Disampaikan
oleh Danny Himawan Ma’shum, disadur dari buku biografi Mbah Kyai M. Mubasyir
Mundzir.

Hari Jum’at, akhir bulan Juni 1973. Suasana komplek
pesantren Al-Munawwir sedikit berbeda dari hari biasanya. Lebih hening dan
khidmat. Pada hari itu, berlangsung pernikahan KH. M. Mubasyir Mundzir dengan Nyai Zuhriyyah binti Kyai Munawwir.

Dengan suasana yang sangat sederhana, uang mahar pernikahan
Kyai Mundzir hanya sebesar 10 ribu rupiah. Sejarah mencatat, yang bertindak
selaku wali dalam pernikahan ini adalah KH. Ahmad Munawwir (kakak dari mempelai
putri).

Adapun yang meng-akad-i adalah KH. Ali Maksum,
sedangkan sebagai saksinya adalah Bapak Syai’an dan Gus Thoha—yang kemudian juga
yang bertindak sebagai pembaca doa.

Saat pernikahan itu, beliau berusia 55 tahun, sedangkan Nyai Zuhriyyah berusia 35 tahun—menurut hitungan kalender Hijriyah. Sebuah
usia yang teramat matang dan dewasa untuk membina rumah tangga.

Pada masa-masa awal beliau berdua berumah tangga,
saat itu Kyai Mundzir belum mempunyai rumah. Namun tanpa hal itu pun, dengan
penuh kesetiaan dan pengertian serta pengabdian, Nyai pun menerima hal ini dengan
ikhlas.

Bahkan beliau menerima ketika harus nunut ke tetangga apabila Kyai Mundzir
sedang ada urusan diluar. Tapi Nyai Zuhriyyah tak sedikitpun mengeluh dan tak
pernah menyesalkan sikap Kyai Mundzir kepadanya.

Dalam kehidupan sehari-hari, Kyai Mundzir maupun
Ibu Nyai Zuhriyyah senantiasa saling menjaga dan menghormati ke-istiqomahan
masing-masing pihak.

Saat menjalani kehidupan rumah tangga, beliau
yang mashur sebagai ‘Abid (ahli ibadah) maupun. Nyai sebagai seorang Hafizhoh
(penghafal Al Quran), masih menjalankan kebiasaan dan amalan-amalan sebagaimana
ketika beliau berdua belum menikah.

Tentunya tanpa melalaikan hak dan kewajiban
rumah tangga.

Seringkali, tatkala beliau selesai sholat dan
dzikir, beliau ingin bercengkrama dengan Ibu Nyai Zuhriyyah. Namun begitu melihat Nyai sedang “nderes” (muroja’ah hafalan Al-Qur’an nya), niat itu
beliau urungkan dan beliau kembali sholat dan dzikir lagi.

Begitupun sebaliknya, tatkala diwaktu senggang Nyai Zuhriyyah berkeinginan ingin bercengkrama dengan beliau, ternyata
beliau masih khusyuk menjalankan sholat dan dzikir, sehingga akhirnya Nyai
pun mengurungkan niat tersebut.

Mereka inilah yang sebenar-benarnya mencintai
dalam doa—hal yang sering dituliskan oleh pencinta sajak liris jagad media
sosial.

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali terjadi
hal-hal yang terkadang membuat trenyuh dan terharu bagi siapapun yang mendengar
dan meresapinya. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, pasangan ini memakai
panggilan romantis untuk keduanya, yakni yai
dan nyai.

Ada suatu kejadian saat Kyai Mahfudz menanyakan
tentang uang belanja kepada Nyai.

 “Nyai,
apa uang belanjanya masih ada?”

Ibu Nyai Zuhriyyah menjawabnya dengan santun dan
penuh rasa pengertian,

“Uang belanjanya kebetulan habis, Yai”

Setelah mendengar jawaban itu, beliaupun kemudian mengajak Nyai berdoa
dengan ucapan lemah lembut,

“Ya sudah, mari kita berdoa bersama, saya
yang berdoa, Nyai yang mengamininya.”

Tidak berapa lama kemudian, bikaromatillah wa
bijuudihi,
rezeki pun mengalir mencukupi segala kebutuhan rumah tangga yang
penuh berkah ini.

Pernah pula disaat menjelang lebaran, Nyai
sama sekali tidak memiliki uang sepeserpun untuk belanja menyambut Hari Raya
Idul Fitri. Namun, Nyai pun tidaklah mau mengungkapkan hal ini kepada sang
suami karena tak mau membebani pikirannya.

Hingga Kyai Mundzir menyadari hal tersebut. Dengan
penuh rasa tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga, menanyakannya langsung pada Nyai Zuhriyyah. Berkat usaha dan doa, tak berapa lama kemudian, rezeki pun
mengalir mencukupi segala kebutuhan belanja lebaran saat itu.

Cerita lain menyebut, pada suatu ketika, sarung
yang dimiliki oleh Kyai Mundzir telah habis dibagikan kepada para santri. Yang
tersisa tinggal hanya yang melekat di badan dan itupun sudah saatnya untuk
dicuci.

Beliau pun bertanya kepada Nyai, sekiranya Nyai memiliki pakaian yang bisa dijadikan sebagai ganti sarung untuk
sholat.

Namun ternyata, Nyai Zuhriyyah pun tak
memiliki apa yang dimaksudkan oleh beliau. Atas dawuh beliau, akhirnya sprei
tempat tidur yang digunakan oleh Nyai, digunting dan dibagi menjadi tiga,
untuk dijadikan sebagai sarung Kyai Mundzir.

Kisah-kisah di atas sungguh menunjukkan suatu
pernikahan yang ideal. Dengan dilandasi niat mulia untuk beribadah kepada Alloh
dan ketaqwaan, biduk rumah tangga itu dibangun dengan pilar-pilar saling
pengertian, mereka mengarungi kehidupan untuk berlabuh di pelabuhan yang hakiki: Ridho Alloh robbul ‘izzati.

Inilah sebuah contoh rumah tangga yang benar-benar dilandasi Ridho. Semata-mata mencontoh keteladanan rumah tangga Rasulullah.

Sebagaimana sebuah maqolah
mengatakan:

“Cinta itu, adalah dua jiwa dalam satu fikiran, dan dua hati dalam satu
tujuan.”