Bismillahirrahmanirrahim…

Tidak mudah bagi siapa saja menuliskan obituari untuk sosok se-tawadhu, semulia, sebesar, dan selegendaris Maimoen Zubair atau yang lebih akrab kita panggil dengan sebutan Mbah Moen. Guru dari kita semua, termasuk para kyai yang banyak kita kenal hari ini pun memosisikan sebagai santri dari beliau.

Seorang hamba, sekaligus kekasih Tuhan yang sanad keilmuannya merentang panjang hingga ke junjungan umat islam, Nabi Muhammad, manusia utama yang dijaga kemaksumannya oleh Tuhan dan mengajarkan kepada kita pentingnya menjadikan ilmu sebagai referensi perilaku.

Kebersahajaannya mudah kita pungut dari berbagai sumber walau namanya tidak semencorong dan banyak disebut seperti halnya para ustadz seleb yang dalam satu dasawarsa terakhir memasung indera pendengaran dan penglihatan kita sebagai “sumber kebenaran”.

Tetapi kemuliannya tak bisa disangkal lagi manakala Mbah Moen senantiasa membukakan pintu rumahnya untuk siapa saja yang berbeda mahzab dalam beragama, berbeda latar belakang politik, dan bahkan berbeda pemahaman dalam persoalan kebangsaan. Tidak heran kalau selama ini, orang seperti hendak selalu ingin berebut ngalap berkah kepada beliau.

Tidak dalam soal agama saja fatwanya selalu ditunggu, untuk beragam kepentingan politik hingga kepentingan korporat seperti pabrik semen pun, perkataanya selalu dipergunakan untuk mempengaruhi pembentukan opini publik.

Padahal fatwanya sangat jelas, pilihlah seorang pemimpin kalau pemimpin tersebut kita yakini membawa kebaikan. Dirikanlah pabrik kalau itu bakal memberikan manfaat lebih besar untuk penduduk. Implikasinya sebenarnya sangat jelas, jangan digunakan untuk membenturkan antara manfaat dan kerugian yang membuahkan konflik.

Mbah Moen memang pribadi multidimensi yang saat beragama selalu berusaha “manjing ajur ajér” dengan kecintaan pada tanah air. Pribadi yang sangat menjunjung pentingnya menjaga persatuan dalam kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara.

Pribadi yang tak henti mengajak kita untuk mengutamakan toleransi berdasar 4 pilar yang dalam ceramah kebangsaannya sering disebut PBNU: Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945.

Ya, bukanlah Mbah Moen kalau isi ceramahnya tidak mengesankan jauh lebih penting menjaga kerukunan daripada menonjolkan keislaman kita, kemayoritasan kita.

Dalam setiap ceramahnya, banyak terselip pesan agar umat selalu berusaha menjunjung tinggi akal sekaligus jiwa, agar mampu menempatkan kemanusiaan secara murwat sehingga kita tidak akan menjadi makhluk yang zalim.

Boleh saja kita menjadi mayoritas, tetapi jauh lebih penting menjadi umat yang menjadikan Islam sebagai ajaran yang penuh rahmat untuk semesta.

Ucapan-ucapan beliau semasa hidup bukanlah manis di bibir semata tapi miskin implementasi. Semasa Indonesia dicekam kasus “penistaan agama” yang membuahkan demo besar tahun 2016 silam, beliau menjadi satu dari sedikit ualama besar yang menyerukan untuk menyudahi “kesia-siaan”.

“Dia (Ahok) itu kan sudah meminta maaf, maka jangan dibesar-besarkan. Bila amarah dapat diredam, maka persatuan juga bisa dijaga”.

Bisa jadi itu berangkat dari mumpuninya pemahaman Mbah Moen sebagai orang yang mengerti betul bagaimana membaca peta perpolitikan tanah air.

Beliau paham sepenuhnya bagaimana situasi politik yang terlanjur keruh, lebih kental akan nuansa politik dibanding isu penistaan agama, dan betapa bahayanya para petualang politik dalam menumpangi kemarahan publik yang dapat berakibat buruk pada upayanya dalam mensponsori persatuan selama ini.

Seperti kita ketahui, tidak semua yang berkiprah menjadi politisi peduli pada pentingnya menjaga adab dalam berpolitik.
Kedekatan Mbah Moen dengan para politisi sedikit banyak memang disebabkan oleh pergaulannya yang luas sebagai politisi gaek yang merintis karirnya dari tingkat daerah.

Hal yang sedikit banyak turut membentuk cara pandangnya yang “sangat liberal”. Paham sepenuhnya pada esensi demokrasi dalam memberi ruang kebebebasan (yang bertanggung jawab) bagi siapa saja, tanpa terkecuali, untuk memilih berdasarkan preferensinya.

Itu dibuktikan dengan bagaimana Mbah Moen membebaskan Gus Yasin, untuk berada di kubu Jokowi. Sementara Gus Najih, putranya yang lain dibebaskan mendukung Prabowo. Fakta terang benderang tersebut menegaskan bahwa beliau sejak awal meyakini kalau sistem demokrasi kompatibel dengan Islam. Hal yang sering diragukan oleh orang yang berpikiran maju dan terjangkit islamophobia.

Sikap tersebut juga nyata terlihat saat insan politik menyambanginya. Saking tawadhu dan hormat kepada tamu, semua orang yang sowan ke beliau didoakan sesuai dengan keinginannya, walaupun tamu tersebut berbeda pilihan politik dengan beliau.

Ya, suara yang beliau tetapkan di pilpres tahun 2014 dan 2019 memang berbeda. Dan orang tetap tidak ragu untuk datang, sungkem, dan meminta restunya. Semua datang dengan keyakinan penuh bahwa Mbah Moen akan memberikan doa dan restu terbaiknya.

Secara filosofis, Mbah Moen tidak saja dipandang sebagai guru bangsa tetapi juga orang tua yang tidak akan pernah membeda-bedakan anak yang menghampiri untuk dipeluk.

Satu kali beliau mengatakan bahwa sebagai orang tua, beliau ingin anaknya mengikuti pilihannya. Tetapi kalau memang enggan mengikuti, ya sudah, yang penting kukuh pada prinsip sepanjang perbedaan yang ada tidak menyebabkan permusuhan dan perpecahan.

Puncak kerohaniawanan beliau sebagai seorang nasionalis tulen semakin terang menyala saat mengatakan bahwa siapa pun yang akan memimpin negeri ini sudah menjadi ketetapan Tuhan. Itu yang disebut qada.

Jadi kalau ada pihak yang masih menolak hasil pilpres putusan Mahkamah Konstitusi, sikap itu bisa disebut perbuatan haram. Setelahnya, suka tidak suka, sadar atau tidak gerakan untuk mengugat keputusan MK menjadi luruh dan hilang dengan sendirinya.

Salah satu “Permata dari Dunia Islam” tersebut, kini sudah mangkat mendahului kita yang selalu dicintainya dan dijaga dari perpecahan. Berbaring tenang di tanah yang begitu dicintainya dan istirahat selamanya saat menjalankan ibadah yang sangat dicintainya.

Seperti biasa, kita baru menyadari arti sebuah kehilangan dan mengingat pesan-pesannya setelah orang tersebut tiada.

Semoga kita ada waktu untuk mencintai negeri ini dengan segenap kebaikan yang ada, perbedaan yang tidak perlu dipermasalahkan, dan borok yang bisa diusahakan kesembuhannya.  Seperti yang selalu dikatakan dan diamalkan Mbah Moen, bahwa mencintai tanah air adalah sebagian dari iman.