Memanusiakan Manusia. Begitulah salah satu kredo tentang sastra yang kerap digaungkan. Sastra dianggap salah satu upaya manusia mencari hiburan serta tuntunan bagaimana menjalani hidup. Di tengah aktivitas yang menjemukan, sastra menjadi pelengkap bagi jiwa dan pikiran manusia.
Dalam terciptanya sebuah karya sastra, selalu ada tangan dingin sastrawan. Tak terkecuali peran sastrawan perempuan dalam menulis pesan tentang apa dipikirkan dan dirasakannya. Kamu selanjutnya bisa memaknai kandungan karya tersebut, dengan perspektif baru.
Perspektif perempuan, tentu saja. Apa yang dilihat perempuan, sisi feminisme dari belenggu kultur patriarki yang masih belum bisa dilepas.
Jawa Timur nyatanya punya beberapa sastrawan perempuan yang punya taji hingga membawa perubahan, baik dalam karya dan tindakan sosial. Karyanya tak melulu membahas soal perempuan, tapi  isu terkini dan sejarah yang terlupa. 
Kamu yang kebetulan arek-arek Jatim, minimal bangga lah. 
Karya mereka ini sudah dibaca secara luas oleh pembaca, tak hanya lokal, bahkan sampai nasional. Berikut beberapa di antaranya.
Sirikit Syah

Dosen salah satu universitas di Surabaya ini selain menjadi penulis juga menjadi wartawan. Ia mendirikan sekolah menulis Sirikit School of Writing yang memberi kesempatan bagi mereka yang gemar menulis untuk jadi penulis profesional. 
Dalam setiap karyanya, Sirikit selalu menulis tentang isu perempuan serta sosial yang hangat dan penting dibicarakan.  
Cerpennya dimuat koran lokal dan nasional seperti Surabaya Post, Jawa Pos, Kompas & Surya. Buku kumpulan cerpennya di antaranya Harga Perempuan (1997) dan Sensasi Selebrti (2007). Selain itu, cerpennya juga terbit dalam antologi bersama, seperti Limau Walikota: Kumpulan Cerita Pendek Surabaya Post (1993) dan Bermula dari Tambi (1991). 

Lan Fang

Lan Fang adalah salah satu penulis perempuan yang mengangkat tentang etnis Tionghoa dalam setiap cerita karangannya. Ia semula aktif menulis sebagai penyaluran hobi. Selanjutnya, ia menjadikan menulis sebagai pendapatan untuk hidup layak. 
Lan Fang telah tiada. Tapi setiap tahun, para sastrawan di Surabaya berkumpul untuk mengenang sosoknya. 
Karya-karyanya terbit dalaam surat kabar Jawa Pos, Kompas, Suara Merdeka, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Majalah Remaja Anita, Majalah Wanita Nova dan Femina.
Kumpulan cerpen miliknya berjudul Yang Liu (2006). Laki-Laki yang Salah (2006), Kunang-Kunang di Mata Indri (2005) dan Kota Tanpa Kelamin (2007). Novelnya berjudul Reinkarnasi (2004), Pai Yin (2004), Jangan Main-Main dengan Perempuan (2004), Kembang Gunung Purei (2005), Perempuan Kembang Jepun (2006), Lelakon (2007) dan Ciuman di Bawah Hujan (2010).
Wina Bojonegoro

Sesuai namanya, perempuan ini berasal Bojonegoro. Selain menjadi penulis, Wina juga sempat bekerja sebagai pegawai Telkom. Ia lantas mendirikan usaha travel karena sesuai dengan minatnya, berjalan-jalan ke destinasi pariwisata. 
Selain jalan-jalan, Wina juga aktif berkarya. Beberapa cerpennya terbit di surat kabar Surabaya Post, Media Indonesia, Jawa Pos, Kompas dan Majalah Pertiwi. Sementara itu kumpulan cerpennya di antaranya: Episode Surat Kejantanan (2005). Novelnya, The Souls of Moonlight Sonata (2011) dan The Souls Fantasia (2013).
Muna Masyari

Tidak ada yang menyangka bahwa Pulau Garam, selain melahirkan penyair sekelas Zawawi Imron, ternyata menyimpan penulis andal Muna Masyari–seorangmibu rumah tangga dan penjahit. 
Meski tak sempat mengenyam pendidikan SMA, karya Muna mampu jadi Cerpen Terbaik Kompas 2017. Dalam setiap karyanya ada nafas perempuan yang menjadi fokus serta budaya Madura.
Karyanya tersebar di berbagai surat kabar. Di antaranya Jawa Pos, Kompas, Tempo, Kedaulatan Rakyat, Tribun Jabar, Radar Surabaya, Media Indonesia, Republika dan Suara Merdeka. Buku kumpulan ceritanya, Martabat Kematian (2019).

Amanatia Junda

Selain menulis cerpen, perempuan kelahiran Malang ini bekerja sebagai redaktur di Penerbit Buku Mojok. Ia juga menulis esai di Mojok.co. Beberapa karyanya berupa novelet, naskah teater dan cerpennya memenangi sayembara. 
Buku kumpulan ceritanya yang baru-baru ini ramai jadi pembicaraan: Waktu Untuk Tidak Menikah (2018).
Intan Andaru

Meskipun sehari-hari berprofesi sebagai dokter, Intan tak lupa menulis cerpen dan beberapa novel. Sempat menjadi dokter bagi korban bencana di Donggala, Sulawesi Tengah dan pergi ke Papua sebagai relawan tenaga medis. 
Dalam karyanya, ada pembahasan soal perempuan, lokalitas dan tema kesehatan. Pada tahun 2018 menerima Hibah Perempuan Pekerja Seni Cipta Media Ekspresi. 
Novel karyanya di antaranya, Namamu dalam Doaku (2015), Teman Hidup (2017), 33 Senja di Halmahera (2017), Kami yang Tersesat pada Seribu Pulau (2018) dan Perempuan Bersampur Merah (2019).
Semua sastrawan di atas mewakili suara kaum perempuan, sesuai dengan zaman juga kebutuhannya. Dengan membaca dan mengenal karya mereka, kamu bisa lebih memahami bagaimana perjuangan perempuan dalam menggapai haknya. 
So, Happy International Woman’s Day!

Foto: Tandapetikbooks & Amanatia