kepada Kiai Soleh Darat (1820-1190
M). Di Semarang, beliau mempelajari Tafsir Jalalain, Wasilah ath Thullab
dan Syarh al Mardini.

Saat menuntut ilmu, beliau tidak hanya terpaku pada ilmu agama saja, tapi
juga belajar pada banyak guru dari berbagai disiplin ilmu, seperti falak,
sejarah, hingga ilmu qari’at,

Beliau belajar kepada banyak guru seperti Syaikh Muhammad al Munsyawi,
Syaikh Umar bin Barokat asy Syami, Syaikh Musthofa bin Muhammad bin Muhammad
bin Sulaiman al Afifi, Habib Sayyid Husain bin Muhammad bin Husain al Habsyi,
dan banyak alim ulama lainnya.

Syaikh Mahfudz memiliki kitab khusus yang isinya mencatat semua sanad dari
setiap ilmu yang beliau pelajari. Kitab tersebut berjudul Kifayah al
Mustafid
.

***

Sebagai salah seorang ulama yang kepakaran dan keilmuannya di bidang agama
diakui dunia Islam, Syekh Mahfudz bin Abdullah At-tarmasi tak lantas melupakan
tanah kelahiranya begitu saja.

Ini dibuktikan dengan cara mengajar para santrinya di Masjidil Haram. Tak
jarang beliau menggunakan Bahasa Jawa di hadapan para santri. Walaupun tidak
sedikit santri yang berasal dari luar Jawa, bahkan luar Indonesia seperti Thailand,
Malaysia, India dan Syiria.

Namun secara perlahan para santri yang tidak
berasal dari tanah Jawa tersebut menjadi terbiasa dan akhirnya belajar Bahasa Jawa.

Beberapa murid atau santri beliau cukup dikenal sebagai ulama penting. Di
antaranya Syaikh Sa’adullah Al-Maimani, mufti dari Bombai India, Syaikh
Umar bin Hamdan, ahli hadits di Haromain, Muqri As-Shihab Ahmad bin
Abdullah dari Syiria, KH. M. Hasyim Asy’ari, pendiri NU, dan KH. Ahmad Dahlan pendiri
Muhammadiyah.

Saking cintanya pada Budaya Jawa, saat datang bulan maulid, nuansa tradisi
muslim Jawa terasa begitu kental di Mekkah. Bahkan, layaknya tradisi di Jawa,
lantunan sholawat nabi dan tabuhan terbang bergema di serambi Masjidil Haram.

***

Pada tahun 1894 M, Syekh Mahfudz menerima kabar bahwa ayahnya (Kiai
Abdullah) wafat, ia mengirim adiknya, Kiai Dimyathi untuk pulang ke Tremas.
Kemudian Kiai Dimyathi inilah yang meneruskan Pondok Pesantren Tremas.

Sementara, Syekh Makhfudz tidak kembali ke Nusantara dan memilih mengajar di
Mekah.

Saat musim haji tiba, banyak orang Jawa bermukim di Mekah dan berguru
langsung kepada Syekh Mahfudz. Bila santrinya hendak kembali pulang ke Jawa,
Syekh Mahfudz selalu menitipkan salam untuk saudaranya yang berada di Jawa.

Selain itu, para santrinya juga diminta untuk meneruskan belajar kepada
adiknya, Kiai Dimyathi yang kala itu mulai mengasuh Pesantren Tremas.

Hal ini menjadikan Pesantren Tremas semakin dikenal para jamaah haji dari
berbagai belahan dunia. Sejak saat itu, Pesantren Tremas mulai banyak didatangi
para santri.

Padahal, sebelumnya tak pernah terbayangkann. Desa Tremas yang terletak di
Pacitan saat itu sangat sulit dijangkau oleh manusia. Ini karena daerahnya berbukit-bukit
dan sebagian besar masih hutan belantara.

Belum lagi tidak adanya sarana transportasi memadai, sehingga semakin sulit
mengenalkan adanya tempat menempuh pendidikan di lokasi tersebut.

Selain itu, seperti kebanyakan ulama Nusantara lainya, Syekh Mahfudz menyelipkan
“At-tarmasi” pada belakang namanya. Tidak sampai di situ, ia juga
menulis nama At-tarmasi pada tiap judul kitab yang dikarangnya.

Di antaranya
kitab Hasyiah at-Tarmasi ‘ala Syarah Bafadhal dan Al-Fawaidz At-Tirmisiah ‘ala
As-Sanid Al-Qiro’at As’ariyahs. At-tarmasi semakin menggaungkan nama Tremas pada berbagai kalangan.

Setelah bermukim dan mengajar di Mekkah selama 40 tahun, Syaikh Mahfudz
wafat di Mekkah pada hari Rabu, tanggal 1 Rojab 1338 H, atau bertepatan dengan
20 Maret 1920 M. Beliau dimakamkan di Ma`la, Mekkah, tak jauh dari makam
Sayidah Khadijah, Istri pertama Rasulullah.

Jaringan transmisi ilmu pengetahuan berskala dunia ini, sudah menaikkan
reputasi beliau: seorang alim dari daerah ujung selatan Jawa Timur, yang pemikirannya
mendapat pengakuan ulama sedunia.

Sampai akhir hayatnya, Syekh Makhfudz dikenal tak hanya sebagai figur yang
dihormati, tapi juga menjadi teladan.