Bagian pertama bisa dibaca di sini.

Kala berada di Mekkah, Ahsan kembali berkumpul bersama
saudaranya, Asmawi—yang langsung gembira karena bisa berkumpul bersama
saudaranya. Keduanya pun bisa menuntut ilmu di Mekkah sekaligus menunaikan
ibadah haji bersama.

Namun hati kecil Asnawi mengatakan bahwa dirinya akan
kembali kalah dalam menerima ilmu pengetahuan dibanding Ahsan. Asmawi yang tiba
lebih dulu dan telah mengetahui seluk beluk Mekkah pun langsung mengajak Ahsan
untuk bertamu pada salah satu temannya yang bernama Abdul Qohar.

Setelah bertemu, ternyata Ahsan langsung diajak berkumpul
bersama para pemburu ilmu untuk ber-mujadalah (debat). Tentu saja semua
persoalan mujadalah dapat diselesaikan dengan baik oleh Ahsan. Semua lawan
debat mengakui kemampuan ilmu yang dimiliki Ahsan.

Di tengah perjalanan pulang, Ahsan bertanya pada Asmawi
kenapa dirinya diadu-debat. Untuk menutupi maksudnya yang sekali lagi ingin
menguji kemampuan Ahsan, Asmawi berkelit bahwa pertemuan itu hanyalah ajang
musyawarah semata.

Setelah melihat mujadalah sebelumnya, Asmawi semakin yakin
bahwa Ahsan memang punya kemampuan luar biasa. Namun perdebatan itu masih belum
cukup untuk membuktikan hal itu. Asmawi kembali mengajak Ahsan untuk
ber-mujadalah.

Kali ini, Asnawi diadu dengan seorang keturunan Magrabi yang
sudah bermukim di Mekkah selama 40 tahun dan dikenal sebagai seorang alim ulama
terkemuka di Mekkah. Ahsan yang memang tidak pernah berprasangka buruk pada siapapun,
terlebih kepada Asmawi yang notabene sepupunya sendiri, menurut saja ketika
dirinya diajak bertamu pada ulama tersebut.

Dan seperti sebelumnya, pertemuan itu kembali berlangsung
dengan mujadalah.

Pertemuan itu bermula di waktu pagi menjelang Salat Duha,
dan berlangsung berjam-jam hingga memasuki waktu Salat Duhur. Setelah salat,
mujadalah kembali berlanjut. Setiap pertanyaan yang dialamatkan pada Ahsan
secara bertubi-tubi dari ulama itu, dijawab dengan baik olehnya.

Dalam hatinya, ulama itu mengakui kecerdasan Ahsan. Di ujung
mujadalah, Ahsan mengajukan pertanyaan untuk dijawab oleh sang ulama lawan
debatnya. Namun, sang alim ulama tak mampu menjawabnya.

Dengan mata kagum ulama tersebut berkata, “Sungguh
engkau adalah pemuda yang benar-benar alim!”

Sadar dirinya selalu ditarik ke dalam mujadalah, Ahsan
kemudian meminta saudaranya itu untuk tidak lagi mempertemukannya dengan
orang-orang lagi jika tujuannya adalah mujadalah. Mengetahui kekecewaan saudara
sepupunya itu, Asmawi kemudian meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi
hal tersebut.

***

Selama di Mekkah, Ahsan sempat belajar pada beberapa syekh
terkemuka—disamping juga berguru pada beberapa orang ulama Indonesia yang bermukim
di Tanah Suci. Beberapa nama yang sempat jadi guru Asnawi di antaranya: KH.
Mohammad Nawawi bin Umar Banten, KH. Marzuki Mataram, KH. Mukri Sundah, Sayyid
Bakri bin Sayyid Mohammad Syatho Al-Misri, Habib Husain bin Muhammad bin Husain
Al-Habsyi, Syekh Sa`id Al-Yamani Mekkah, dan Habib Ali bin Ali Al-Habsyi.

Selama berguru hingga ke tanah suci, Ahsan juga memiliki
banyak sahabat. Selain saudara sepupunya sendiri, Asnawi, ia juga memiliki
teman-teman dekat yang kelak di masa depan menjadi tokoh terkemuka.

Diantaranya adalah KH. Hasyim Asy`ari Tebuireng Jombang, KH.
Nawawi Sidogiri Pasuruan, KH. Nahrowi Belindungan Bondowoso, KH. Abdul Aziz
Kebonsari Kulon Probolinggo, KH. Syamsul Arifien Sukorejo Situbondo, KH. Sholeh
Pesantren Banyuwangi, KH. Sa’id Poncogati Bondowoso, Kyai Abdur Rachman
Gedangan Sidoarjo, Kyai Dachlan Sukunsari Pasuruan, dan Habib Alwi Besuki.

Sepulangnya dari menimba ilmu di Tanah Suci, Ahsan kemudian
berganti nama Kyai Haji Mohammad Hasan. Ia kemudian menikah dengan putri KH.
Zainul Abidin yang bernama Nyai Ruwaidah. Sejak pernikahan inilah, KH. Mohammad
Hasan membantu mertuanya dalam membina pesantren.

Beliau mengembangkan sistem pendidikan pesantren salafiyah
(tradisional) dengan metode pembelajaran dan pendidikan klasikal.

***

Selama hidupnya, Kiai Hasan selalu memberikan contoh pada
orang di sekitarnya. Beliau selalu mengingatkan bahwa manusia hanyalah partikel
debu di alam semesta. Lantas, apa yang bisa dibanggakan dari mahkluk yang
begitu kecil di alam semesta milik Allah?

Apakah dengan sedikit keunggulan entah jabatan, kehormatan
dan harta, ada yang patut dibanggakan?

Dalam menggapai ridho Allah, beliau senantiasa zuhud dan
hidup sederhana. Tidak berlebihan, serta selalu menghindari sombongnya hati.
Beliau yang tidak diragukan lagi keunggulan ilmunya, bahkan tak pernah
merendahkan siapapun yang ada di depannya. Beliau juga senantiasa ramah bahkan
dengan orang yang tidak dikenalnya sekalipun.

Kiai Hasan juga dikenal sebagai salah satu Mursyid Thariqah
Tijaniyah, sebuah thariqah yang berasal dari daerah Tijani, Maroko. Sekalipun
thariqah ini sempat diperdebatkan oleh sebagian ulama dan habaib di Jawa Timur
karena keterkaitan sanadnya hanya melalui perjumpaan dengan Rasulullah Saw
melalui mimpi saja.*

Sementara Asnawi, sepupu sekaligus sahabat Ahsan—yang sudah
lebih dikenal sebagai Kiai Hasan—saat ini lebih dikenal sebagai KH. Rofii
Sentong.

*Setelah melalui
berbagai forum dan diskusi, Thariqat Tijaniah akhirnya disahkan sebagai salah
satu Thariqah yang diakui dan menjadi thariqah yang muktabar dan sah mempunyai
keterkaitan sanad yang bersambung sampai Rasulullah SAW. Saat ini Mursyid
Thariqah Tijaniyah diampu oleh KH Soleh Basalamah, Pengasuh Ponpes Darussalam, Jatibarang,
Brebes-Jawa Tengah.

Bersambung..