BACA KISAH SEBELUMNYADI SINI..

Kemudian pria tersebut melanjutkan ceritanya.

“Saya memiliki orang tua yang tidak sempurna. Bapak saya buta sedangkan Ibu saya pincang. Ketika keduanya masih hidup, selama 45 tahun lebih saya merawat kedua orang tua saya, baik memandikan sampai wudu. Saya juga yang menggendongnya, bahkan makan sehari harinya saya yang mencarikannya,”ujar pria tersebut.

“Saya juga memiliki usaha peternakan kambing, namun semuanya saya jual demi pengobatan orang tua. Namun nampaknya, Allah berkehendak lain. Ibu saya meninggal terlebih dahulu. Ketika menjelang ajalnya, ibu saya berdoa: Nak, tidak kurang-kurang kamu merawat Ibu. Ibu tidak bisa meninggalkan apapun. Ibu hanya bisa mendoakan, mudah-mudahan hidupmu nikmat, meskipun tidak banyak orang yang tahu,” sambung pria itu.

Tak berselang lama, setelah 40 hari ibunya meninggal, bapaknya juga menyusul dipanggil Yang Maha Kuasa. Sebelum meninggal, bapaknya juga sempat mendoakannya.

“Sudah cukup kau merawat dan mengabdi kepadaku. Mudah-mudahan kau di beri hidup lezat oleh Allah SWT tetapi tidak diketahui masyarakat,” ujar pria tersebut menirukan kata-kata bapaknya.

Setelah kedua orang tuanya meninggal, laki-laki tersebut terguncang pikirannya, seakan dunia ini menjadi sempit dan kehidupannya sama sekali tidak berguna karena tidak bisa merawat orang tuanya dengan baik.

“Hingga pada suatu hari, di waktu Ba’da Ashar menjelang maghrib saat saya berjalan ke tepi laut, ada sebuah dipan dan saya salat di situ. Setelah saya salat, tiba-tiba dipan tadi melayang dan langsung membawa saya menuju ke dasar laut, Kiai,” kata laki-laki itu.

Mendengar jawaban pria tersebut, Kiai Hasbullah kembali bertanya, “Lantas, selama berada di bawah sana, apa yang kau makan?”

Laki-laki tersebut terdiam cukup lama sampai akhirnya memberikan jawaban untuk Kiai Hasbullah.

“Kiai, tiap hari sebelum matahari terbenam, datanglah kelelawar ke hadapan saya mengeluarkan anggur, roti, dan keju dari duburnya. Sedangkan dari mulutnya mengeluarkan susu dan madu,” ujar pria misterius tersebut.

Mendengar perbincangan antara Kiai Hasbullah dengan orang tadi, H. Yasin dan H. Sholeh menangis tersedu-sedu sambil berangkulan. Sambil menangis, sang anak meminta maaf sambil menundukkan kepala di depan ayahnya.

Salah seorang tamu kemudian bertanya. “Kiai, siapa orang yang Kiai mintai tolong tadi, dan kemana perginya?”

“Itulah Nabiyullah Khidir ‘Alaihissalaam,” jawab Kiai Hasbullah.

Sontak H. Yasin, H. Sholeh dan seluruh tamu yang hadir kaget dan menyebut nama Allah hampir bersamaan.

Inilah kehebatan Kiai Hasbullah. Beliau diberi kelebihan untuk memberikan nasehat umat manusia dengan cara yang kadang tidak masuk akal.

***

Pernah suatu hari, masyarakat di sekitar Kedung Cowek terkena wabah penyakit mati mendadak. Saking anehnya, ketika salah seorang korban baru dimandikan, korban yang lain pun menyusul. Hal ini terjadi berkali-kali hingga korban yang meninggal jadi bertumpuk-tumpuk.

Melihat keanehan yang terjadi di sekitarnya, akhirnya Kiai Hasbullah mengajak delapan santrinya pergi tepat pada jam dua malam menuju ke ujung desa . Ketika tiba di lokasi itu, ternyata kedatangannya sudah ditunggu seseorang yang tingginya hampir mencapai tiga meter, memakai kopyah kuncir Turki, dan memegang pedang yang panjang

Dengan tenang, Kiai Hasbullah mengucapkan salam dan bertanya.

“Siapa sampeyan ini?”

“Sayalah yang menyebarkan penyakit di sini!” ujar makhluk tersebut.

“Saya tidak bisa menyembuhkan warga di sini. Kalau memang mereka ingin sembuh, harusnya kaulah yang meminta kepada Allah agar orang-orang di Kedung Cowek ini sehat kembali!” ujar makhluk itu lagi.

Mendengar hal tersebut, Kiai Hasbullah segera mendoakan warga Kedung Cowek, memohon ampunan pada Allah dan memberi lindungan kepada hambanya.

Yang membuat para santrinya bingung adalah, saat itu Kiai Hasbullah seperti sedang berbicara sendiri, kemudian berdoa. Mereka tak bisa melihat siapa yang diajak berbincang oleh Kiai Hasbullah kala itu. Tahu-tahu, mereka diajak kembali ke pondok, diminta doa bersama, dan keesokan harinya tak ada lagi korban yang berjatuhan.

BERSAMBUNG..