Saya sudah ngerasa kalau BTS akan menjadi boyband yang tak akan biasa-biasa saja sejak tahun lalu. Situs musik Billboard gencar sekali memberitakan mereka. Mulai capaian single Mic Drop yang masuk Hot 100 sampai berita-berita countdown jelang rilis album Love Yourself.

Grafik raihan Bangtan Boys terus naik. Sampai-sampai mereka dinobatkan sebagai jawara Top Social Artist Billboard Awards. Itu daebak banget ya gaes..

Para cowok imut itu menggusur dominasi Justin Bieber yang telah memegang gelar tersebut dua tahun berturut-turut.

Makin wow karena tahun ini mereka kembali mendapatkan gelar itu. Bieber? Tampaknya sedang asyik menikmati peran baru sebagai bapak rumah tangga *huh *pensiunanbelieber…

Melihat Billboard yang memberikan perhatian besar pada rekan duet Steve Aoki di The Truth Untold itu, saya yang sudah mulai ng-Army mendapat penguatan jiwa untuk meningkatkan radikalisme dalam mencintai mereka. Grup tersebut pasti punya potensi buesar.

Terbukti. Kesuksesan tahun lalu mampu diipatgandakan. Tahun ini mereka kembali membuat catatan-catatan karir yang oh-so-awesome..

Tak hanya menjual puluhan ribu tiket di tur konser dunia Love Yourself, tidak pula hanya mencatat ratusan juta viewer video musiknya di YouTube. Kalau itu mah, grup-grup lain juga bisa.

Cuma BTS yang mencatat sejarah sebagai bintang K-pop pertama yang diundang PBB untuk ngasih speech dalam peluncuran program Generation Unlimited Unicef. Cuma BTS boyband Negeri Ginseng yang dipilih menjadi cover majalah Time karena menduduki posisi pertama daftar Next Generation Leader.

Wow.. Apa yang membuat para cowok Korea itu mampu mengubah arus tren yang umumnya datang dari Barat tapi berkat mereka kini justru sebaliknya, dari timur menginvasi barat?

Berdasar pengamatan plus belajar (ceilee belajar kok tentang boyband :D) dan melihat sejumlah review pengamat serta fan reaction, berikut beberapa kelebihan mereka jika dibandingkan dengan boyband sebelah *dilemparlighstickfandomtetangga.

Memberi Rasa Unik

Sepanjang 2017 hingga kini, musik hiphop dan EDM masih merajai. Untuk bertahan di chart Top 40, setidaknya ada unsur irama musik tersebut.

Nah, BTS punya genre yang memang sedang tren itu. Jadi, lebih mudah bagi mereka untuk diterima fans in all around the flat earth.

Bahasa Korea menjadi peluru tambahan untuk makin ngetop. Orang boleh merasa seksi ketika mampu berkata bon appetit dengan lafal “Mrancis”. Tapi, melantunkan seluruh lagu dengan bahasa Korea memberi keunikan sendiri.

Menyanyikan lagu hit berbahasa Inggris itu biasa. Menyanyikan lagu yang sedang tren dengan bahasa yang tak umum itu baru terasa sensasi baru. Meski sejatinya jago bahasa Korea tidak memberi banyak keuntungan. Sebab, hanya ada 73,6 juta orang yang menggunakannya. Yakni, penduduk Korea itu sendiri.

Namun, the power of K-pop mampu membuat orang berduyun-duyun belajar untuk mengetahui arti saranghaeyo, kamsahamnida, dan gengnya. Mungkin salah satu harapannya, ketika Jungkook bilang bogoshipda, kita bisa memahami dan membalas “ya Mas, aku pun…”

Lirik Kuat

Sebagai orang yang pernah menjadi VIP dan Blackjack, beralih status sebagai Army memberi kebanggaan tambahan. Ya, BigBang dan 2NE1 masih di hati. Tapi, lagu-lagu BTS ini memang luar biasa. Musiknya punya beat yang tak membosankan. Masing-masing punya kekuatan untuk jadi moodbooster.

Namun, yang lebih kece adalah liriknya. Lagu-lagu BTS tidak hanya curhat asmara generasi micin. Lagu mereka kaya kritik sosial dan itu konsisten dilakukan hingga kini.

Debut mereka pada 2013, No More Dream, misalnya. Bercerita tentang harapan kepada fans untuk berani mengikuti mimpi sendiri daripada menuruti harapan orang lain.

Lalu, ada Dope (2015). Di bagian setelah reff, leader grup itu, Rap Monster, menggambarkan keputusasaan terhadap ekonomi dan penyakit sosial.

Disebutkan ada tiga golongan anak muda Korea. Generasi sampo merujuk pada mereka yang menyerah untuk memiliki hubungan romantis, pernikahan, dan memiliki anak.

Lalu, ada generasi muda “ohpo” bagi mereka yang tak mampu mencapai pekerjaan yang baik serta membeli rumah, dan generasi yohpo untuk mereka yang tak mampu menjalani kehidupan bermasyarakat dengan baik.

Di album terbaru itu, ada pula hit Go Go yang mengkritisi materialisme yang menjangkiti anak muda saat ini. Keren kan, kan, kan…

Dikutip dari Billboard, Suga sebagai personel grup yang beranggota 7 orang itu menyebutkan, bukan album BTS jika tidak ada kritik sosial.

Menariknya, meski tema tergolong berat, mereka mampu mengemasnya menjadi lagu yang mudah diterima (terutama bagi Army sendiri, haha..).

Single Go Go dihadirkan dengan gaya parodi dan irama ceria. YOLO YOLO YOLO YO, menyia-nyiakan uang itu menyenangkan… begitu reff-nya. Jangan lupakan juga Love Yourself yang begitu hebat mengampenyakan pentingnya mencintai diri sendiri.

Pesan tersebut luar biasa karena mayoritas fans BTS adalah remaja. Tumbuh dewasa di masa kini tentu tak semudah era 1980-an. Korban bullying, baik yang langsung maupun cyber, tak sedikit.

Pendampingan parents memang penting. Namun, dukungan dan pesan positif yang disampaikan sang idola pasti memberi dampak positif yang signifikan.

Dekat dengan Fans

Bukan rahasia jika idola Korea sangat pelit membagi kehidupan di luar panggung atau kamera akting. Dulu itu merupakan daya tarik. Semakin eksklusif, semakin membuat fans penasaran.

Formula itu tak berlaku bagi BTS. Mereka justru menggunakan berbagai platform untuk mendekatkan diri kepada fans.

Mereka kerap membagi video behind the scene sampai rekaman kehidupan sehari-hari. BTS juga sangat menghargai fans. Dalam pidato di PBB, mereka menyebut fans sebagai faktor besar kesuksesan mereka. Para Army pun bungah. Mereka merasa terlibat menemani BTS.

Kesuksesan BTS terasa juga sebagai sukses Army. Para fans dengan setia meng-update berbagai hal tentang mereka.

Engagement kuat itu menjadi salah satu pengantar kebesaran BTS. Hal itu juga diwujudkan dalam film feature perdana mereka yang rilis bulan depan, Burn the Stage (BTS).

Tipikal Maskulin Masa Kini

Generasi 90-an ke bawah barangkali masih ingat salah satu doktrin cowok maskulin kayak apa. Lengan berotot, perut sixpack, dengan wajah berhias cambang. Namun, seiring waktu, sebagian cowok dengan tipikal ini ternyata memilih melabuhkan hati ke sesama mereka.

Nah, rupa-rupa soft sejenis para bintang K-pop seolah jadi harapan baru untuk melabuhkan hati. Kalaupun mereka susah dimiliki, setidaknya bisa menjadi teman untuk bertukar pinjam eyeliner dan highlighter.

Mereka Memang Bagus

Coba hitung jumlah boyband Korea. Mungkin kalkulator bisa error saking tak bisa menunjukkan jumlahnya. Umumnya, nama-nama besar dilahirkan dari tiga agensi ternama. Yakni, SM, YG, dan JYP Entertainment.

BTS ini anomali. Mereka diorbitkan BigHit Entertainment yang sebelumnya tak terlalu bertaji.

Kerja keras memang krusial bagi idola di Korea. Sebelum debut, para bintang harus menjalani training 5 tahun. Dengan tempaan itu, performa apik para idol terjaga stabil.

BTS berbeda. Tak hanya stabil, kemampuan setiap personel berhasil meningkat terus. Mulai tarian, kualitas vokal, gaya rap, hingga kemampuan menghibur.

Lihat saja wawancara mereka di sejumlah talk show top bersama Jimmy Kimmel, James Corden, Ellen DeGeneres, dan Graham Norton. Meski yang aktif menjawab cuma RM karena baru dia yang jago bahasa Inggris, tapi V, Jungkook, Jimin, Suga, Jin, dan J-Hope tetap mampu menjadi tamu yang atraktif. Tidak hanya menjadi tontonan visual.

Sungguh, kalau disuruh nulis soal BTS, saya nyaris tak bisa menghentikannya. Mestinya ini yang jadi tema skripsi dulu. Hihi..

Yang jelas, durasi umur boyband itu tidak lama. Apalagi, di Korea ada wamil yang berpotensi meredupkan sebuah grup.

Namun, rasanya masa keemasan BTS masih akan panjang. Apalagi jika mereka taat mengikuti lirik salah satu hitnya, Not Today. Akan ada hari di mana kita kalah, tapi tidak hari ini… Berharap BTS terus mengucapkan, maka tak akan ada hari ketika BTS kalah.