Kampus Unesa Lidah. Joglo Fakultas Bahasa dan Seni. Sekitar pukul sembilan malam. Hujan baru saja reda ketika saya tiba di lokasi, Senin (17/12). Genangan air terlihat di sana-sini.

Suasana kampus  yang terpencil dari riuh kota—diapit hutan, sawah, dan segala pernak-perniknya—mendadak sendu.

Suara dalang terdengar menggelegar. Bertenaga. Pertunjukan wayang baru saja dimulai. Ini bukan kali pertama pentas digelar. Kampus Unesa Lidah memang sering mengadakan wayangan.

Berteman dengan sepi, nyamuk, tanah basah, licin, semuanya bersekutu.

Mempersetankan penonton. Konsistensi pergelaran ini tidak butuh pengakuan dari pihak manapun. Melestarikan budaya dengan sikap cuek bebek. Kampus seni hanyalah sarana. Penggeraknya: dari dulu tetap dedengkot anak-anak Bahasa Jawa.

Bekerja dengan tulus, mempersiapkan pegelaran yang kadang hanya dilihat sedikit penonton—kebanyakan ya teman-temannya sendiri.

Penonton selanjutnya dihibur tembang “Jambu Alas” diiringi Campur Sari Sanggar Bharada sebagai pembuka. Pemainnya sudah sering mengisi acara campur sari di TVRI Jawa Timur.

Meski terbilang sepi peminat, panitia acara tetap menyediakan air mineral, cemilan, dan kopi. Cocok untuk menghalau kantuk. Terop juga disiapkan jika sewaktu-waktu hujan turun.

Satu pentas wayang ‘kan biasanya menghabiskan waktu sekitar empat jam. Apalagi sebelum pentas juga pakai jarik. Jadi ini menyulitkan buat pipis atau eek. Tapi biasanya sih saya puas-puasin pipis atau eek dulu sebelum pentas,” ujarnya.

Suasana mendadak gelap kembali. Sorot lampu dari proyektor menghantam kelir. Gunungan ditancapkan gedebog pisang.

Dalang Cilik, Ki Dhaneswara, memulai lakon dengan Wayang Naga Pradana—raksasa pemimpin siluman dan para hantu. Mengisahkan lamaran pada Bethari Supraba yang cantik jelita.

Wayang seperti pocong hingga kuntilanak turut meramaikan kelir (kain wayang). Mereka datang dengan tingkah pola konyol. Seperti menirukan suara Rasenggan Naruto dan.. hei Tayo hei Tayo..

Pertunjukan itu menampilkan dalang lintas generasi. Mulai yang imut sampai sepuh. Termasuk Ki Endar Fajar, dalang belia yang masih berusia sekitar 20 tahun. Setiap dalang bergantian naik ke panggung memainkan adegan.

Membuktikan wayang adalah milik semuanya. Tua, muda, tidak ada bedanya.

Penampilan mereka total, seolah sedang mengamuk. Wayang di tangan terlempar entah kemana. Ia pun berdiri dan memukul kelir sambil berteriak.

Penonton melongo bagai kesirep.  

***

Keesokan harinya saya menemui Ki Endar Fajar selaku dalang. Tidak ada yang lebih menarik untuk dibahas dari newbie di dunia pewayangan ini selain kemampuannya mendalang.

Di saat kebudayaan sudah mulai ditinggalkan, Ki Endar tetap menter menjadikan wayang sebagai bagian dari hidup.

Dari Ki Endar saya menyadari kalau akar kebudayaan adalah rasa cinta dan rasa memiliki itu sendiri.

Ki Endar mengaku sudah mencintai wayang sejak kelas 3 SMP. Selanjutnya, ia mengambil jurusan Seni Pedalangan di SMKI Surakarta.

“Orangtua saya bukan seniman. Namun, ada saudara yang memang dalang. Bahkan di rumahnya ada seperangkat gamelan yang biasa dipakai oleh ibu-ibu tetangga rumah,” tambahnya.

Selain menjadi dalang, Ki Endar tercatat sebagai mahasiswa aktif jurusan Bahasa Jawa Unesa. Ia beranggapan bahwa menjadi dalang adalah kepuasan batin dan hobi. Bukan untuk sarana mencari uang.

“Awalnya saya mau ke ISI. Namun takut jadi sarjana seni susah mencari pekerjaan. Makanya saya ambil sarjana pendidikan. Saya mau mengajar, mengabdi jadi guru.”

Ia pun berkisah bagaimana suka duka menjadi dalang. Mulai dari pengorbanan waktu juga tenaga guna latihan. Begadang tidak tidur untuk pentas. Bahkan sampai menghindari berbagai pantangan.

“Kalau mau pentas saya usahakan tidak makan gorengan dan es, biar suara terjaga dan tidak kacau. Siang harinya juga saya berusaha tidur, biar malam ndak ngantuk.”

Selama di panggung, Ki Endar Fajar kadang geringgingen, kesemutan jika duduk terlalu lama. Karena itu saat sinden menyanyi, ia bisa menyelonjorkan kaki. Trik dalang pemula. Tapi toh semuanya bisa diatasi kalau sudah terbiasa.

“Satu pentas wayang ‘kan biasanya menghabiskan waktu sekitar empat jam. Apalagi sebelum pentas juga pakai jarik. Jadi ini menyulitkan buat pipis atau eek. Tapi biasanya sih saya puas-puasin pipis atau eek dulu sebelum pentas,” ujarnya.

Saya lantas bertanya bagaimana pendapatnya tentang regenerasi dalang muda masa kini.

“Cukup bagus. Sudah ada festival dalang muda diadakan tiap tahun di Taman Budaya. Namun, ya dalang muda sering kali belum dipercaya masyarakat dan dianggap sebagai hiburan. Belum seperti dalang kondang yang sudah sepuh. Sering ditanggap di mana-mana.”

Dalam upaya menaklukkan gigs di skena perdalangan, Ki Endar mengaku belum pernah ikut festival atau lomba dalang. Hanya bermain lokalan—di gigs wayang seputaran kampus dan sekitarnya.

Untuk menaklukkannya, tentu perlu usaha lebih keras. Apalagi selama manggung banyak hal tak terduga. Seperti lupa menancapkan wayang yang harusnya show off pada lakon malam itu. Tapi itu semua bisa diakali dengan narasi saja.

Dunia perdalangan tidak mungkin dipelajari dengan ototidak. Harus ada guru yang membimbing, harus ada influence, patokan. Ki Endar mengaku berguru pada beberapa dalang, demi mengasah pewayangannya.

Kecintaan pada wayang tidak hanya ditunjukkan Endar pada pentas saja. Tapi juga dalam perkara mengoleksi wayang.

“Ada dua puluh buah. Saya belum punya kotaknya, masih menyicil sedikit-sedikit.”

Dan dari seluruh wayang yang ia koleksi. Ki Endar Fajar memfavoritkan Kresna.

“Saya suka Kresna. Ia cerdas. Apalagi dari sekian wayang. Wayang Kresna yang paling mahal. Karena proses kulit yang ditatah, pengecatan sampai gapit wayang dikerjakan pengrajin terbaik,” ujarnya.       

Saat pulang ke rumah saya termenung mengingat percakapan kami tadi. Saya menaruh tas dan mencari remote TV. Berharap ada salah satu saluran TV yang menayangkan pentas wayang dini hari.

Dan saya akan headbanging saat perang antar wayang dimulai.