Bagian sebelumnya bisa kamu baca di sini.

Dua bulan kemudian dari rahim Dewi Sekardadu, lahir bayi laki-laki yang elok rupanya. Sesungguhnya Prabu Menak Sembuyu dan permaisurinya merasa senang dan bahagia melihat kehadiran cucunya yang montok dan rupawan itu. Bayi itu lain daripada yang lain. Dari wajahnya, sudah nampak aura bercahaya yang tak dimiliki bayi biasanya.

Namun, lain halnya dengan Patih Bajul Segara. Dibiarkannya bayi itu mendapat limpahan kasih sayang keluarganya selama empat puluh hari. Sesudah itu, ia hasut Prabu Menak Sembuyu. Ketika itu, wabah penyakit berjangkit kembali di Blambangan. Patih Bajul Sagara pun memanfaatkan momen itu untuk memfitnah bahwa cucunya sendirilah penyebab wabah merebak kembali.

“Bayi itu! Benar Gusti Prabu! Cepat atau lambat bayi itu akan menjadi bencana dikemudian hari. Menurut para dukun ternama di Blambangan, wabah ini berasal dari hawa panas yang memancar dari jiwa bayi itu!” ujar patih Bajul Segara.

Sang Prabu tidak cepat mengambil keputusan. Dalam hatinya, Sang Prabu benar-benar mencintai cucu semata wayangnya tersebut. Namun dengan hasutan yang dilakukan patihnya, Raja Blambangan pun terperdaya.

Walau demikian, sebagai raja yang bijak di hadapan rakyatnya, beliau tidak bisa mengeksekusi seorang bayi di masa pemerintahannya. Bayi yang masih berusia empat puluh hari tersebut kemudian dimasukkan kedalam peti dan diperintahkan untuk dibuang ke samudera.

***

Pada suatu malam, ada sebuah perahu dagang dari Gresik yang melintasi selat Bali. Ketika perahu itu berada ditengah-tengah selat Bali, tiba-tiba terjadi keanehan. Perahu itu tidak dapat bergerak alias diam di tengah lautan, maju tak bisa, mundur pun tak bisa.

Nahkoda kapal memerintahkan para awak untuk memeriksa penyebab kapal berhenti di tengah lautan.

“Mungkinkah kapal terbentur karang?” pikir nahkoda.

Setelah diperiksa, ternyata perahu mereka menabrak sebuah peti dengan ukiran mewah, menandakan bahwa peti tersebut berisi benda yang berharga. Nahkoda memerintahkan mengambil peti itu.

Ketika peti tersebut sudah dibawa ke dalam kapal, semua orang terkejut karena di dalamnya terdapat seorang bayi mungil. Nahkoda merasa gembira menyelamatkan jiwa si bayi mungil itu, tapi juga mengutuk orang yang tidak berprikemanusiaan yang tega membuangnya.

Nahkoda kemudian memerintahkan awak kapal untuk melanjutkan pelayaran ke pulau Bali. Tapi perahu tidak dapat bergerak maju. Ketika perahu diputar dan digerakkan ke arah Gresik, ternyata perahu itu dapat melaju dengan cepat.

Nahkoda tersebut akhirnya membawa bayi itu kepada sang pemilik kapal sekaligus saudagar, Nyai Ageng Pinatih.

“Peti inilah yang menyebabkan kami kembali ke Gresik dalam waktu secepat ini. Kami tak dapat meneruskan pelayaran ke Pulau Bali,” kata sang nahkoda.

“Bayi?” gumam Nyai Ageng Pinatih sembari mengangkat bayi itu dari dalam peti.

“Kami menemukannya di tengah samudera selat Bali,” jawab nahkoda.

Nyai Ageng Pinatih kemudian menjadikannya anak angkat karena memang sudah lama ia menginginkan seorang anak. Karena bayi ini ditemukan di tengah samudera, Nyai Ageng Pinatih kemudian memberinya nama Joko Samudro.

Sejak kecil, Joko Samudro sudah banyak diajari berbagai ilmu dari orang tua asuhnya. Joko Samudro perlahan tumbuh menjadi seorang anak yang bagus rupa dan budi pekerti. Ia juga memiliki kecerdasan di atas rata-rata.

Ketika berumur 11 tahun, Nyai Ageng Pinatih mengantarkan Joko Samudro berguru pada Raden Rahmat alias Sunan Ampel di Surabaya. Menurut beberapa sumber, di awal mula ia menuntut ilmu, di pagi hari ia pergi ke Surabaya, sorenya kembali ke Gresik. Sunan Ampel kemudian menyarankan agar anak itu mondok saja di pesantren Ampeldenta agar lebih konsentrasi mempelajari agama Islam.

Saran sang guru pun dituruti oleh Nyai Ageng Pinatih.

***

Pada suatu malam, seperti biasa, Sunan Ampel hendak mengambil air wudu guna melaksanakan Salat Tahajjud, mendoakan muridnya dan mendoakan umat agar selamat di dunia dan di akhirat. Sebelum berwudu, beliau menyempatkan diri melihat-lihat para santri yang tidur di asrama.

Ketika sedang berkeliling memeriksa santrinya, Sunan Ampel dikejutkan oleh salah satu fenomena tak biasa. Ada sinar terang memancar dari salah seorang santrinya. Selama beberapa saat beliau tertegun, sinar terang itu menyilaukan mata.

Untuk mengetahui siapakah murid yang wajahnya bersinar itu, Sunan ampel memberi ikatan pada sarung murid itu.

Esok harinya, sesudah Salat Subuh, Sunan Ampel memanggil murid-muridnya.

Siapakah diantara kalian yang waktu bangun tidur kain sarungnya ada ikatan?” tanya Sunan Ampel.

“Saya Kanjeng Sunan,” ujar Joko Samudro.

Dan suasana pun menjadi hening..

BERSAMBUNG